Menghadapi sisi-sisi gelap dalam diri sendiri merupakan sumber dari segala pergumulan hidup manusia. Filsuf Rusia Feodor Dostoevski pernah mengatakan bahwa "di tengah kedalaman lubuk hati manusia, ada sesuatu yang manusia sembunyikan dan tidak mampu singkapkan kecuali kepada sahabatnya. Itupun dilakukan secara sembunyi. Disamping itu manusia masih mempunyai berbagai rahasia lain, yang kepada sahabatnyapun ia tidak berani ceritakan, yaitu rahasia yang ia hanya dapat singkapkan kepada dirinya sendiri. Lebih mengherankan lagi, manusia masih dapat menyimpan rahasia-rahasia lain, yang ia tidak mampu singkapkan bahkan kepada dirinya sendiri." Itulah sisi gelap yaitu hal buruk yang mungkin sangat memalukan dan menjijikkan sehingga manusia yang berhati-nurani takut untuk menghadapi dan memikirkannya sendiri. Paul Tournier dalam bukunya "Reflections" mengatakan bahwa memasuki daerah sisi gelap tersebut, manusia tidak dapat lagi dibedakan dari binatang. Tingkah laku dan perasaannya digerakkan oleh instingnya sehingga akal dan pertimbangan pikiran yang sudah dibekali dengan berbagai pengetahuan akan kebenaranpun tidak berdaya lagi. Setiap kali muncul, ia menuntut pemuasan yang akan disesali kemudian.
Kasus: A adalah seorang Kristen yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan rohani. Sebagai seorang majelis gereja, A seringkali memimpin pemahaman Alkitab dan menangani berbagai masalah konseling. Tidak heran jikalau A dikenal sebagai tokoh Kristen dan berbagai jabatan dipegangnya.
Hari ini istri A bertemu dengan anda. Mula-mula ia mengeluh tentang anaknya yang kedua, yang terjerat narkoba dan sudah dua hari tidak pulang ke rumah. Ia juga menceritakan dengan bercucuran air mata tentang sifat suaminya yang pemberang dan abusive (memukul). Ia menunjukkan bekas-bekas luka di tangannya dan memar-memar di punggung dan dadanya.
Ia mengakui bahwa A sebenarnya seorang suami yang baik, tetapi pemarah dan sulit memaafkan kesalahan orang lain. Kalau harga dirinya tersinggung, ia bisa dengan segera mata gelap, dari mulutnya akan keluar kata-kata kotor, sumpah-serapah dan ia bisa melakukan apa saja. Pisau, gunting, sapu, kursi apa saja bisa dipakai untuk melampiaskan kemarahannya. Memang kemudian ia akan menyesal, tetapi ini terus terulang-ulang sehingga seluruh keluarga menjadi korban, termasuk anaknya yang terjerat narkoba, tidak lagi tahan tinggal di rumah.
Menghadapi kasus di atas beberapa prinsip konseling di bawah ini Anda pakai.
1 Boleh marah tetapi tidak berbuat dosa (Ef.4:26)
Munculnya perasaan marah merupakan bagian integral dari jiwa manusia. Bahkan Alkitab menyaksikan bahwa Allahpun pada saat-saat tertentu marah, meskipun kemarahan Allah adalah kemarahan atas dosa. Alkitab menyaksikan bahwa reaksi Allah yang suci atas dosa dan kecemaran adalah "kemarahan." Ada 375 kali di Perjanjian Lama dan 80 kali di Perjanjian Baru dicatat tentang kemarahan Allah. Alkitab juga mencatat bahwa Tuhan Yesus dan rasul-rasulpun berulang kali marah. Bahkan yang lebih mengherankan adalah bahwa ekspresi kemarahan yang suci itu bisa "menjadi batu sandungan" di mata manusia. Oleh sebab itu, meskipun setiap kata yang dipakai bukan merupakan manifestasi dari dosa, Yohanes 6:60-66 menyaksikan bahwa banyak murid yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia Marah dan tidak berbuat dosa seringkali menjadi masalah yang sangat kompleks. Meskipun jelas bahwa kemarahan Allah dan Tuhan Yesus tak dapat dibandingkan dengan kemarahan manusia yang selalu tercemari oleh dosa, tetapi batasan manifestasi kemarahan merupakan hal yang sulit sekali digariskan. Jikalau Allah dalam kemarahanNya bisa membunuh, maka manusia dengan alasan apapun juga tidak berhak melampiaskan "spirit membunuh" meskipun hanya dengan kata-kata. Tuhan Yesus menegaskan bahwa "spirit membunuh" telah melibatkan manusia dalam dosa yang mematikan (ayat 21-22). Berarti, meskipun kemarahan adalah bagian integral hidup manusia, tidak ada seorang manusiapun yang berhak melampiaskan kemarahan dalam bentuk apapun juga atas dorongan dosanya. Dengan demikian, kasus A bukan hanya "kepribadian abusive" tetapi juga kasus "perkanjangan dalam dosa" oleh karena "buruknya hubungan dengan Allah." Keduanya harus diselesaikan.
2 Jangan percaya kata-kata penyesalannya karena kemarahan yang tak terkendali bukan masalah rasional yang disadari.
Untuk pengalaman pertama dengan sifat suami yang abusive, istri A mengatakan, "saya shock sekali. Saya tidak pernah mengenal sisi A yang ini. Saya merasa tidak berarti, tetapi beberapa hari kemudian saya sudah menemukan A sebagai suami yang hangat, yang penuh kasih, yang suka memberi surprise, dan romantis. Memang untuk pemukulan yang pertama itu ia tidak minta maaf, tetapi seluruh tindakan dan sikapnya sudah menyatakan itu. Jadi saya merasa lega. Namun tiga minggu kemudian ia begitu lagi. Untuk hal yang kecil (saya lupa mengembalikan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan gereja) ia begitu marah dan memukul dan membenturkan kepala saya ke tembok. Akibatnya mulut dan hidung saya bocor dan kepala saya benjol. Nah untuk yang ini A sampai menangis dan meminta maaf berulang kali. Ia menyesal dan bersumpah tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Memang luka hati saya saat itu cukup dalam sehingga memakan waktu lebih lama untuk sembuh. Kemudian hubungan kami membaik lagi, dan saya yakin Tuhan sudah menolong. Kami sering berdoa dan melakukan saat teduh bersama seluruh keluarga. Indah sekali, tetapi dua hari yang lalu A melakukannya lagi. Bahkan di tengah kemarahannya ia mengatakan bahwa dia menyesal menikah dengan saya. Saya betul-betul putus asa dan kecewa. Meskipun kali ini A sampai berlutut di kaki saya dan bersumpah di hadapan Tuhan, rasanya sulit sekali saya memaafkan dia." Pola seperti di atas memang merupakan pola yang seringkali ditemukan dalam hidup pasangan dengan masalah "sisi-sisi gelap (unconsciousness)" seperti A yang abusive. Munculnya dorongan yang tak terkendali untuk mengatakan atau melakukan hal-hal yang jahat merupakan hal yang muncul sebagai insting sehingga alasan dan tujuannya tidak rasional. oleh sebab itu "anda sulit percaya pada kata-kata dan janjinya," kecuali ia menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki kelakuannya, yaitu: (a) ia mau ditolong melalui pelayanan psikoterapi yang benar-benar profesional, dan (b) ia bertekad mengubah pola dan sistem kehidupannya. Biasanya, tekad untuk memperbaharui kehidupan hanya ada pada saat seorang sudah terpaksa dan tak mempunyai pemilihan yang lain lagi.
3 Menolong A menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Sebagai teman (konselor awam) anda dapat menolong A menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Itu dapat dilakukan melalui:
◦ Alasan dari penyesalannya. Mungkin A mangakui bahwa ia telah marah dengan kemarahan yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan, tetapi apa sebenarnya alasan di belakang pengakuan tersebut? Apakah A benar-benar menyesali kesalahannya dan melihat bahwa kesalahan tersebut adalah dosa yang sangat menyedihkan, atau A menyesal karena "akibat yang harus ia tanggung?" Yang kedua merupakan gejala dari masalah yang serius dari kepribadian A, dan anda harus merefer A kepada seorang Psikoterapist.
◦ Tujuan dari kemarahannya. Setiap kemarahan mempunyai tujuan yang khusus, dan itu bisa disadari bisa pula tidak disadari. Anda perlu menolong A menemukan dan menyadari sendiri apa sebenarnya tujuan dari kemarahannya. Apakah ia marah oleh karena dan stimulan dari luar dirinya (mempunyai precipitating factors), atau ia seringkali berada dalam mood siap untuk marah (mempunyai predisposing factors). Meskipun yang pertama bisa juga tidak beralasan yang mendasar (mis: A marah bukan oleh karena prinsip kebenaran yang ia pegang), tetapi biasanya yang kedua lebih serius dan membutuhkan penanganan seorang profesional.
◦ Sarana dan cara untuk melampiaskan kemarahannya. Memang di dalam kasus di atas ada gejala A memakai sarana dan cara pelampiasan kemarahan yang tidak sehat. Meskipun demikian anda masih perlu menolong A menyadari mengapa atau kapan ia memakai cara dan sarana tersebut. Apakah A memukul oleh karena cara-cara lain yang ia pakai tidak mempan (berarti A sudah memakai cara dan sarana yang lain sebelum kemarahannya memuncak dan meledak/escalated dan exploded), atau "memukul" merupakan suatu kebiasaan setiap kali ia marah. Keduanya memang tidak baik, tetapi yang pertama bisa diatasi dengan kerja-sama dengan istri A (mis: belajar untuk tidak meresponi kemarahan A dengan sikap dan kata-kata yang lebih menstimulir kemarahan) dan yang kedua memerlukan bantuan seorang konselor yang profesional.
4 Menyusun strategi kehidupan yang lebih baik.
Meskipun mungkin penanganan kasus A ada dalam tanggung-jawab konselor yang profesional, peran anda sebagai teman dan konselor awam tidak kecil. Hal itu nampak:
◦ Kalau anda bisa membina rapport atau hubungan yang baik dengan A. Hubungan yang baik yang dijiwai oleh acceptance atau kemampuan menerima A sebagaimana adanya akan mencipta openness/keterbukaan; dan openness tersebut akan menjadi semakin mendalam jikalau anda dapat menjadi listener atau pendengar yang baik. Ajaib bahwa melalui peran ini saja, A akan menemukan dirinya, kerapukannya dan bahkan kemungkinan jalan keluarnya.
◦ Kalau anda bisa menolong istri A menjadi teman bicara yang baik bagi suaminya. Memang aneh bahwa kebiasaan abusive seringkali hanya dilampiaskan kepada orang-orang yang terdekat. Jiwa pseudo masculinity/kejantanan semu ini adalah jiwa pengecut dari pribadi yang tidak berani menghadapi realita dan pertanggung-jawaban hidupnya. Sehingga kemarahan terhadap ketidak-mampuannya sendiri ditransfer kepada orang-orang yang terdekat yaitu istri dan atau anak-anaknya. Menghadapi perlakuan yang tidak fair ini memang sulit. Secara natural istri A akan melawan atau membela diri (kecuali dia sendiri terjebak dalam pola masochism) dan ini justru akan semakin menumbuh suburkan dorongan abusive dari suaminya. Oleh sebab itu, di samping bantuan dari seorang profesional, istri A perlu ditolong untuk keluar dari sistem yang buruk itu. Ia harus menemukan strategi untuk tidak ikut menstimulir dorongan abusive dari suaminya. Suasana rumah tangga yang nyaman biasanya akan mengurangi dorongan-dorongan negatif tersebut, begitu juga "cara berkomunikasi" yang menyejukkan. Jangan kecil hati, cobalah tips di atas dengan spirit ketergantungan pada belas kasihan dan pertolongan Tuhan
08 January 2008
Tips: Sikap Terhadap Kemarahan
Posted by
tikituka
at
11:55 PM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Tips Liburan
Menjelang akhir tahun, banyak orang meluangkan waktu untuk berlibur. Bagi mereka yang telah memiliki keluarga, ini menjadi alasan yang baik untuk berlibur karena anak-anak juga sedang liburan sekolah. Namun, kalaupun tidak ada alasan menemani anak- anak berlibur, sebenarnya setiap orang membutuhkan waktu untuk berlibur, khususnya setelah sepanjang tahun ini dihabiskan hanya untuk bekerja atau melayani (jika anda adalah hamba Tuhan full-time atau pekerja sosial). Waktu libur dapat menjadi waktu "break" untuk melemaskan kembali otot-otot yang kaku karena terlalu tegang dan menyegarkan kembali semangat yang mungkin mulai pudar karena kecapaian. Nah, berikut ini adalah beberapa tips sederhana bagaimana anda bisa memanfaatkan waktu libur dengan baik:
TIPS UNTUK HARI LIBUR
Jika anda akhir-akhir ini sering mengeluh capai dan semangat anda dalam bekerja menurun, apalagi selama setahun ini anda bekerja secara non-stop, maka mungkin sekarang ini saatnya anda perlu berhenti sejenak dan luangkan waktu untuk berlibur.
1. Tinggalkan semua kertas pekerjaan/bisnis anda di kantor, jangan biarkan urusan pekerjaan/kantor mengganggu liburan anda.
2. Apabila ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan/dikerjakan sebelum berangkat berlibur, luangkan waktu satu hari sebelum berlibur untuk diselesaikan supaya pikiran anda tidak diganggu dengan urusan-urusan tsb.
3. Kalau anda memiliki anak-anak yang masih di bawah umur, sebagai selingan, aturlah mereka agar bisa ditinggalkan pada keluarga anda (orang tua/kakak/adik) atau teman dekat.
4. Kalau anda tidak sedang dikejar dengan jadwal acara yang harus diikuti, usahakan jangan berlibur dengan ikut tour perjalanan.
