Pertanyaan ini adalah pertanyaan "klasik" yang selalu muncul dari abad ke abad, dari generasi ke generasi, baik miskin atau kaya. Manusia mencari jawaban atas pertanyaan ini karena dari lubuk hatinya yang paling dalam, manusia tahu bahwa tidak mungkin ia diciptakan oleh Penciptanya tanpa tujuan. Ada banyak orang masih percaya sampai sekarang bahwa Allah menciptakan manusia karena Ia kesepian dan Ia membutuhkan persekutuan dengan orang lain, maka diciptakanNyalah manusia. Hal ini sulit kita terima karena sebagai orang Kristen kita tahu bahwa di dalam ketiga oknum Allah Tritunggal ada persekutuan yang sempurna. Ada juga yang berkata bahwa Allah menciptakan manusia untuk membuat dunia lebih baik. Hal ini juga tidak menolong kita karena kita tahu bahwa dunia tidak bertambah baik dan "dunia akan lenyap dengan segala keinginannya".
Sumber utama bagi iman Kristen untuk mencari kebenaran adalah dari Alkitab, karena Alkitab adalah Penyataan Allah tentang Diri-Nya dan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya dari manusia. Alkitab berkata bahwa Allah mempunyai tujuan yang jelas mengapa Ia menciptakan manusia:
1. Manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan
Yesaya 43:7
"Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku, yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang Kujadikan!"
Efesus 1:11-12
"Aku katakan 'di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak- Nya -- supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya."
Wahyu 4:11
"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendakMu semuanya itu ada dan diciptakan."
1 Korintus 10:31
"Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah."
2. Manusia diciptakan untuk menikmati persekutuan dengan Tuhan
Mazmur 27:4
"Satu hal yang kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini; diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati Bait-Nya."
1 Korintus 1:9
"Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia."
2 Korintus 13:13
"Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kami sekalian."
3. Manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya Yohanes 14:21
"Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadanya."
1 Tesalonika 2:12
"dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya."
Wahyu 2:26
"Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa- bangsa."
06 January 2008
Untuk Apakah Manusia Diciptakan ?
Posted by
tikituka
at
7:44 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Tiga R
Hidup tidak selalu berpihak pada kita. Adakalanya kita terhempas jatuh dan jauh tanpa bisa berbuat apa-apa dan pada akhirnya kita mengalami depresi berkepanjangan. Tidak ada lagi semangat hidup yang tersisa pada diri kita dan apa pun yang pernah kita pertimbangkan untuk kita lakukan, sekonyong-konyong tidak lagi membuih di hati. Justru kebalikannya yang kita rasakan. Kita melihat betapa mustahilnya untuk memulai apa-apa karena kita menduga usaha ini pun akan berakhir dengan kegagalan. Kita tidak lagi menikmati hiburan sebab hiburan telah berhenti menghibur kita dan teman sejawat bukan lagi tempat untuk curhat, apalagi bersosialisasi. Kita lebih suka menyendiri dan merenung meski kita tahu bahwa perenungan kita tidak membawa manfaat apa pun.
William Glasser mempunyai pemikiran yang layak kita pertimbangkan. Baginya, pengobatan untuk gangguan tekanan hidup seperti depresi adalah dengan menyodorkan realita kepada pasiennya. Ia tidak tertarik untuk mendengarkan keluh kesah kita akan penyebab depresi dan ia pun tidak ingin kita mencari-cari tahu latar belakang keluarga yang membuat kita depresi. Cukup sudah baginya fakta bahwa kita sedang mengalami depresi. Persoalannya adalah apa yang kita lakukan sekarang, bukan sebelum kita mengalami depresi.
Glasser menguraikan teorinya dengan tiga R yaitu (a) "reality", (b) "responsibility", dan (c) "right-wrong". Jika kita menderita depresi, pertama-tama kita mesti menghadapi realitas hidup apa adanya, bukan apa yang seharusnya terjadi atau tidak terjadi. Pemikiran "seharusnya" niscaya menjauhkan kita dari realitas dan hanyalah memasukkan kita ke alam khayali dan impian. Sebaliknya, pemikiran "apa adanya", membawa kita masuk ke dalam realitas dan memaksa kita memikirkan apa yang harus kita lakukan sekarang. Inilah R pertama, yakni realitas.
Jadi, jika kita kehilangan anak yang kita kasihi, kita mesti menghadapi realitas kehilangan itu dengan cara mengakui makna kehadiran anak tersebut dalam kehidupan kita dan melihat apa yang terhilang dalam kehidupan kita dengan kepergiannya. Makin berlama- lama kita melihat dan mengakui kepergiannya makin parah depresi yang harus kita alami. Sebaliknya, makin cepat kita melihat dan mengakui kepergiannya, makin cepat pulalah kita menyadari apa yang harus kita perbuat untuk mengisi kepergiannya. Inilah R kedua, yakni "responsibility" atau tanggung jawab.