5. Jika anda tidak suka berlibur dengan mengunjungi tempat-tempat berlibur, cobalah gunakan waktu berlibur anda untuk mempelajari suatu keahlian baru/menambah keahlian yang sudah ada anda miliki. Ini bukan saja menyenangkan tetapi juga sungguh bermanfaat.
6. Apabila anda merasa hidup anda tertekan selama jangka waktu yang sudah cukup lama, berliburlah sekurang-kurangnya 2 minggu.
7. Pulanglah sehari sebelum liburan anda habis supaya anda dapat menyesuaikan diri dan kembali ke kehidupan normal lagi.
Selamat berlibur!!
Posted by
tikituka
at
11:54 PM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Penyesalan: Menolong atau Menghambat?
Coba perhatikan pernyataan yang tidak umum ini: Penyesalan tidak seluruhnya buruk.
Pada zaman kita ini ketika orang didorong untuk merasa senang, tidak peduli apa pun yang terjadi, penyesalan dipandang sebagai satu emosi yang negatif, satu halangan bagi mental yang sehat, satu beban yang harus dibuang.
Susahnya adalah penyesalan merupakan akibat perbuatan yang salah. Demikianlah Allah menciptakan kita. Saya ingat beberapa waktu yang lalu ketika mengucapkan kata-kata tajam dalam satu percakapan-- pilihan kata-kata itu baik sekali, tetapi mengandung sengat. Perkataan itu melukai hati orang lain dan saya menyesal telah mengatakannya. Seharusnya saya tidak berkata sepedas itu dan bersikap lebih baik lagi.
Penyesalanlah yang mendorong saya untuk meminta maaf pada orang yang terluka hatinya. Penyesalanlah yang mendorong saya untuk mengakuinya kepada Tuhan. Penyesalan yang mendorong saya untuk menjaga lidah ini dengan lebih seksama pada masa yang akan datang.
Jikalau saya menolak untuk menghadapi rasa penyesalan, maka saya tidak dapat hidup terus sebagai orang Kristen.
Dalam sebuah buku yang berjudul, "Another Chance: How God Overrides Our Big Mistakes", saya menguraikan secara ringkas empat tahap dalam menghadapi dosa:
1 Pertama-tama kepercayaan diri timbul kembali, dengan pengertian Allah dapat melakukan sesuatu dalam keadaan yang buruk ini.
2 Kemudian timbul keinginan untuk menghadapi kesalahan itu. Apa yang terjadi tidak dapat dilupakan, disembunyikan dalam tumpukan kayu, atau di bawah karpet ataupun di tempat lainnya. Kita tetap bertanggung jawab.
3 Berikutnya, tibalah saatnya untuk mengaku -- mengutarakan kesalahan itu. Biasanya kita enggan untuk membicarakan dan melakukan hal ini. Tetapi kita harus berbuat demikian. Kita harus mengatakan hal yang sama yang Tuhan katakan -- bahwa hal yang terjadi itu melanggar perintah-Nya.
4 Akhirnya, kita dapat bergerak maju kepada hal-hal yang baru, harga diri yang diperbaharui, masa depan yang terbuka. Kita bisa tersenyum lagi sebab kita telah diampuni dan diperbaharui oleh Dia yang kasih setia-Nya itu untuk selama-lamanya.
Penyesalan adalah kekuatan pendorong, yang mendesak kita untuk masuk ke tahap yang kedua. Ini merupakan satu bagian yang penting dalam proses ini.
Akan tetapi, kita tidak boleh berhenti pada tahap kedua ini. Beberapa orang Kristen mengalami kesulitan untuk maju ke tahap yang berikutnya. Berulang-ulang mereka membangkitkan kembali dosa-dosa masa lalu, membesarkan, dan memutarbalikkan ceritanya. Allah tidak bermaksud demikian.
Setelah kita menyelesaikan tahap pengakuan ini, "sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus," (Roma 8:1), karena "Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu." Penulis yang sama, Paulus, menulis kepada jemaat di Galatia, "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan" (Galatia 5:1).
Paulus menuliskan hal-hal di atas dari pengalaman pribadinya tentang penyesalan. Masa lalu Paulus mungkin akan membuat seorang ahli penyakit jiwa sibuk selama bertahun-tahun. Sewaktu-waktu Paulus dapat menutup matanya dan melihat dirinya sedang menjaga setumpukan jubah, sedangkan hanya beberapa meter saja dari tempatnya ia melihat Stefanus sedang dilempari dengan batu. Malah ia bisa mengingat sejumlah penggerebekan pada tengah malam terhadap keluarga-keluarga Kristen - mendobrak pintu, menyentak para suami, istri dan anak-anak dari tempat tidur mereka, dan menggiring mereka ke penjara. Ia telah menteror seluruh daerah mulai dari Yerusalem sampai Damaskus, sehingga tidak ada satu orang Kristen pun yang tidak gemetar ketika mendengar namanya disebutkan.
Bagaimana ia dapat mengatasi rasa bersalah itu? Penyesalan? Mimpi yang mengerikan?
Kepada gereja di Filipi ia menulis, "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (Filipi 3:12-14).
Seorang penasihat rohani di Akron, Ohio yang juga seorang mantan pendeta, Dr. Richard Dobbins, bercerita tentang seorang wanita yang berumur empat puluhan yang datang kepadanya. Sepanjang dua kunjungan, Evelyn (bukan nama sebenarnya), berbicara secara umum mengenai persoalan dan hidupnya, tetapi pada kunjungannya yang ketiga kebenaran pun timbul. Pada waktu berumur belasan tahun ia telah hamil dan telah menikah dengan pimpinan kelompok pemuda di gereja mereka tiga bulan sebelum anak mereka lahir.
Yang mengherankan ialah mereka tetap tinggal di daerah yang sama selama tahun-tahun itu dan hidup baik-baik sehingga akhirnya orang melupakan perbuatan yang tercela itu. Mereka pun masih terus menjadi anggota gereja yang sama. Tetapi Evelyn selalu ragu-ragu apakah suaminya sungguh-sungguh mencintainya atau telah mengawininya karena merasa berkewajiban berbuat itu. Suaminya mengatakan bahwa ia mengasihinya, ia seorang suami yang baik, tetapi toh ....
Sekarang terjadi suatu komplikasi yang menakutkan. Sahabat baiknya di SMA, yang mengetahui seluruh persoalannya, segera setelah kejadian itu pindah ke kota lain - tetapi sekarang ia akan kembali lagi ke kota itu. Dalam pikiran Evelyn, waktu dan keadaan seakan- akan tetap sama saja. Ia dan sahabatnya itu menjadi remaja kembali, dan hanya beberapa minggu saja kisah ini akan tersebar lagi ke seluruh kota.
Di kantor Dr. Dobbins ia mulai menangis tersedu-sedu. Dengan tenang Dr. Dobbins berkata, "Evelyn, sudahkah engkau memohon Tuhan mengampunimu?"
"Apa?" ia menjawab dengan air mata membasahinya. "Sudahkah aku meminta pengampunan Tuhan? Seratus kali!"
"Baiklah, sekarang percayakah engkau bahwa Ia telah mengampuni hal ini?"
"O, ya tapi bukan itu yang menjadi masalah. Masalahnya adalah bagaimana saya bisa mengampuni diri saya sendiri?"
Dobbins berdiam diri beberapa saat. Kemudian ia berkata, "Katakan padaku, apakah kau lebih suci daripada Allah?" Dobbins berhenti. "Haruskah Allah mengorbankan Anak-Nya lagi di salib demi hati nuranimu?"
Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, "Jika kematian Kristus cukup baik untuk memberi pengampunanmu di hadapan Allah, apakah itu tidak cukup baik untukmu?"
Evelyn tidak bisa berbicara. Kebenaran itu mulai meresap ke dalam rohnya. Selama sepuluh menit ia tidak bisa apa-apa kecuali menangis. Akhirnya ia mengangkat kepalanya, dan damai terbayang di wajahnya. Mereka berdoa bersama-sama, lalu Evelyn berkata, "Inilah pertama kali dalam waktu lebih dari dua puluh tahun saya tidak merasa terhukum."
Yesus telah mati agar umat Tuhan tidak berpegang terus pada rasa bersalah dan penyesalannya. Itulah sebabnya 1Yohanes 1:9 menjanjikan, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."
Posted by
tikituka
at
11:53 PM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
07 January 2008
Teladan Tokoh-tokoh Natal
Berikut ini kami sajikan teladan tokoh-tokoh Alkitab yang terlibat seputar peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Karakter yang mereka miliki ini bisa kita jadikan pedoman dalam kehidupan kita sehari-hari.
1. MARIA
• Taat mengikuti panggilan Tuhan (Lukas 1:36).
• Dipenuhi Roh Kudus, salam yang diucapkannya pun menyebabkan anak di rahim Elizabet dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:39-41).
• Tunduk dan menghormati Yusuf, suaminya, (bandingkan dengan Efesus 5:22).
• Tahan menderita, misalnya ketika harus mengungsi ke Mesir (Matius 2:13-15).
• Seorang penyembah (Lukas 1:46-55).
2. YUSUF
• Hidup kudus (Matius 1:24-25).
• Melindungi istrinya di masa tekanan, yaitu ketika Herodes mengancam (Matius 2: 13-23).
3. ORANG-ORANG MAJUS
• Rendah hati meskipun mereka adalah orang kaya dan terpelajar, dan mau datang menyembah Yesus yang masih kanak-kanak (Matius 2:11a).
• Hidup dalam pimpinan Tuhan (Matius 2:2, 9, 10, 12).
• Memberi yang terbaik untuk Tuhan (Matius 2:11b).
4. PARA GEMBALA
• Pengalaman rohani, bertemu para malaikat -- pengalaman adikodrati (Lukas 2:9, 13-14).
• Bertindak CEPAT: ("mereka 'cepat-cepat' berangkat menjumpai Maria" (Lukas 2:16)), tidak lamban, tidak menunda-nunda, iman yang responsif.
• Tidak kuatir ketika harus meninggalkan harta mereka (ternak) karena mereka percaya bahwa Tuhan pasti memeliharanya.
• Memuji--memuliakan Tuhan (Lukas 2:20).
Posted by
tikituka
at
9:07 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Suami Istri: Perlukah Berdoa Bersama?
Ibadah! Orang segera berpikir bahwa kata "ibadah" sangat erat kaitannya dengan kebaktian bersama. Orang yang beribadah biasanya memang berada di rumah kebaktian atau di dalam pertemuan doa. Tetapi ibadah juga dapat dilakukan secara individual, berdua atau juga dalam kehidupan yang nyata, ibadah itu juga dapat dibaca orang lain, melalui praktik iman.
Ibadah!
Secara individual mari kita bicarakan perannya, dalam lingkup suami-istri dan keluarga, dalam ibadah kelompok kecil.
Pertanyaan: Perlukah suami dan istri berdoa bersama-sama?
Kapan Berdoa Bersama
Rumah tangga adalah unit terkecil dari sebuah lembaga agama. Suasana akrab dengan sesama tampak dalam lingkup keluarga. Suami-istri saling memahami, anak-anak memahami orang tua mereka, begitu pula sebaliknya. Jadi, dalam doa, mereka mengerti betul apa yang mereka kehendaki bersama. Berbeda dengan kebaktian di gereja. Di gereja, semua orang datang berkumpul dan mendoakan hal yang sama namun tidak selamanya mengerti betul keperluan masing-masing. Tetapi, di dalam keluarga, ayah mendoakan anak-anak mereka, anak-anak mendoakan orang tua mereka, ibu mendoakan kesejahteraan semua keluarga.
Masing-masing individu di dalam keluarga mengerti betul apa yang mereka doakan. Begitu yakin atas permintaan mereka itu, karena suasana akrab ada di dalam mereka, tanpa rasa curiga. Karena saling mempedulikan, mereka berada di dalam persatuan dan kesatuan. Permintaan mereka jelas dan Tuhan yang mereka sembah dan yakini ada dan mendengar doa mereka. Sebagaimana mereka melihat kenyataan bahwa orang tua, bapak dan ibu mereka ada di tengah-tengah mereka, demikian pulalah mereka memastikan bahwa Bapa yang di surga itu pun mendengar doa mereka dengan kapasitas dan kenyataan yang tidak meragukan.
Kapan berdoa bersama?
Pada waktu anak-anak bangun, dapat diadakan ibadah singkat, mendengarkan firman Tuhan sejenak sebelum melakukan kegiatan sehari- hari. Anak-anak dapat berpartisipasi dalam doa, mendoakan keperluan keluarga dan diri mereka, didukung anggota keluarga lainnya.
Pada waktu makan bersama, pemimpin doa dapat bergantian dan semuanya "mengaminkan" bahwa Tuhan yang memberikan makanan mereka sehari- hari. Mereka yakin bahwa Tuhan juga akan memberikan makanan bagi mereka untuk hari esok.
Ketika hendak tidur, anak-anak dan orang tua berdoa bersama, bersyukur kepada Tuhan karena mereka telah menjalani hari yang nyaman dan penuh dengan perjuangan, dengan baik. Oleh karena itu, mereka bersyukur kepada Tuhan bahwa waktu tidur, istirahat dengan tenang, diberikan Tuhan kepada mereka serta memohon perlindungan Tuhan, dalam suasana tidur yang tenang ini, agar Tuhan menjaga mereka sepenuhnya. Mereka sama sekali tidak berdaya dalam suasana tidur itu sehingga hanya dengan penjagaan Tuhan saja mereka dapat bangun keesokan harinya.
Begitu pun ketika mereka bangun, mereka berdoa dan bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup hari ini. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari. Hanya Tuhan yang memiliki hari esok, dan hari esok itu diberikan Tuhan kepada umat manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Setiap hari selalu baru. Baru bagi umat manusia. Doa-doa yang baru pun disampaikan kepada Tuhan.
Saat Teduh untuk Diri Sendiri
Kalau anggota keluarga yang ada masih terlalu kecil dan individualistis, biasanya ibulah menjadi pihak paling sibuk. Namun demikian, seorang ibu hendaknya mengambil waktu yang tenang untuk dirinya sendiri, untuk berjumpa dengan Tuhannya. Banyak kecemasan yang dirasakan seorang ibu yang tidak pernah dirasakan atau dicemaskan sang suami. Derita anak adalah derita ibu, kata ungkapan. "Surga berada di bawah telapak kaki ibu," kata orang lagi. Jadi derita dan surga ada dan bertumpu pada perilaku kehidupan seorang ibu.
Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang ibu menyediakan waktu berdoa seorang diri. Manakala semua anggota keluarga sudah tidur dengan tenang, ia perlu bangun dan berdoa, mengutarakan kepada Tuhan semua masalah yang dialami, dihadapi dan digelisahkannya. Saat itu digunakan untuk mencurahkan segenap keluh kesah kepada-Nya, pelindung yang Maha Tangguh, Maha Kuasa dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Yesus Kristus akan mendengarkan doa seorang ibu karena memang Ia pun pernah merasakan kasih sayang seorang ibu ketika Ia berada di dunia ini sebagai Anak Manusia, yang lahir di tengah-tengah keluarga Yusuf dan Maria. Berdoalah kepada-Nya, hai kaum ibu, Ia akan mendengarkan keluh kesahmu. Tidak ada kesukaran dunia ini yang tidak pernah dirasakan-Nya, tidak ada derita manusia seberat derita yang pernah ditanggung-Nya. Dalam usia yang singkat, sebagai manusia, Ia telah menanggung penderitaan umat manusia sampai kepada kematian sekalipun.
Utarakanlah persoalanmu kepada-Nya, maka Ia akan memberikan kekuatan dan jalan keluar yang baik kepadamu. Tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan-Nya. Tidak ada kesulitan besar di dunia ini yang tidak dapat diselesaikan-Nya. Ingatlah, bahwa Dialah pencipta, penyedia segala keperluan hidup umat manusia dan segala makhluk yang hidup di bawah langit bumi ini.
Tiada gunung kesulitan yang tidak dapat didaki bersama Yesus Kristus. Tidak ada lembah derita yang begitu dalam yang tidak dapat dijangkau Yesus Kristus. Tidak ada laut perjuangan hidup yang paling kuat gelombangnya yang tidak dapat diteduhkan oleh Kristus. Tidak ada penyakit yang begitu parah yang tidak dapat disembuhkan oleh Kristus. Tidak ada lembah maut yang begitu kelam yang tidak dapat ditaklukkan oleh Kristus. Tiada tangisan yang begitu sedih yang tidak dapat dihiburkan oleh Kristus. Tengadahkan wajahmu ke atas, ulurkan tanganmu dua-duanya kepada-Nya, maka Ia akan melihatmu dan mengulurkan tangan pertolongan untukmu.
Gunakanlah saat teduh itu dengan hati sungguh-sungguh.
Ketika Jarak Memisahkan Suami dan Istri
Kehidupan kota yang begitu rumit dan dinamis membuat suami dan istri bekerja di tempat yang berbeda dan jauh jaraknya. Karena "jarak" ini banyak godaan yang dihadapi kedua belah pihak. Iblis mencari celah- celah untuk merenggangkan hubungan suami dan istri karena jarak ini.
Mungkin, Hawa cepat jatuh ke dalam godaan ular itu karena ia berjauhan dari Adam. Dalam jarak yang berjauhan ini, perhatian kadang-kadang terpusat pada sesuatu yang menggoda itu saja, dan tidak menyadari bahaya yang mengancam. Bahaya itu muncul bukan secara tiba-tiba. Datangnya sangat pelahan dan halus, nyaris tidak terasa dan tahu-tahu kita sudah terperangkap di dalamnya. Waktu dan tempat sangat memegang peranan penting dalam "penggodaan." Semakin jauh Anda dari pusat kendali, semakin berkurang tenaga pengendalian Anda.
Doa adalah komunikasi dengan Tuhan. Seringlah berdoa di mana pun Anda berada. Seorang istri yang jauh dari suaminya harus menyiapkan diri untuk lebih banyak berdoa, baik untuk suaminya dan juga untuk dirinya sendiri. Doa akan meneguhkan iman, memberikan ketentraman kepada jiwa dan mendatangkan keteduhan bagi batin dan perasaan. Juga bagi sang suami, banyak godaan di tempat pekerjaan yang dapat membuat perhatiannya untuk sementara jauh dari kepentingan keluarga.
Kepeduliannya terhadap keluarga hendaknya diungkapkan dalam doa dan Tuhan akan mengatasi jarak itu serta menanamkan "rasa rindu" di dalam diri masing-masing anggota keluarga, untuk berkumpul bersama- sama. Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Kuasa. Ia mengetahui kekurangan- kekurangan umat-Nya dan mampu memberi kekuatan kepada mereka apabila mereka memohon pertolongan kepada-Nya. Ia akan menjawab pada waktu yang tepat.
Suami yang jarang berdoa, lebih dekat kepada bencana yang dapat muncul sewaktu-waktu. Istri yang lupa berdoa, berarti membiarkan pencobaan mengancam rumah tangganya dan kemungkinan akan lebih banyak menuai ketidakbahagiaan.
Doa yang Efektif
Bagaimana cara berdoa yang efektif? Tanyakan kepada diri kita sendiri.
Di dalam lingkungan keluarga, sebagaimana yang telah kita bicarakan pada awal tulisan ini, doa yang efektif itu adalah doa yang disampaikan dengan hati yang tulus, pada saat yang tepat dan kemudian menunggu jawaban dengan sabar. Doa menjadi efektif kalau kita membiarkan Tuhan menyelesaikan persoalan bagi kita. Persoalan kita diselesaikan-Nya? Tanya kita lagi. Ya, dengan semboyan "Ora et Labora." Bekerja dan berdoa.
Di dalam keluarga, doa yang efektif ialah apabila masing-masing pasangan memperlakukan pasangannya dengan penuh pertimbangan, penguasaan diri dan merindukan kesejahteraan pasangannya. Artinya, saling mendoakan dengan penuh kesungguhan. Tanpa pamrih.
Doa sang suami akan menjadi efektif apabila ia melakukan hal yang berikut ini:
"Demikianlah juga kamu," kata Petrus dalam 1 Petrus 3:7, "hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah." Petrus mengungkapkan hubungan suami-istri di sini dengan pengakuan bahwa pihak istri itu adalah "kaum yang lemah" atau memang dalam posisi yang lemah menurut pendapat orang pada zaman itu. Kalau mereka memang lemah maka adalah menjadi kewajiban yang kuat untuk menolongnya.
Banyak perempuan yang memperjuangkan hak-hak asasi kaumnya, karena diperlakukan tidak sebagaimana wajarnya sebagai sesama manusia, juga di dalam keluarga. Sang suami, yang merasa dirinya kuat, bantulah istrimu yang lemah. Maka doamu akan dijawab oleh Tuhan. Mengapa suami berdoa kepada Tuhan? Ya, setidaknya karena ia merasa lemah di hadapan Tuhan untuk menghadapi perjuangan hidup. Kalau Tuhan menolongnya, pertolongan berikutnya wajarlah diberikannya kepada istrinya. Dengan demikian, doanya akan dijawab.
Lebih lanjut Petrus mengatakan di dalam ayat yang sama:
"Hormati mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya `doamu jangan terhalang`." (tulisan tambahan dengan tanda petik dari penulis). Jelas sekali di sini diberikan jawaban bagaimana doa yang efektif itu. "Hormati mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia," artinya, ada kesamaan derajat antara suami dan istri. Doa yang tidak disertai dengan rasa hormat dan kasih sayang tidak akan dijawab oleh Tuhan. Hal itu dikatakan dengan jelas di sini. Hal itu juga berarti, bahwa barangsiapa yang menyiksa istrinya, doanya tidak akan dijawab. Mari kita camkan itu. Sebagai ahli waris kasih karunia, yakni Kerajaan Allah, istri harus diperlakukan dengan baik dan ramah, sederajat, karena sama-sama calon warga surga.
Sikap dalam doa, hendaknya diungkapkan dengan rasa hormat dan ketenangan yang meneduhkan jiwa dan lingkungan. Kalau kita meminta kepada Tuhan (berdoa), perlukah kita berteriak-teriak seolah-olah Ia kurang peka terhadap permintaan kita?
Coba kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Roma 8:26, "Demikianlah juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."
Sang rasul mengatakan di sini bahwa kita ini lemah, dan selalu memerlukan kekuatan dari Tuhan, bahkan, kadang-kadang seruan kita tidak terucapkan karena tekanan yang begitu dalam menekan sanubari kita. Saat hening, saat teduh, saat yang khusyuk, sangat kita perlukan untuk berkomunikasi dengan Tuhan.
Suami-istri dan anak-anak dalam keluarga yang berdoa bersama-sama akan tetap dalam ketentraman dan kebahagiaan bersama-sama. Tuhan akan mendengarkan doa mereka.
Posted by
tikituka
at
9:06 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Sikap Terhadap Kemarahan
Menghadapi sisi-sisi gelap dalam diri sendiri merupakan sumber dari segala pergumulan hidup manusia. Filsuf Rusia, Feodor Dostoevski, pernah mengatakan bahwa,
"Di tengah kedalaman lubuk hati manusia, ada sesuatu yang manusia sembunyikan dan tidak mampu singkapkan kecuali kepada sahabatnya. Itupun dilakukan secara sembunyi. Di samping itu manusia masih mempunyai berbagai rahasia lain, yang kepada sahabatnya pun ia tidak berani ceritakan, yaitu rahasia yang ia hanya dapat singkapkan kepada dirinya sendiri. Lebih mengherankan lagi, manusia masih dapat menyimpan rahasia- rahasia lain, yang ia tidak mampu singkapkan bahkan kepada dirinya sendiri."
Itulah sisi gelap yaitu hal buruk yang mungkin sangat memalukan dan menjijikkan sehingga manusia yang berhati-nurani takut untuk menghadapi dan memikirkannya sendiri. Paul Tournier dalam bukunya "Reflections" mengatakan bahwa memasuki daerah sisi gelap tersebut, manusia tidak dapat lagi dibedakan dengan binatang. Tingkah laku dan perasaannya digerakkan oleh instingnya sehingga akal dan pertimbangan pikiran yang sudah dibekali dengan berbagai pengetahuan akan kebenaranpun tidak berdaya lagi. Setiap kali muncul, ia menuntut pemuasan yang akan disesali kemudian.
Kasus:
A adalah seorang Kristen yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan rohani. Sebagai seorang majelis gereja, A seringkali memimpin pemahaman Alkitab dan menangani berbagai masalah konseling. Tidak heran jikalau A dikenal sebagai tokoh Kristen dan berbagai jabatan dipegangnya.
Hari ini istri A menemui Anda. Mula-mula ia mengeluh tentang anaknya yang kedua, yang terjerat narkoba dan sudah dua hari tidak pulang ke rumah. Ia juga menceritakan dengan bercucuran air mata tentang sifat suaminya yang pemberang dan abusive (memukul). Ia menunjukkan bekas- bekas luka di tangannya dan memar-memar di punggung dan dadanya.
Ia mengakui bahwa A sebenarnya seorang suami yang baik, tetapi pemarah dan sulit memaafkan kesalahan orang lain. Kalau harga dirinya tersinggung, ia bisa dengan segera mata gelap, dari mulutnya akan keluar kata-kata kotor, sumpah-serapah dan ia bisa melakukan apa saja. Pisau, gunting, sapu, kursi apa saja bisa dipakai untuk melampiaskan kemarahannya. Memang kemudian ia akan menyesal, tetapi ini terus terulang-ulang sehingga seluruh keluarga menjadi korban, termasuk anaknya yang terjerat narkoba, tidak lagi tahan tinggal di rumah.
Menghadapi kasus di atas beberapa prinsip konseling di bawah ini bisa Anda pakai.
1
Boleh marah tetapi tidak berbuat dosa (Efesus 4:26).
Munculnya perasaan marah merupakan bagian integral dari jiwa manusia. Bahkan Alkitab menyaksikan bahwa Allah pun pada saat- saat tertentu marah, meskipun kemarahan Allah adalah kemarahan atas dosa. Alkitab menyaksikan bahwa reaksi Allah yang suci atas dosa dan kecemaran adalah "kemarahan." Ada 375 kali di Perjanjian Lama dan 80 kali di Perjanjian Baru dicatat tentang kemarahan Allah. Alkitab juga mencatat bahwa Tuhan Yesus dan rasul-rasul pun berulang kali marah. Bahkan yang lebih mengherankan adalah bahwa ekspresi kemarahan yang suci itu bisa "menjadi batu sandungan" di mata manusia. Oleh sebab itu, meskipun setiap kata yang dipakai bukan merupakan manifestasi dari dosa, Yohanes 6:60-66 menyaksikan bahwa banyak murid yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia.
Marah dan tidak berbuat dosa seringkali menjadi masalah yang sangat kompleks. Meskipun jelas bahwa kemarahan Allah dan Tuhan Yesus tak dapat dibandingkan dengan kemarahan manusia yang selalu tercemari oleh dosa, tetapi batasan manifestasi kemarahan merupakan hal yang sulit sekali digariskan. Jikalau Allah dalam kemarahan-Nya bisa membunuh, maka manusia dengan alasan apapun juga tidak berhak melampiaskan "spirit membunuh" meskipun hanya dengan kata-kata. Tuhan Yesus menegaskan bahwa "spirit membunuh" telah melibatkan manusia jatuh dalam dosa yang mematikan (ayat 21- 22). Berarti, meskipun kemarahan adalah bagian integral hidup manusia, tidak ada seorang manusia pun yang berhak melampiaskan kemarahan dalam bentuk apapun juga atas dorongan dosanya. Dengan demikian, kasus A bukan hanya "kepribadian abusive" tetapi juga kasus "perkanjangan dalam dosa" oleh karena "buruknya hubungan dengan Allah." Keduanya harus diselesaikan.
2 Jangan percaya kata-kata penyesalannya karena kemarahan yang tak terkendali bukan masalah rasional yang disadari.
Untuk pengalaman pertama dengan sifat suami yang abusive, istri A mengatakan, "Saya shock sekali. Saya tidak pernah mengenal sisi A yang ini. Saya merasa tidak berarti, tetapi beberapa hari kemudian saya sudah menemukan A sebagai suami yang hangat, yang penuh kasih, yang suka memberi surprise, dan romantis. Memang untuk pemukulan yang pertama itu ia tidak minta maaf, tetapi seluruh tindakan dan sikapnya sudah menyatakan itu. Jadi saya merasa lega. Namun tiga minggu kemudian ia begitu lagi. Untuk hal yang kecil (saya lupa mengembalikan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan gereja) ia begitu marah dan memukul dan membenturkan kepala saya ke tembok. Akibatnya mulut dan hidung saya bocor dan kepala saya benjol. Nah, untuk yang ini A sampai menangis dan meminta maaf berulang kali. Ia menyesal dan bersumpah tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Memang luka hati saya saat itu cukup dalam sehingga memakan waktu lebih lama untuk sembuh. Kemudian hubungan kami membaik lagi, dan saya yakin Tuhan sudah menolong. Kami sering berdoa dan melakukan saat teduh bersama seluruh keluarga. Indah sekali, tetapi dua hari yang lalu A melakukannya lagi. Bahkan di tengah kemarahannya ia mengatakan bahwa dia menyesal menikah dengan saya. Saya betul-betul putus asa dan kecewa. Meskipun kali ini A sampai berlutut di kaki saya dan bersumpah di hadapan Tuhan, rasanya sulit sekali saya memaafkan dia."
Pola seperti di atas memang merupakan pola yang seringkali ditemukan dalam hidup pasangan dengan masalah "sisi-sisi gelap (unconsciousness)" seperti A yang abusive. Munculnya dorongan yang tak terkendali untuk mengatakan atau melakukan hal-hal yang jahat merupakan hal yang muncul sebagai insting sehingga alasan dan tujuannya tidak rasional. Oleh sebab itu "Anda sulit percaya pada kata-kata dan janjinya," kecuali ia menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki kelakuannya, yaitu:
a
ia mau ditolong melalui pelayanan psikoterapi yang benar- benar profesional, dan
b
ia bertekad mengubah pola dan sistem kehidupannya.
Biasanya, tekad untuk memperbaharui kehidupan hanya ada pada saat seorang sudah terpaksa dan tak mempunyai pemilihan yang lain lagi.
3 Menolong A menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Sebagai teman (konselor awam) Anda dapat menolong A menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Itu dapat dilakukan melalui:
a Alasan dari penyesalannya. Mungkin A mengakui bahwa ia telah marah dengan kemarahan yang tidak dapat dipertanggung- jawabkan, tetapi apa sebenarnya alasan di belakang pengakuan tersebut? Apakah A benar-benar menyesali kesalahannya dan melihat bahwa kesalahan tersebut adalah dosa yang sangat menyedihkan, atau A menyesal karena "akibat yang harus ia tanggung?" Yang kedua merupakan gejala dari masalah yang serius dari kepribadian A, dan Anda harus merefer A kepada seorang psikoterapist.
b
Tujuan dari kemarahannya. Setiap kemarahan mempunyai tujuan yang khusus, dan itu bisa disadari bisa pula tidak disadari. Anda perlu menolong A menemukan dan menyadari sendiri apa sebenarnya tujuan dari kemarahannya. Apakah ia marah oleh karena stimulan dari luar dirinya (mempunyai ´precipitating factors´), atau ia seringkali berada dalam ´mood´ siap untuk marah (mempunyai ´predisposing factors´). Meskipun yang pertama bisa juga tidak beralasan yang mendasar (misalnya: A marah bukan oleh karena prinsip kebenaran yang ia pegang), tetapi biasanya yang kedua lebih serius dan membutuhkan penanganan seorang profesional.
c
Sarana dan cara untuk melampiaskan kemarahannya. Memang di dalam kasus di atas ada gejala A memakai sarana dan cara pelampiasan kemarahan yang tidak sehat. Meskipun demikian Anda masih perlu menolong A menyadari mengapa atau kapan ia memakai cara dan sarana tersebut. Apakah A memukul oleh karena cara-cara lain yang ia pakai tidak mempan (berarti A sudah memakai cara dan sarana yang lain sebelum kemarahannya memuncak dan meledak/´escalated´ dan ´exploded´), atau "memukul" merupakan suatu kebiasaan setiap kali ia marah. Keduanya memang tidak baik, tetapi yang pertama bisa diatasi melalui kerjasama dengan istri A (misalnya: belajar untuk tidak meresponi kemarahan A dengan sikap dan kata-kata yang lebih menstimulir kemarahan) dan yang kedua memerlukan bantuan seorang konselor yang profesional.
4 Menyusun strategi kehidupan yang lebih baik.
Meskipun mungkin penanganan kasus A ada dalam tanggung jawab konselor yang profesional, peran Anda sebagai teman dan konselor awam tidak kecil. Hal itu nampak:
a
Kalau Anda bisa membina rapport atau hubungan yang baik dengan A. Hubungan yang baik yang dijiwai oleh ´acceptance´ atau kemampuan menerima A sebagaimana adanya akan mencipta ´openness´/keterbukaan; dan ´openness´ tersebut akan menjadi semakin mendalam jikalau Anda dapat menjadi ´listener´ atau pendengar yang baik. Ajaib bahwa melalui peran ini saja, A akan menemukan dirinya, kerapuhannya, dan bahkan kemungkinan jalan keluarnya.
b
Kalau Anda bisa menolong istri A menjadi teman bicara yang baik bagi suaminya. Memang aneh bahwa kebiasaan abusive seringkali hanya dilampiaskan kepada orang-orang yang terdekat. Jiwa ´pseudo masculinity´ (kejantanan semu) ini adalah jiwa pengecut dari pribadi yang tidak berani menghadapi realita dan pertanggungjawaban hidupnya. Kemarahan terhadap ketidakmampuannya sendiri ditransfer kepada orang-orang yang terdekat yaitu istri dan atau anak- anaknya.
Menghadapi perlakuan yang tidak fair ini memang sulit. Secara natural istri A akan melawan atau membela diri (kecuali dia sendiri terjebak dalam pola masochism) dan ini justru akan semakin menumbuh suburkan dorongan abusive dari suaminya. Oleh sebab itu, di samping bantuan dari seorang profesional, istri A perlu ditolong untuk keluar dari sistem yang buruk itu. Ia harus menemukan strategi untuk tidak ikut menstimulir dorongan abusive dari suaminya. Suasana rumah tangga yang nyaman biasanya akan mengurangi dorongan-dorongan negatif tersebut, begitu juga "cara berkomunikasi" yang menyejukkan.
Jangan kecil hati, cobalah tips di atas dengan spirit ketergantungan pada belas kasihan dan pertolongan Tuhan.
Posted by
tikituka
at
9:06 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Seorang Sahabat Baik
Mempunyai sahabat tidak begitu penting dibandingkan dengan menjadi seorang sahabat. Saya pikir ada tiga langkah untuk menjadi seorang sahabat :
1 Mengenal sahabat terbaik, yaitu Yesus.
Amsal 18:24 berkata, "Ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara." Tidak ada lukisan yang lebih baik yang dapat diberikan mengenai Yesus. Yesus menyebut kita sahabat-Nya. Dalam Yohanes 15:15, Yesus berkata, "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku." Bahkan musuh-Nya harus mengakui bahwa Yesus adalah sahabat orang berdosa. Ia ingin menjadi sahabat Saudara, siapa pun Saudara atau apa pun yang telah Saudara lakukan (lihat Matius 11:19).
2 Jika kita menginginkan sahabat, kita perlu berprakarsa.
Kita perlu berhenti menanti dikasihi dan harus mulai mengasihi orang lain, berhenti menantikan seseorang memberi kepada kita dan kita harus mulai memberi kepada orang lain. Galatia 6:7 berkata, "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." Jika kita menginginkan persahabatan, kita harus menaburkan persahabatan. Itulah yang dilakukan Yesus. Ia lebih dulu mengasihi kita. Kasih-Nya tak mementingkan diri sendiri, teguh, bersedia berkorban, dan menyucikan. Kita pun harus mempunyai kasih yang sama seperti yang dimiliki Yesus.
3 Ciptakan kesempatan menuju persahabatan.
Gereja adalah tempat yang sangat baik untuk bertemu sahabat, sebab di sana Saudara paling besar kemungkinan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai pandangan hidup sama dengan Saudara. Lakukan langkah pertama dan perkenalkan diri Saudara. Saudara harus bersedia mengambil resiko yaitu merasa malu sedikit atau bahkan penolakan, tetapi Saudara dapat melakukan hal ini jikalau Saudara merasa puas dengan diri sendiri. Berlakulah wajar. Bersikaplah yang pantas -- jangan mencoba menekan orang untuk menjadi sahabat Saudara.
Jangan terlalu cepat berharap terlalu banyak. Persahabatan berkembang perlahan-lahan, seperti bunga yang indah. Tetapi Saudara dapat mengharapkan hasilnya jika Saudara mengikuti prinsip-prinsip ini. Dale Carnegie berkata,
"Anda bisa mendapat lebih banyak teman dalam waktu dua bulan dengan cara sungguh-sungguh tertarik pada orang lain daripada yang Anda bisa dapat dalam dua tahun dengan cara berusaha membuat orang lain tertarik pada Anda."
Posted by
tikituka
at
9:06 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Sifat-Sifat Seorang Sahabat Baik
Orang yang mempunyai sahabat baik dan merupakan sahabat baik bagi orang lain sesungguhnya adalah orang yang sangat kaya dan puas. Persahabatan yang baik seharusnya menunjukkan ciri-ciri seperti berikut ini :
1 Persahabatan yang baik tidak mementingkan diri sendiri.
Amsal 17:17 mengatakan bahwa, "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu." Karena itu persahabatan sejati tidak didasarkan pada syarat- syarat yang berubah-ubah. Ada orang-orang yang berkata, "Saya akan menjadi sahabatmu jika, atau apabila, atau sampai, atau karena." Semua ini adalah syarat-syarat dan syarat bisa berubah. Tetapi sahabat sejati mengasihi setiap waktu. Seorang sahabat yang berkata, "Aku mengasihimu jika" atau "Aku mengasihimu bila" bukan sahabat seperti yang dilukiskan oleh Alkitab. Sahabat sejati akan berkata, "Aku mengasihimu setiap waktu. Kasihku tidak bersyarat dan tidak mementingkan diri sendiri."
2 Persahabatan sejati bersifat teguh.
Kembali Amsal 17:17 berkata bahwa, "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu." Sebuah penerbitan Inggris menawarkan hadiah bagi orang yang memberikan definisi terbaik tentang persahabatan. Sebuah definisi yang tercantum dalam sayembara terhormat itu adalah: "Seorang sahabat adalah orang yang menambah sukacita kita dan membagi kesedihan kita." Definisi lain berbunyi, "Seorang sahabat adalah orang yang mengerti kita." Tetapi definisi yang memenangkan hadiah dalam sayembara itu adalah: "Seorang sahabat adalah orang yang masuk pada saat dunia keluar." Betapa benarnya definisi ini! Jika Saudara ingin sungguh-sungguh mengetahui berapa banyak sahabat yang Saudara miliki dan siapa mereka, buatlah kesalahan dan lihatlah apa yang terjadi. Setelah Saudara mengetahui kesulitan, coba lihat berapa banyak kawan Saudara yang masih setia kapada Saudara. Persahabatan sejati itu teguh.
3 Persahabatan sejati bersedia berkorban.
Amsal 18:24 berkata, "Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara." Persahabatan sejati itu mahal, tetapi memang sepadan dengan nilainya. Kata Indian untuk sahabat berasal dari sebuah kata gabungan yang berarti "orang yang memikul kesusahanku pada pundaknya." Jadi kalau saya ingin menjadi sahabat, saya harus hidup dengan bersedia berkorban bagi orang yang menerima persahabatan saya.
4 Persahabatan sejati bersifat menyucikan.
Amsal 27:17 berkata, "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." Seorang sahabat sejati akan menjadikan Saudara orang yang lebih baik. Persahabatan sejati membuat hidup Saudara lebih maju, mempertajam kecerdasan Saudara dan membuat Saudara lebih giat. Saudara akan menjadi orang yang lebih baik dan lebih berguna karena persahabatan itu.
Persahabatan sejati tidak akan menumpulkan pengaruh Saudara atau menumpulkan kerohanian Saudara. Seorang sahabat sejati adalah orang yang cukup peduli sehingga ia akan menegur bila Saudara salah. Alkitab berkata dalam Amsal 27:6, "Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah."
Sanjungan bukan persahabatan. Orang yang suka menyanjung sama dengan orang munafik. Seorang munafik mengatakan di belakang Saudara apa yang tidak akan dia ucapkan di muka Saudara, tetapi seorang penyanjung mengatakan di depan Saudara apa yang tidak akan ia katakan di belakang Saudara. Seorang sahabat sejati sebaliknya, ia bersifat jujur terhadap Saudara dan terhadap orang lain.
Posted by
tikituka
at
9:05 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Seri Karakter Kristiani : KETAATAN
4 Langkah Mengendalikan Tingkah Laku
Kita dapat mengendalikan tingkah laku anak-anak kita dengan empat langkah :
1. Dengan Permintaan
"Maukah kamu menolong mama membersihkan meja?" ini adalah cara yang paling positif untuk mengendalikan sikap mereka. Bentuk yang dipakai disini adalah pertanyaan bukan perintah. Saat kita meminta kita memberikan pesan non-verbal yang indah. Kita menyatakan kepada mereka bahwa kita menghargai mereka, bahwa kita menyadari dia memiliki hak sendiri untuk memutuskan. Kedua, kita menyatakan bahwa pendapatnya merupakan hal yang penting bagi kita. Dan yang terbaik adalah kita menyatakan kepada mereka, "Saya mengharapkan engkau bertanggungjawab terhadap tingkah lakumu sendiri." Tetapi kadang kita tidak selalu diindahkan , maka untuk itu langkah kedua dapat dilakukan.
2. Dengan Perintah
Perintah memiliki pesan non-verbal yang bersifat negatif. Itulah sebabnya mengapa kita hanya akan menggunakan cara kedua bila cara pertama tidak berhasil. Apabila kita hanya memberikan perintah, maka anak akan terluka. Kita menyatakan kepada mereka, “Saya tidak peduli dengan perasaan, pikiran dan pendapatmu. Karena itu bukan masalahku." Yang terburuk adalah kita menyatakan kepada mereka,"Saya tidak mengharapkan engkau bertanggungjawab atas tingkahlakumu; tanggungjawabmu adalah melakukan apa yang kukatakan."
3. Dengan memimpin mereka
Kita dapat memimpin anak untuk melakukan apa yang kita ingin dia lakukan. Contohnya, anda dapat meminta,"Maukah kamu datang kemari?" dan anak menjawab tidak, lalu anda perintahkan ,"Kemari" dan dia tetap menjawab tidak, maka dengan lembut anda menarik tangannya dan membawanya ke hadapan anda.
4. Dengan Hukuman.
Saat anak bersikap buruk maka hukuman perlu diberikan. Tetapi hukuman yang diberikan harus adil dan sesuai dengan pelanggaran yang mereka lakukan. Anak-anak memiliki kepekaan terhadap hukuman yang diberikan, mereka tahu kapan anda menghukum terlalu lemah dan kapan terlalu keras. Perlu diingat hukuman terhadap satu anak tidak berarti hukuman bagi anak yang lain. Contohnya, saat anda menghukum Rio untuk diam di kamar selama lima jam akan benar-benar merupakan hukuman bagi dia karena dia suka berkumpul bersama orang lain. Tetapi jika Andre dihukum sama ia tidak merasa itu sebagai hukuman karena ia memang suka menyendiri.
Seringkali emosi kita memimpin perbuatan kita karena kita tidak memiliki gambaran di kepala kita apa yang relevan untuk setiap anak. Kita perlu mengetahuinya sebelum memilih hukuman yang akan diberikan karena tiap anak memiliki toleransi yang berbeda.
Terakhir, lebih mudah mendisiplin anak yang dicintai dibanding anak yang tidak dicintai. Anak yang memiliki perasaan dicintai secara alami ingin menyenangkan orangtuanya dibanding anak yang merasa tidak dicintai. Hal ini tidak berarti kita tidak akan memiliki kesulitan untuk mendisiplin anak yang dikasihi, hanya lebih mudah.
Posted by
tikituka
at
9:04 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Retrospeksi
"Keutuhan pribadi" (integrated personality) merupakan tujuan utama dari setiap pendidikan, baik itu formal maupun informal. Dengan kehidupan yang utuh (integrated life) manusia dapat menghadapi kondisi hidup sesulit apapun. Paulus di tengah aniaya penjara, tetap dapat merasakan 'self-content' (tidak merasa kekurangan apapun juga) dan bahkan merasakan sukacita surgawi (Filipi 4:4-13) karena kehidupannya yang utuh. Ia tidak lagi terjebak dalam jerat konflik batin yang berlarut-larut (Roma 7:13-25) antara apa yang ia percayai dan apa yang ia rasakan atau alami, karena ia berhasil membangun keutuhan hidupnya. Meskipun demikian tidak berarti Paulus terbebas sama sekali dari pergumulan hidup. Pengalaman dengan stres oleh karena kehidupan yang memang 'stressful' tetap ada, tetapi ia bukan lagi seorang pribadi yang tidak berdaya. Ia, bersama dengan hamba- hamba Tuhan yang lain (Habakuk 3:16-19, Ibrani 11) adalah pemenang- pemenang yang pantas menerima mahkota kebenaran (2Timotius 4:8). Bagaimana dengan kita? Mungkin beberapa pokok pikiran di bawah ini dapat membekali mereka yang merindukan kehidupan yang utuh.
1. Jangan menyangkali (denying) realita (yang mungkin 'stressful' dan conflicting), tetapi hadapi dan selesaikan dengan baik.
Paul Tournier, seorang dokter dan psikolog, pernah mengatakan bahwa,
"There is no life without repression. We can not boldly commit ourselves without repressing our fears ... in the adults life, there is no laughter that does not hide secret tears, either unadmitted or unconscious, nor are there any tears behind which is not some repressed enjoyment." [Tak pernah ada kehidupan tanpa tekanan. Tak mungkin secara utuh kita dapat membuat suatu komitmen pada apapun juga tanpa ada kekuatiran di belakangnya ... Dalam kehidupan orang dewasa, tak pernah ada gelak-tawa tanpa menyembunyikan air mata, meskipun mungkin ini tak diakuinya. Begitu juga, tak mungkin ada cucuran air mata yang semata-mata bernilai dukacita. Pasti ada unsur-unsur "suka-cita" yang ditekan dan sengaja dilupakan. ("Reflections", Phil: Westminster Press, 1976).]
Hidup ini memang selalu menyediakan dua sisi, yang saling berlawanan, untuk diresponi. Pemenangnya adalah mereka yang tahu memberi respons tepat yang justru dapat mengintegrasikan kedua unsur yang berlawanan tersebut dalam batinnya. Makin dewasa seseorang, ia makin mampu menerima tanpa menyangkali realita yang sesungguhnya. Bahkan kasih dan kebencian pun dapat diintegrasikan dalam jiwa orang yang dewasa. Seperti yang Tournier, dalam buku yang sama, mengatakan bahwa,
"Hatred and love are two emotions very, very close to one another ... He who can not hate intensely cannot love deeply." (Kebencian dan kasih merupakan dua macam emosi yang sangat dekat satu dengan lainnya ... Orang yang tak pernah dapat membenci sesama dengan sungguh-sungguh, tak mungkin dapat mencintai sesama dengan sungguh-sungguh pula.)
Dalam kehidupan yang utuh, dinamika jiwa dengan intensitas yang tinggi, tidak lagi monopoli dosa dan kebencian, karena dapat disalurkan untuk kasih dan kebaikan.
2. Bedakan antara hak yang semu (pseudo right) dengan hak yang sejati (genuine right) yang telah dianugerahkan Allah pada orang-orang percaya.
Sumber konflik batin dalam jiwa yang tidak utuh (unintegrated life) selalu berorientasi pada hak. Semakin rendah level kematangan pribadi seorang, semakin tidak integrative jiwanya, dan semakin besar kebutuhannya untuk menuntut pemenuhan haknya. Memang setiap orang "berhak" untuk mendapatkan kebutuhan- kebutuhan primernya. Tetapi dalam Kristus, 'pseudo right' ini (karena hanya untuk memenuhi kebutuhan sementara) diganti dengan 'genuine right', yaitu hak yang sejati yang dianugerahkan Allah. Hak ini tidak lagi 'self-centered', karena hak ini adalah hak untuk mengikut teladan Kristus yang menyangkali diri-Nya. Untuk mematikan kuasa dosa, hanya ada satu jalan yaitu penyangkalan diri. Dengan prinsip yang sama Paulus berkata, "... apakah upahku? Upahku ialah ... melayani tanpa upah." (1Korintus 9:18) Dengan hak yang sejati inilah kita menjadi pemenang-pemenang di tengah kehidupan yang 'stressful' pada jaman ini.
Posted by
tikituka
at
9:03 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Prinsip Praktis Mengendalikan Amarah
Memang baik jika kita mengerti apa itu amarah, penyebabnya, bermacam-macam respon terhadapnya, penyataan Alkitab, reaksi yang sehat dan tak sehat, dan sebagainya. Namun lebih dari itu, apa yang Anda LAKUKAN terhadap perasaan marah saat ANDA mengalaminya sendiri.
Sebagai ringkasan, ada sepuluh prinsip praktis untuk menghadapi perasaan marah dan mengendalikannya.
Camkanlah selalu bahwa sebagai orang Kristen kita tidak dapat mengendalikan amarah (atau masalah lain) dengan mengandalkan kekuatan sendiri! Kita harus bersandar pada bimbingan dan kekuatan Roh Kudus. Dan bimbingan Roh Kudus paling dibutuhkan jika seseorang merasa dirinya baik tetapi sekaligus sedang marah.
Inilah sepuluh langkah praktis yang dapat Anda ambil:
1 Sadari reaksi emosi anda. Tanyakan pada diri sendiri, "Apa yang saya rasakan?".
2 Kenali perasaan-perasaan Anda dan akui bila Anda memiliki perasaan tersebut. Mengakui perasaan marah tidak berarti Anda harus menyatakannya.
3 Coba mengerti mengapa Anda marah. Apa penyebabnya? Kemarahan sering timbul karena frustrasi. Kita frustrasi karena keinginan, kerinduan, ambisi, harapan, dorongan, kehausan atau kehendak kita. Tanyakan pada diri Anda, "apakah saya marah karena frustrasi? Apa atau siapa penyebab frustrasi? Jalan positif bagaimana yang dapat saya pikirkan?"
Alasan lain mengapa kita marah termasuk: kemungkinan terluka, baik secara fisik maupun emosi. Ras aman kita terancam dan sebagai benteng pertahanan, kita marah. Adanya ketidakadilan, baik terhadap orang lain, diri sendiri maupun masyarakat. Seringkali, amarah semacam ini disebut "marah suci", yang dapat dibenarkan. Tetapi berhati-hatilah dan jangan mengizinkan amarah Anda yang benar terhadap ketidakadilan dikacaukan oleh penyebab amarah yang mendasar, yakni: sikap mementingkan diri sendiri... penyebab utama amarah pada sebagian besar manusia. Jika kita mau jujur, kita menjadi sangat marah karena tidak dapat menjalankan cara kita, dan tidak memperoleh yang kita inginkan.
4 Dapatkah Anda membangun situasi lain sehingga amarah tidak akan timbul? Apa yang telah Anda lakukan yang menyebabkan orang lain bereaksi sedemikian rupa sehingga Anda marah?
5 Apakah marah adalah respon yang paling baik? Tuliskan akibat- akibat jika Anda marah. Respon apa yang paling baik? Apakah keramahan, simpati dan pengertian dari orang lain dapat menyelesaikan masalah? Dapatkah Anda mengakui perasaan Anda kepadanya?
6 Apakah amarah Anda terlalu cepat muncul? Jika demikian, tariklha napas dalam-dalam atau hitunglah sampai sepuluh sebelum Anda marah. Pusatkan perhatian pada kelebihan dan kualitas positif orang lain daripada kebobrokannya.
7 Apakah Anda terlalu kritis terhadap orang lain? Apa akibatnya? Jangan terlalu curiga terhadap orang lain. Dengar apa yang mereka katakan dan rasakanlah. Evaluasi komentar-komentar mereka daripada menyalahkannya. Mungkin saya mereka mempunyai sesuatu yang ingin ditawarkan kepada Anda. Apakah amarah atau kekritisan Anda yang berlebihan muncul dari keinginan untuk merasa diri lebih baik? Apakah pendapat-pendapat anda selalu tepat atau dapatkah usul-usul tersebut diperbaiki? Perhalus bicara dan reaksi Anda terhadap orang lain. Perhatikan sikap dan ekspresi Anda yang akan menunjukkan penolakan dan kritik terhadap orang lain. Dapatkah Anda mengungkapkan penghargaan dan pujian untuk menggantikan kekritisan yang berlebihan?
8 Mungkin ada kalanya amarah atau sikap kritis yang berlebihan dapat dibenarkan. Jika Anda akan mengungkapkannya, rencanakan terlebih dulu dan nyatakan dengan kata-kata yang dapat diterima orang lain. Gunakan waktu, kebijaksanaan dan sertailah dengan kerinduan untuk menolong orang lain, bukannya menjatuhkannya.
Carilah teman yang dapat diajak bicara dari hati ke hatii dan Anda dapat memperoleh masukan dari saran-sarannya. Akui perasaaan Anda dan mintalah bimbingannya.
Sediakan waktu untuk mendoakan kesulitan-kesulitan dalam mengendalikan perasaaan. Akui keadaan Anda secara terbuka kepada Allah. Mohon pertolongan-Nya. Hafalkan ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan amarah dan cara-cara berperilaku terhadap orang lain. Hafalkan dan pahami ayat-ayat tsb. dan praktekkanlah dalam hidup sehari-hari.
Posted by
tikituka
at
9:02 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Penyebab Masalah Kejiwaan
Manusia mempunyai sifat yang holistik, dalam artian manusia adalah makhluk fisik, psikologis, sekaligus rohani, dan aspek-aspek ini saling berkaitan satu sama lain dan saling mempengaruhi. Sebagai makhluk yang berfisik, memiliki kelemahan-kelemahan fisik adalah hal yang nyata bahkan ungkapan yang umum mengatakan bahwa manusia mulai mati sejak ia dilahirkan. Secara literal, sesudah orang-orang berusia 40-an maka ribuan sel otaknya mulai mati setiap harinya. Manusia harus terus berjuang untuk melawan berbagai penyakit fisik yang datang dalam hidupnya. Hal yang tidak tampak dari luar adalah kenyataan bahwa kondisi fisik manusia secara integral berkaitan dengan kondisi psikologis dan rohaninya. Manusia adalah satu kesatuan. Apa yang terjadi dengan kondisi fisik manusia akan mempengaruhi pula kondisi psikologis dan rohaninya. Penyakit fisik yang dialami seseorang tidak hanya menyerang manusia secara fisik saja tetapi juga dapat membawa masalah-masalah bagi kondisi psikologisnya dan rohaninya. Demikian pula sebaliknya.
Masalah Fisik sebagai Penyebab Masalah Emosi
Kondisi fisik mempunyai pengaruh langsung terhadap kesehatan emosi manusia, misalnya penyakit-penyakit tertentu sekaligus penggunaan obat-obatan tertentu untuk mengobati problema-problema fisik dapat menimbulkan gejala-gejala atau simptom depresi. Penyakit- penyakit yang dapat menyebabkan depresi antara lain penyakit- penyakit yang disebabkan oleh virus (mononukleosis dan pneumonia), gangguan endokrin (hypothyroidisme), kanker, dan multiple sklerosis. Depresi juga dapat timbul karena dampak-dampak yang ditimbulkan oleh obat-obatan, termasuk di dalamnya adalah obat penenang mayor dan minor, pil KB, obat-obatan untuk tekanan darah tinggi, dan alkohol.
Gejala kecemasan yang dirasakan seseorang kadang-kadang juga berkaitan dengan kondisi fisiknya. Perasaan tegang, gemetar, atau bahkan panik misalnya dapat disebabkan oleh gangguan endokrin (hyperthyroidisme), ketidaknormalan hormon (phenochromocitoma), dan berbagai macam obat-obatan yang mengandung kafein, ganja, LSD, PCP, dan amfetamine.
Psikosis atau kehilangan pijakan atas realita merupakan salah satu dari berbagai gangguan emosi yang ada yang disebabkan oleh masalah- masalah fisik seperti porphyria, Wilson's disease, Huntington's chorea, gangguan endokrin, dan tumor temporal lobe otak. Selain itu ada pula obat-obatan yang menyebabkan seseorang benar-benar kehilangan kontak dengan realitas. Obat-obatan tersebut antara lain obat-obat terlarang seperti amphetamin, kokain, LSD, PCP, dan ganja; resep dokter yang ditujukan untuk mengobati depresi, Parkinson, atau TBC; alkohol; dan bahkan obat-obatan seperti obat yang dihirup, bromida yang berisi senyawa kimia adalah untuk meredakan kecemasan, dan obat tidur.
Kepribadian seseorang bahkan dapat juga berubah karena masalah- masalah fisik, seperti perubahan pribadi seseorang karena sakit pikun misalnya.
Gangguan Emosi sebagai Penyebab Gangguan Fisik
Jika problem fisik dapat menyebabkan gangguan emosi, begitu pula sebaliknya, gangguan emosi dapat menyebabkan gangguan fisik. Stres misalnya seringkali dianggap sebagai penyebab utama penyakit fisik psiko-fisiologis (maag/ulcer, colitis, tekanan darah tinggi). Orang yang hidup dalam kehidupan penuh dengan tekanan atau terikat dengan jadwal yang sangat ketat berpotensi berpenyakit jantung koroner. Fakta yang benar-benar mengejutkan tentang stres adalah kenyataan bahwa stres dapat menyebabkan neurotransmiter hilang dari otak (norepinephrine, serotonin, dopamine) sehingga orang yang bersangkutan mengalami depresi atau psikosis. Stres juga dapat memperlambat proses penyembuhan bagian-bagian tubuh yang mengalami infeksi karena penyakit atau habis dioperasi. Kesepian misalnya merupakan faktor potensial penyebab penyakit jantung koroner atau kanker. Suatu penelitian bahkan pernah mengatakan bahwa pada tahun pertama setelah kematian salah seorang anggota keluarga, angka kematian akan meningkat tujuh kali lipat lebih banyak.
Gangguan Emosi dan Fisik dapat Mempengaruhi Kehidupan Rohani
Indikasi lain yang membuktikan bahwa aspek-aspek dalam diri manusia saling berkaitan dan mempengaruhi adalah kenyataan bahwa gangguan emosi dan fisik ikut pula mempengaruhi kehidupan rohani seseorang. Seseorang yang memiliki penyakit epilepsi temporal-lobe misalnya, akan memperlihatkan kecenderungan untuk mengalami perubahan interes akan agama dan bermoral baik. Seseorang yang memiliki gejala gangguan psikotik mungkin akan asyik dengan hal-hal yang berbau keagamaan. Sedangkan orang yang memiliki kecenderungan obsesive- kompulsif neurosis sering kali merasa ketakutan kalau-kalau dia melakukan dosa yang tak termaafkan atau seandainya dia tidak mempercayai Kristus lagi. Pada pasien manic-depresif, ia sering kali berbicara dengan menggunakan jargon-jargon keagamaan. Sementara itu, orang-orang schizofrenia atau berkepribadian ganda sering kali dianggap kerasukan setan, padahal tidak. Hal ini dapat dibuktikan dengan pengobatan anti-psikotik.
Faktor-faktor Genetik Penyebab Kecenderungan Masalah-masalah
Walaupun kita tidak mewarisi masalah-masalah psikologis, mungkin kita mewarisi faktor-faktor genetik yang membuat kita memiliki kecenderungan mengalami masalah-masalah psikologis tertentu. Ada sejumlah penelitian yang mendukung pendapat yang dikemukakan ini. Misalnya saja, schizophrenia dalam populasi umum hanya 1% saja. Namun demikian, bila salah satu dari orangtua kita adalah penderita schizoprenia, maka resiko keturunannya terkena schizophrenia meningkat menjadi 50%, tetapi kalau yang terkena adalah kedua-duanya maka resiko juga ikut meningkat menjadi dua kali lipat. Untuk kembar fraternal, bila salah satunya menderita schizophrenia, maka resiko menderita schizophrenia pada kembarannya meningkat menjadi 10%. Sebaliknya, bila yang menderita adalah satu dari dua anak kembar identik, maka resiko kembarannya ikut menderita schizophrenia lebih besar lagi, yaitu 50%. Resiko ini tetap ada walaupun salah satu dari saudara kembar tersebut dipisahkan bahkan sejak dari lahir.
Tingkat gangguan jiwa manic-depresif juga memberikan suatu bukti akan adanya kecenderungan masalah-masalah fisik yang mempengaruhi masalah-masalah psikologis. Keluarga dekat penderita manic-depresif memiliki potensi dua puluh kali lipat terkena manic depresif dibandingkan dengan populasi umum. Penelitian atas anak kembar (termasuk juga kembar yang dipisahkan sejak kecil) semakin menguatkan bukti akan adanya pengaruh dari faktor genetik terhadap problem-problem psikologis. Penelitian hubungan genetik yang pernah dilakukan memberikan suatu bukti yang mengejutkan yaitu bahwa pada jenis tertentu manic-depresif, kromosom x merupakan kromosom karier.
Lebih dari itu, dari banyak penelitian telah dilakukan tentang pengaruh genetik terhadap problem psikologis individual membuktikan bahwa ada suatu hubungan antara kelemahan genetik dengan kasus-kasus depresi yang lain. Misalnya saja, 30% dari penderita depresi yang diteliti ternyata memiliki sejarah depresi dalam keluarganya. Bila penderita adalah salah satu dari kembar fraternal, maka kembarannya memiliki potensi terkena depresi hanya 10%. Namun jika yang menderita depresi adalah salah satu dari kembar identik, maka resiko terkena depresi bagi kembarannya meningkat menjadi 76%. Bagi kembar identik yang dipisahkan sejak kecil, potensi terkena depresi bila salah satu dari mereka terkena depresi tetap besar, yaitu 67%. Data yang diperoleh dari penelitian yang pernah dilakukan cukup besar. Meskipun menyimpulkan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh faktor keturunan adalah keliru, kelemahan genetik memang dapat membuat seseorang memiliki kecenderungan untuk mengalami gangguan psikologis tertentu. Stres dapat juga merupakan manifestasi dari kelemahan genetik tersebut.
Kesimpulannya, manusia memang makhluk fisik tetapi ia lebih dari sekedar makhluk fisik. Manusia mempunyai sisi psikologis dan rohani dimana seluruh aspek fisik, psikologis dan rohani saling berkaitan dan mempengaruhi. Inilah yang menyebabkan manusia memiliki sifat holistik. Penyakit-penyakit yang menyerang fisik dapat menyebabkan timbulnya gejala-gejala psikologis. Sebaliknya, stres juga dapat menyebabkan problem fisik. Sedangkan masalah-masalah rohani dapat berakar dari atau disebabkan oleh gangguan fisik maupun psikologis.
Ada suatu contoh menarik tentang bagaimana sifat holistik manusia dapat mempengaruhi kehidupan manusia secara keseluruhan. Seorang petugas gereja yang sangat baik dalam menjalankan tugasnya dan sikap- sikapnya, tiba-tiba berubah sering mengucapkan kata-kata yang tidak pantas didengar dan melakukan pelecehan seksual terhadap wanita- wanita yang kebetulan berada didekatnya. Namun, pada waktu yang hampir bersamaan pula, dia juga bisa berbicara hal-hal yang menyangkut masalah agama dan rohani. Dengan demikian, petugas ini kelihatannya dapat melakukan tindakan dosa pada suatu waktu dan tiba- tiba bisa menjadi super relijius pada waktu yang hampir bersamaan. Setelah petugas gereja ini diperiksa ternyata ia mengalami suatu bentuk serangan penyakit yang tidak hanya menyerangnya secara fisik saja, tetapi juga secara psikologis dan rohani. Setelah diberikan pengobatan yang intensif, akhirnya ia dapat sembuh dari gangguan yang dialaminya secara bertahap dan dapat kembali kedalam kehidupannya yang normal.
Posted by
tikituka
at
9:01 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Pengenalan akan Penyakit Jiwa
Tidak ada satu manusia pun di bumi ini yang terbebas sama sekali dari kemungkinan untuk menjadi penderita gangguan kejiwaan. Dalam pemakaian "defense mechanism" misalnya, barangkali dapat dikatakan bahwa perbedaan normal dan abnormal hanya terletak pada frekuensi dan intensitas dari penggunaan defense itu. Begitu juga dengan gejala dan tanda-tanda yang abnormal pada umumnya. Hampir setiap orang yang tergolong normal pada saat-saat tertentu dan dalam kondisi hidup yang tertentu pernah menunjukkan gejala abnormal dalam sikap, cara berpikir, dan tingkah laku mereka.
Oleh karena itu, hamba-hamba Tuhan sebagai konselor harus berhati- hati dalam mengenali dan mengklasifikasikan klien dalam kelompok orang-orang yang disebut penderita gangguan kejiwaan.
Hal ini disebabkan oleh karena:
-- Tanda-tanda dan gejala-gejala abnormal yang klien tunjukkan belum tentu gejala penyakit jiwa yang sesungguhnya sehingga
-- Kita menyadari keterbatasan dan kelemahan manusiawi dokter- dokter jiwa dan petugas rumah sakit jiwa yang sering kali salah men-diagnosa klien/pasien.
D.N. Rosenhan telah membuktikan hal ini dengan eksperimen- eksperimennya, yang seharusnya membuat setiap hamba Tuhan lebih waspada dan berhati-hati dalam mengirimkan pasien ke rumah sakit jiwa.
Ini tidak berarti bahwa hamba Tuhan tidak perlu bekerja sama dengan psikiater dan rumah sakit jiwa, karena hal tersebut di atas menunjukkan kepada kelemahan manusiawi si dokter dan pihak rumah sakit jiwa dan bukan menunjukkan pada "ketidakbenaran" ilmu psikatri dan psikologi itu sendiri. Kelemahan-kelemahan manusiawi dari profesional-profesional lain justru menyadarkan hamba-hamba Tuhan betapa besar tanggung jawab mereka dalam pelayanan konseling. Untuk itu ia harus mempunyai pengenalan umum tentang gejala-gejala dan tanda-tanda utama dari penyakit jiwa.
a. Beberapa gejala yang muncul secara bersamaan.
Bagi orang yang tergolong normal, gejala abnormal biasanya muncul sebagai satu-satunya gejala, sedangkan aspek-aspek hidup lainnya tidak menunjukkan gejala abnormal.
Misalnya:
Oleh karena tekanan kehidupan, seorang dapat menangis meraung- raung; tetapi begitu muncul orang lain ia sadar dan tahu mengontrol ataupun mengarahkan tangisan itu pada tujuan yang rasional dan dapat diterima oleh lingkungan itu pada umumnya.
Tapi lain halnya dengan penderita penyakit. Beberapa gejala abnormal muncul dan nampak secara bersamaan; ia menangis meraung- raung, tidak menyadari bagaimana pikiran orang lain terhadap tingkah lakunya dan ia mengarahkan tangisan itu pada sesuatu yang kacau dan irrasional.
b. Gejala-gejala itu membuat dirinya lain daripada sebelumnya.
Munculnya gejala itu membuat orang yang bersangkutan lain daripada sebelumnya. Orang-orang lain mengenali bahwa ia sesungguhnya tidak seperti itu, dan seharusnya tidak melakukan tingkah laku yang semacam itu.
Misalnya:
-- Bermain-main dengan kotorannya sendiri, bahkan kadang-kadang dimakannya.
c. Gejala-gejala itu bertahan sampai jangka waktu yang cukup lama dan muncul terus-menerus.
Orang yang normal dapat bertingkah laku abnormal, tetapi akan segera menyadari dirinya dan cenderung untuk segera menyesuaikan diri dengan apa yang diinginkan lingkungannya. Tetapi lain halnya dengan penderita penyakit jiwa.
Di samping itu penyakit jiwa juga dapat dikenali melalui gejala- gejala:
1. Physical (fisik/badani)
Banyak sekali gejala kejiwaan (seperti misalnya, perasaan tidak aman, sedih, marah, cemas, dsb.) yang langsung dapat mempengaruhi kondisi tubuh orang yang bersangkutan. Jikalau orang tersebut kemudian menderita sakit, maka jelas penyakit itu pertama-tama disebabkan oleh keadaan kejiwaannya. Ini yang seringkali disebut sebagai 'psychosomatic' atau 'psychophysiological reaction', yaitu gangguan kejiwaan yang menggejala secara badani sebagai gangguan tubuh. Penyakit-penyakit yang biasanya (tidak selalu) tergolong 'psychosomatic reaction' antara lain: asma, sakit kepala, insomnia, radang usus besar, diarrhea, beberapa penyakit kulit seperti: eksem, gatal-gatal, borok yang tidak sembuh-sembuh, dsb.
Tentu saja orang-orang dengan gejala psyhosomatis tidak begitu saja dapat digolongkan sebagai penderita sakit jiwa, meskipun gejala- gejala itu timbul oleh karena gangguan-gangguan kejiwaan. Sebagian besar dari gejala-gejala ini ada pada orang-orang yang normal, oleh karena itu meskipun memerlukan pengobatan dari dokter, mereka tidak boleh sama sekali diperlakukan sebagai pasien-pasien penyakit jiwa.
2. Psychological (jiwani)
Penyakit dan gangguan kejiwaan biasanya juga diekspresikan secara jiwani misalnya:
i. Faulty Perception (persepsi yang kacau) Manusia diperlengkapi dengan bermacam-macam indera. Jikalau rangsangan tiba, maka rangsangan itu akan diteruskan melalui sistem persyaratan ke otak. Dengan inilah orang dapat melihat, mengenali, mendengar suara, merasa panas dingin, sakit, mencium bau, dsb. Tetapi, ada kasus-kasus kejiwaan yang kadang-kadang dapat menyebabkan terganggunya proses persepsi ini sehingga orang tersebut dengan mata, hidung, telinga, lidah dan kulit yang normal ternyata mempunyai persepsi yang berbeda bahkan kacau balau. Ia bisa seolah-olah buta (psychological blindness), tidak dapat mendengar apa-apa, atau selalu mendengar suara yang orang lain tidak dengar, dan melihat penglihatan yang orang lain tidak lihat. Gangguan kejiwaan dapat menyebabkan orang merasa lampu 20 watt dalam kamar itu terlalu terang, atau suara titik air yang jatuh satu per satu dari kran sebagai suara pukulan palu di kepalanya, dsb.
Dari sini kita mengenal istilah-istilah seperti:
-- Ilusi, yaitu penyalahtafsiran stimulan pada indera penglihatan. Misalnya: Melihat pohon sebagai orang.
-- Halusinasi, yaitu persepsi yang terjadi meskipun tidak ada stimulan yang sesungguhnya. Misalnya:
• Melihat suami yang sudah meninggal, bahkan dapat berkata-kata kepadanya.
• Mendengar suara-suara aneh, dsb.
ii. Distorted thinking (pemikiran yang menyimpang dan kacau)
Gangguan kejiwaan sering kali juga diekspresikan dalam bentuk pemikiran yang kacau dan tidak masuk akal.
Misalnya:
-- Si Amir yang yakin bahwa ia lahir 2000 tahun yang lalu.
-- Si Ahmad yang begitu yakin bahwa di bawah tempat tidurnya
ada bom waktu yang dipasang oleh anak buah Khomeini.
Inilah yang disebut 'distorted thinking', yang menjadi salah satu tanda dari gangguan kejiwaan.
Melihat isinya, 'distorted thinking' dapat dibagi dalam tiga golongan yaitu:
-- Obession (obsesi): yaitu pemikiran yang irasional yang timbul karena dorongan dan kenangan yang tidak menyenangkan, sehingga seolah-olah ada sesuatu yang membuat dia terus-menerus berpikir, "...saya harus..." atau "pasti akan...", dsb. Misalnya: Pengalaman melihat orang yang dianiaya dalam peperangan, menyebabkan ia berpikir "pasti suatu hari saya akan mengalami hal yang serupa". Ia begitu yakin di luar rumah sudah menanti orang-orang yang akan menganiaya dia, sehingga ia terdorong untuk terus-menerus melakukan hal-hal yang irasional, seperti bersembunyi di bawah kolong, mengintip melalui lubang pintu, dsb.
Pengalaman dengan orangtua yang perfectionist, membuat ia selalu merasa ada dorongan "saya harus membereskan ini", "saya harus menyelesaikan itu"; dan ini sering kali tidak masuk akal, misalnya, bangun tengah malam hanya untuk membersihkan mobil, dsb.
-- Phobia: yaitu rasa takut yang irasional. Dan ini bisa berbentuk rasa takut berada dalam ruangan gelap, rasa takut pada darah, air, ular, angin, di tengah banyak orang, berada di tempat tinggi, lewat jembatan, dsb.
-- Delusion (delusi): yaitu pemikiran yang irasional yang menggejala dalam bentuk munculnya keyakinan (palsu) bahwa hal itu benar-benar ia alami, atau ia dengar, atau ia lihat, dsb. Misalnya: Yakin betul bahwa ia bertemu dengan Tuhan Yesus, bahkan yakin betul bahwa ia sendiri telah diangkat menjadi rasul dan menuntut orang-orang lain mengikut dan menyembah dia.
iii. Faulty Emotional Expression (Ekpresi dari emosi yang keliru)
Setiap orang sudah belajar sejak kecil bagaimana mengekspresikan perasaan senang, susah, sakit, bahagia, kasih, benci, dsb. Dan umumnya orang yang normal mempunyai pengekspresian yang mirip dengan orang-orang lain. Misalnya, tertawa sebagai ekspresi dari rasa sedih. Tetapi tidak demikian halnya dengan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan, mereka seringkali melakukan pengekspresian emosi secara keliru, dan tentunya berbeda daripada orang-orang pada umumnya.
Pengekspresian emosi yang keliru ini dapat berbentuk:
a. Tanpa ekspresi Penderita sakit jiwa seringkali hidup dalam dunianya sendiri, sehingga emosinya tidak tergerak oleh keadaan dan situasi di sekelilingnya. Mereka tidak tertawa atas hal-hal yang lucu dan menyenangkan, juga tidak sedih atas hal-hal yang menyedihkan.
b. Elation atau Euphoria (ekspresi/gembira yang berlebih-lebihan) Penderita sakit jiwa juga sering kali mengekspresikan emosi secara berlebih-lebihan. Untuk hal yang kecil dia bisa tertawa sampai menangis.
c. Depresi Pada saat-saat tertentu setiap orang bisa mengalami/merasa tidak bergairah, kecil hati dan susah, tetapi hanya untuk sementara saja. Tetapi tidak demikian halnya dengan penderita sakit jiwa. Ada kasus-kasus di mana tanpa alasan yang jelas perasaan sedih itu timbul tenggelam dan bahkan bertahan lama. Mereka memang dapat mengatakan bahwa mereka kuatir terhadap sesuatu (entah pekerjaan, keluarga, kesehatan, masa depan, dll.) tetapi sebenarnya hal-hal itu bukan penyebab utama dari kekuatiran yang berlebih-lebihan itu. Hal-hal itu hanyalah 'precipitating factor' yang menjadi gangguan kejiwaan oleh karena sudah ada 'predisposing factor' pada mereka itu. Oleh karena itu, hal-hal yang bagi orang lain cuma menimbulkan perasaan sedih yang normal dan untuk sementara, bagi mereka menjadi "depresi" dimana putus asa dan tidak bahagia yang terus-menerus.
Enos D. Martin seorang psikiater menyebutkan tentang tiga jenis depresi dengan contoh-contoh praktis:
-- normal grief reaction (rasa sedih sebagai reaksi yang normal atas suatu 'kehilangan') Seorang pendeta yang mendekati masa pensiun merasa sedih oleh karena munculnya perasaan 'tidak berguna dan tidak dapat dipakai lagi'. Tekanan kesedihan itu telah menimbulkan macam- macam gangguan seperti misalnya kehilangan nafsu makan, tidak bisa tidur, sakit kepala, dsb. Ternyata setelah majelis gereja menyatakan bahwa pensiun baginya cuma berarti bahwa ia tidak perlu lagi mengerjakan tugas-tugas administrasi (yang berarti bahwa ia masih boleh berkotbah, melakukan konseling, dsb.) langsung gejala-gejala kejiwaan itu lenyap.
-- neurotic depression (depresi yang neurotis) Pendeta X mengalami depresi oleh karena sebagai pendeta senior ia merasa tersaing dengan munculnya pendeta muda yang dalam beberapa hal sangat dikagumi oleh jemaat. Ia tidak bisa tidur, kehilangan nafsu makan, dsb. Penghiburan dari banyak orang bahwa ia mempunyai lebih banyak kelebihan ternyata tidak menolong. Dalam kasus ini jelas bahwa kesedihannya bukan sekedar 'normal grief reaction', ia betul-betul menderita depresi dan harus mendapatkan pengobatan dari dokter. Diketemukan oleh dokter jiwa bahwa pendeta ini ternyata mempunyai 'predisposing faktor' untuk depresi, seperti misalnya, kegoncangan emosi cukup hebat pada masa kecil ketika ia sakit dan harus masuk rumah sakit, juga faktor lain bahwa semasa kecilnya ia kurang mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya.
-- endogenous depression (bakat depresi yang diturunkan dari orang-tuanya) Pendeta Y mengalami depresi oleh karena usahanya untuk mendamaikan dua orang tokoh gerejanya tidak berhasil, bahkan berakibat fatal, yaitu kedua-duanya justru menyalahkan dia. Ia sekarang merasa bahwa seluruh kehidupannya termasuk pelayanannya gagal. Ia kemudian menderita insomnia (tidak dapat tidur), kehilangan nafsu seksuil, nafsu makan, tidak ada gairah lagi pada segala hobinya, sering menangis dan menjauhkan diri dari perjumpaan dengan orang lain bahkan berkali-kali mencoba untuk bunuh diri. Diketemukan pada pendeta ini, adanya 'predisposing factor' depresi yang lebih berat dari pendeta X; karena pendeta Y mempunyai bakat-bakat biologis yang diturunkan dari orangtuanya. Ibunya juga seorang penderita depresi berat. ("What is Depression", Leadership, Winter 1982, Vol. III, No. 1, pp. 82-83).
d. Emotional variability (macam-macam pengekspresian emosi)
Setiap orang akan mengalami naik turunnya emosi sebagai reaksi atas pengalaman-pengalaman kehidupan ini. Tetapi bagi penderita penyakit jiwa naik turunnya emosi ini tidak sesuai dengan realita yang ada. Mungkin pengalaman yang menyenangkan ini sudah terjadi beberapa hari yang lalu dan tiba-tiba ia bisa tersenyum-tersenyum bahkan tertawa-tawa tanpa dapat dikontrol oleh karena ingat akan hal itu. Sering juga diketemukan penderita penyakit jiwa yang menangis tanpa alasan untuk menangis, atau tiba-tiba marah dan menyerang orang lain tanpa sebab, dsb.
e. Inappropriate affect (reaksi emosi yang tidak tepat)
Sedikit berbeda dengan 'emotional variability', di sini orang yang mendapat gangguan kejiwaan biasanya memberikan reaksi emosi yang tidak cocok dengan stimulan yang ada. Misalnya: -- Menangis mendengar cerita yang lucu -- Tertawa geli melihat orang yang sedih menangis ditinggalkan kekasihnya.
iv. Unusual motor activity (activitas motorik yang tidak normal)
Dalam kehidupan ini kita kadang-kadang dapat melakukan aktivitas motorik yang tidak biasa, misalnya: berlari, berkata, berpikir, berbuat lebih cepat atau lebih lambat daripada biasanya. Tetapi untuk itu selalu ada alasan dan tujuan yang jelas dan disadari, dan hanya untuk sementara saja, tetapi lain halnya dengan penderita penyakit jiwa. Sering kali kita bisa mengenali adanya tanda-tanda gangguan kejiwaan melalui aktivitas motorik yang tidak normal, misalnya:
a. Over activity (activitas yang berlebihan)
Sebagai contoh, pasien yang berbicara terus-menerus dengan susunan kalimat yang tidak mengandung pengertian sama sekali (kacau, dan irasional). Ketidakmampuan untuk duduk tenang, terus- menerus gelisah; terkejut bahkan lari ketakutan atas suara tertentu; tangan dan kaki bahkan mata yang bergerak-gerak terus, dsb.
b. Under activity (kurang aktif)
Sebagai kebalikan dari 'over activity', maka gejala penyakit jiwa sering kali ditandai oleh sikap diam, tidak bergerak-gerak, seperti seolah-olah lemah badan, tidak dapat berbicara, dsb.
c. Compulsive activity (aktivitas yang tidak terkendalikan)
Dalam hidup ini sering kali kita merasakan adanya dorongan yang besar untuk melakukan sesuatu, tetapi sering kali oleh karena sebab-sebab tertentu hal itu belum dapat dilaksanakan. Bagi orang yang normal hal ini biasa dan ia bisa menyesuaikan diri dengan mengalihkan perhatian pada aktivitas-aktivitas yang lain. Tetapi pada penderita penyakit jiwa tidak demikian, mungkin apa yang ia ingin lakukan sendiri tidak ia sadari lagi, tetapi ia merasakan adanya dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu aktivitas. Dan ini diekspresikan dengan menggigit-gigit kuku terus-menerus, menggaruk-garuk kaki, mempermainkan alat kelamin, menggigit-gigit bibir, melipat-lipat tangan, menulis-nulis dengan jari, menghisap ujung baju, dsb.
v. Gejala abnormal yang lain
Tanda-tanda lain dari adanya gangguan kejiwaan dalam ketegori ini sering kali dapat diketemukan dalam kehidupan sehari-hari dari orang-orang yang normal. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dan tidak menyamaratakan setiap gejala sebagai abnormal atau gejala penyakit jiwa. Misalnya:
• -- Disorientasi; dimana seorang bisa tidak tahu di mana ia berada, siapa dirinya, hari apa sekarang, dsb.
• -- Withdrawal; menarik diri dari pertemuan-pertemuan dengan orang-orang lain.
• -- Kecurigaan yang berlebih-lebihan.
• -- Kepekaan yang berlebih-lebihan terhadap otoritas.
• -- Menyembunyikan sesuatu secara tidak normal, misal, uang disimpan di bawah tanah.
• -- Rangsangan dan kebutuhan seksuil yang tidak normal.
• -- Kekanak-kanakan, dsb.
3. Sosial
Biasanya yang disebut abnormal oleh karena ia menunjukkan tingkah laku, sikap, cara berpikir, yang tidak cocok dengan standar normal masyarakat atau lingkungan di mana ia hidup. Manusia adalah makhluk sosial, karena itu ia mempunyai kebutuhan-kebutuhan sosial dan ingin menjadi bagian integral dari lingkungannya. Karena itu normal jika ia selalu cenderung untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Meskipun demikian, tidak secara otomatis orang yang "tidak dapat menyesuaikan diri" dapat disebut sebagai orang yang tidak normal atau punya gejala penyakit jiwa, jikalau ia dengan sadar melakukan hal itu. Yang mungkin oleh karena ia memang tidak/belum menjadi bagian integral dari masayarakat itu. Kasus-kasus seperti misionaris konteks sosial, kita baru bisa mengenali adanya gejala abnormal, jikalau orang yang bersangkutan secara tidak sadar bertingkah laku yang tidak sesuai dengan standar normal masyarakat, yang secara integral ia sendiri menjadi bagian di dalamnya.
4. Spiritual (rohani)
Gejala-gejala penyakit jiwa dapat pula mengekspresikan diri secara spiritual, misalnya gagasan perasaan berdosa yang tidak terampunkan, fanatik, keragu-raguan yang terus-menerus, dsb. Frank Minirth mengatakan bahwa gangguan-gangguan kejiwaan bisa menggejala secara rohani:
"A person with an impending psychotic break may display an intense religious preoccupation. Someone having an obsessive compulsive neurosis may struggle with a fear of having committed the unpardonable sin. Or he may fear he hasn't really trusted Christ as Savior. Emotional and physical problems manifest still another spiritual cloaks. Individuals with temporal lobe epilepsy may communicate renewed religious interest and moral piety. Those with a manic-depressive psychosis may talk in a religious jargon. People diagnosed as having schizophrenia, obsessive-compulsive, ego-alien thought, and multiple personalities are sometimes victims of demon-possession." ("Why Christians Crack-Up". Moody Monthly. Feb. 1982. p.13)
Posted by
tikituka
at
9:01 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Pantaskah Orang Kristen Menghargai Diri?
Ada orang-orang Kristen yang memiliki pengertian teologis yang salah tentang harga diri. Mereka berpikir bahwa manusia adalah mahluk yang sudah tercemar oleh dosa, oleh karena itu ia hina dina dan tidak ada harganya dan tidak pantas dikasihi. Jika ada orang Kristen yang menganggap diri layak dikasihi dan merasa dirinya baik adalah manusia yang sombong. Sebaliknya orang Kristen yang menghina diri adalah orang Kristen yang rendah hati. Betulkah demikian? Betulkah orang Kristen tidak pantas menghargai diri?
1. Alkitab mengajarkan bahwa manusia sangat berharga
Seluruh Alkitab secara konsisten mengatakan bahwa manusia berharga. Pertama, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27). Kedua, karena Allah memelihara dan mengasihi umat-Nya sebagai "biji mata" Nya (Ul. 32:10).
2. Manusia tetap dihargai sekalipun telah jatuh dalam dosa
Alkitab berkata bahwa karena ketidaktaatan, manusia jatuh dalam dosa dan harus dihukum oleh Allah. Allah membenci dosa yang dilakukan manusia, tetapi Allah tidak membenci manusia. Ia tetap menunjukkan kasih-Nya, bahkan ketika kita masih berdosa (Rom. 5:8). Allah mengasihinya sehingga Ia mau mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menebus manusia agar manusia beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16).
3. Menghargai diri tidak sama dengan menyombongkan/memuja diri
Menghargai atau mengasihi diri tidak sama dengan menyombongkan diri atau memuja diri, dan juga tidak sama dengan mementingkan diri sendiri (egoist). Orang Kristen dapat memiliki harga diri yang positif bukan karena apa yang telah ia perbuat dan bukan karena keberadaannya sebagai manusia, namun semata-mata karena anugerah Allah dan karunia keselamatan yang diberikan-Nya (Gal. 6:14; Rom. 15:17).
4. Allah menghargai apa yang manusia lakukan untuk Allah
Ketika Allah memilih untuk menyelamatkan manusia, maka Ia pun berkenan memanggil manusia untuk ikut ambil bagian dalam karya pekerjaan-Nya (Ef. 2:10)). Oleh karena itu Allah juga menerima puji-pujian dari manusia, karena Allah memang menciptakan manusia untuk kemuliaan-Nya (Yes. 43:21).
Setelah membaca beberapa bagian dari Alkitab di atas, masih pantaskah orang Kristen menghina diri? Jika Allah memandang manusia berharga, maka kita harus memandang diri kita berharga sebagaimana Allah memandang kita.
Posted by
tikituka
at
9:00 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Moralitas dan Rasa Hormat
Virginia Satir, seorang pakar terapi keluarga, mengemukakan bahwa suami-istri adalah poros keluarga. Dengan kata lain, hubungan suami-istri sangat mewarnai kondisi keluarga secara keseluruhan. Salah satu aspek kehidupan suami-istri yang berdampak langsung pada keluarga ialah kehidupan moral suami dan istri.
Sebagai contoh, keberhasilan orang mendisiplin anak sangat terkait dengan kehidupan moral orangtuanya. Apabila anak menghormati kehidupan moral orangtua, anak juga cenderung mematuhi petuah orangtua. Sebaliknya, wibawa orangtua untuk menerapkan disiplin kepada anak mudah merosot jika anak sudah tidak menghormati kehidupan moral orangtuanya lagi.
Konsep yang sama dapat pula diterapkan pada hubungan suami-istri. Sesungguhnya, respek terhadap pasangan sangat bertalian dengan kehidupan moral pasangan itu sendiri. Respek yang telah tererosi akan meresap masuk dan membawa pengaruh pada banyak aspek kehidupan suami-istri. Sebaliknya, respek yang terpelihara (apalagi bertambah) akan menyederhanakan dan menyelesaikan persoalan dalam pernikahan. Itu sebabnya, bagian moral merupakan elemen yang integral dalam kehidupan suam-istri, namun malangnya, acap kali luput dari perhatian kita.
Kehidupan moral dapat dibagi dalam dua unsur: standar dan perilaku. Standar moral mencakup keyakinan tentang benar-salah dan baik-buruk sedangkan perilaku moral mengacu kepada perbuatan konkretnya sendiri. Kesamaan atau kesesuaian antara standar dan perilaku moral, saya sebut ‘integritas’. Jadi, orang yang mengaku Kristen tetapi kalau marah memukuli istrinya, adalah orang yang tidak memiliki integritas. Hal yang sama bisa ditujukan kepada seorang istri yang mengaku respek terhadap suaminya namun sering melontarkan kata-kata yang menghina. Integritas adalah kekonsistenan antara apa yang diucapkan dan yang dilakukan, antara yang apa yang diyakini dan yang diperbuat.
Hampir semua orang dapat mengemukakan apa yang dipercayainya sebagai kebaikan dan keburukan, tetapi tidak semua bisa hidup sesuai dengan standar moralnya itu. Adakalanya suami menolak "khotbah" istrinya sebab ia tidak melihat integritas pada istrinya. Mungkin suami itu berdalih, "Engkau sendiri melakukan hal yang sama!" Atau, kadang istri sukar menerima keputusan suaminya, sebab ia tahu bahwa keputusan itu, toh, akan dilangggar oleh suaminya sendiri pula.
Hampir semua orang dapat mempunyai integritas—dengan standar moral yang rendah. Maksud saya, bukankah mudah bagi kita untuk meraih standar jika standar itu rendah. Jadi, akan ada orang yang berkata, "Saya tidak suka berpura-pura! Kalau saya main perempuan, saya pasti memberitahukan istri saya. Terserah dia mau terima atau tidak!" Standar dan perilaku moral yang rendah, betapapun menunjukkan integritas, tetap berdampak negatif terhadap pernikahan—tidak akan membuahkan respek pada diri pasangannya.
Bila kita ingin meningkatkan kualitas hubungan nikah, tidak bisa tidak, kita mesti memelihara integritas yang tinggi. Standar moral harus sepadan dengan yang telah Tuhan tetapkan. Firman Tuhan memacu kita untuk memiliki standar yang tinggi, sebagaimana dapat kita tilik di Filipi 4:8, "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."
Sejak kecil istri saya sudah hidup di luar negeri sebelum akhirnya menetap di Amerika Serikat. Setelah kami menikah, kami pun menancapkan akar kami di negeri Paman Sam itu. Sewaktu kami kembali ke Indonesia, 9 tahun yang lalu, ia harus meninggalkan keluarga dan kehidupannya di sana—sebuah keputusan yang tidak mudah diambil. Ia melakukannya dengan suatu keyakinan bahwa itulah yang Tuhan tuntut darinya. Dengan setia ia mendampingi saya di sini dan setiap hari saya melihatnya membaca Alkitab dan bersaat teduh dengan Tuhan. Ia jugalah yang memastikan agar anak-anak membaca Alkitab setiap hari dan memantau kehidupan rohani mereka. Apa yang muncul dalam hati saya menyaksikan semua ini? Respek!
Apakah kami tidak lagi berselisih paham setelah melakukan semua ini? Sudah tentu masih—kadang kecil, kadang besar. Namun, respek yang telah menyerapi benak kami bekerja sebagai penawar dan penahan berkembangnya masalah. Respek tidak usah dicari dari luar sebab itu tidak akan ada. Respek bertunas dari kehidupan moral yang "mulia dan patut dipuji."
Posted by
tikituka
at
9:00 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Menjaga Kesehatan Mental
Seandainya manusia memiliki mental yang sehat, seorang Kristen mampu menjaga kesehatan mentalnya dan menghindar dari masalah-masalah kejiwaan, misalnya saja dengan menjalankan beberapa prinsip-prinsip berikut ini:
1. Orang harus menerima fakta bahwa hidup itu tidak indah. Dalam hidup ini pasti ada kesulitan-kesulitan dan kekecewaan-kekecewaan yang mengharuskan orang untuk selalu mempersiapkan diri dan menyesuaikan diri. Sikap dan kemampuan menerima ini akan lebih mudah untuk dijalankan apabila ia percaya akan kasih karunia Allah yang Maha Pengasih.
2. Ia harus mau memberikan tanggapan yang rendah hati dan penuh kasih, tidak egois dan mau memaafkan dalam setiap hubungannya dengan orang-orang lain.
3. Ia harus mengembangkan dalam dirinya suatu tempat dimana ia merasa aman dan dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Adalah hal yang penting bila dia juga mempunyai tujuan yang layak dicapai dan bila tujuan tersebut telah tercapai sesuai dengan keinginannya, harus ada tujuan lain yang segera ditetapkannya.
4. Harus ada hal lain yang dicari. Menghabiskan waktu untuk bekerja dan tidak memberi kesempatan diri sendiri untuk bermain-main justru membuat seseorang tumbuh sebagai pribadi yang membosankan. Orang-orang Kristen banyak yang gagal untuk hal yang satu ini. Kebanyakan dari mereka beranggapan adalah hal yang dosa membiarkan diri bersenang-senang. Mereka melupakan seruan Paulus kepada Timotius yang mengatakan bahwa kita seharusnya percaya kepada Tuhan "yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (1 Timotius 6:17). Ada ribuan cara yang dapat dilakukan oleh orang Kristen, baik tua maupun muda, dimana mereka dapat menemukan kesenangan dan kebahagiaan dalam hidup tanpa merasa takut bahwa apa yang mereka lakukan akan mengundang kemarahan Tuhan.
5. Akhirnya, tak perlu diragukan lagi bahwa iman yang teguh, -- meliputi keyakinan yang mendalam dan kepercayaan akan Allah, dan kemauan untuk menerima bimbingan dari Roh Kudus dalam kegiatan positif -- dapat memberikan sumbangan yang cukup penting bagi orang Kristen dalam usahanya untuk menerima dan menyesuaikan diri menghadapi tekanan kehidupan yang bisa mengancam kestabilan emosinya dan kesehatan mentalnya. Kepenuhan iman yang meliputi keyakinan dan kepercayaan dapat menuntun orang untuk melakukan tindakan nyata.
Posted by
tikituka
at
8:59 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian
Menciptakan Pribadi yang Menyenangkan
Untuk menciptakan pribadi yang menyenangkan, buatlah daftar semua sikap Anda yang baik dan yang buruk terlebih dahulu. Lalu tentukan apa yang Anda dan orang lain tidak suka dari daftar tsb. sebelum Anda memutuskan untuk mengubahnya.
Beberapa saran :
• Dengarkan diri Anda dan biarkan orang lain berbicara pada Anda.
• Gunakan rasa keingintahuan alamiah Anda untuk mengembangkan minat pada orang lain. Anda mungkin akan menyukai mereka, dan mereka juga akan menyukai Anda.
• Tataplah mata orang yang berbicara dengan Anda. Jika tidak dapat melakukannya, lihatlah wajahnya.
• Jangan menilai terlalu kecil untuk usaha yang telah dilakukan orang lain, jika perlu berikan penghargaan.
• Jangan membual-kenyataan tentang diri Anda akan menunjukkan diri Anda yang sebenarnya. Bersikaplah sederhana jika Anda menjadi pusat perhatian.
• Penghargaan pada Anda akan datang seiring dengan penghargaan Anda pada orang lain. Asumsikan bahwa selalu ada dua sisi dalam setiap pernyataan.
Posted by
tikituka
at
8:58 AM
0
comments
Labels: masalah karakter dan kepribadian