Glasser menjelaskan bahwa bertanggung jawab bukan berarti meletakkan tanggung jawab di pundak kita atas apa pun yang menimpa kita. Dalam kasus kehilangan anak, sudah tentu kepergiannya tidak kita kehendaki dan jika memungkinkan, kita akan berusaha mencegahnya. Glasser mengakui kadang sesuatu terjadi dalam hidup ini, sesuatu yang buruk dan kita tidak berdaya untuk menghalaunya. Sungguhpun demikian, kita tetap bertanggung jawab atas hidup kita sekarang ini dalam pengertian, apa itu yang kita akan lakukan dengan hidup kita. Glasser menekankan bahwa kita mesti hidup dengan penuh tanggung jawab dan baginya, ini adalah peran sentral kita sebagai manusia.
Hidup bertanggung jawab berarti mulai memikirkan apa itu yang mesti kita kerjakan untuk, misalnya, mengisi kepergian anak yang kita kasihi itu. Hidup bertanggung jawab juga berarti bahwa kita menyalahkan orang lain setepat mungkin. Tatkala kita memfokuskan pada apa yang dapat kita perbuat sekarang, tiba-tiba mata kita tidak lagi terlalu menyoroti pada apa yang orang telah perbuat kepada kita. Sebaliknya, bila kita memilih untuk tidak berbuat apa-apa sekarang, maka mata kita akan dengan mudah terfokus pada orang lain. Kita cenderung beranggapan bahwa orang lainlah yang bertanggung jawab atas segala kesusahan yang kita alami sekarang. Hidup bertanggung jawab merupakan tindak lanjut dan tanggapan atas keberanian melihat realitas kehidupan kita sekarang ini. Jadi, semakin cepat dan tepat kita bertindak, semakin cepat kita pulih dari depresi. Sebaliknya, semakin lama kita berdiam diri, semakin lama pula kita terantai dalam depresi.
R ketiga adalah right-wrong. Glasser menegaskan bahwa kita hanya akan dapat melihat diri secara positif jika kita melakukan tindakan yang benar. Mustahil kita akan dapat menyenangi diri sendiri bila kita terus melakukan hal-hal yang salah. Sebaliknya, jika kita melakukan hal yang benar, barulah kita bisa berbangga dan bersenang hati. Di sini diperlukan kemampuan untuk memilih atau mengambil keputusan dengan benar. Pilihan yang salah tidak akan mengangkat kita dari kubangan depresi.
Bagi Glasser, tugas terapis adalah membantu orang untuk melaksanakan ketiga R ini namun ia menyadari bahwa tanpa keterlibatan yang bersifat pribadi, mustahil kita bisa menolong orang menindaklanjuti ketiga R ini. Orang yang sedang mengalami depresi tidak membutuhkan kuliah dari kita, yang ia butuhkan adalah keterlibatan konkret dari pihak kita. Ia harus dapat melihat bahwa kita sungguh-sungguh memahami kondisinya dan bahwa kita tulus ingin menolongnya. Keterlibatan kita dalam kehidupannya akan memberinya pinjaman energi dan pengharapan yang dibutuhkannya.
Keterlibatan kita tidak terbatas hanya dalam memberikan dukungan- dukungan yang "manis." Kadang, Glasse menegaskan, kita mesti mendorong orang dengan cara yang tidak "manis." Misalnya, dalam menyikapi pilihannya yang salah, kita mesti berani mengkomunikasikan kepadanya bahwa ia telah mengambil langkah yang salah. Namun, sikap itu tidak berkonotasi penolakan terhadap dirinya. Atau, sewaktu ia terus enggan melihat kehilangannya, kita mesti menyadarkannya dengan penuh kasih sayang. Tujuannya jelas, yakni agar kita tetap dapat membimbingnya melewati ketiga fase pemulihan itu mengakui realitas, memikul tanggung jawab, dan melakukan tindakan yang benar.
Depresi bukanlah gangguan berdimensi tunggal, banyak fakta yang terlibat di dalamnya. Depresi pun terbagi dalam pelbagai intensitas keparahan, makin parah makin melumpuhkan. Namun, pada akhirnya memang kita mesti menghadapi ketiga R ini. Dan, ingatlah, di setiap R itu ada T, yaitu Tuhan. Melihat realitas dengan kekuatan Tuhan, memikul tanggung jawab bersama Tuhan, dan mengambil tindakan yang benar menurut kehendak Tuhan.
Posted by
tikituka
at
7:44 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Tentukan Niat Tahun Baru Anda Dalam Soal Memberi
Tentukan niat "memberi" saat Anda menyusun janji Anda untuk tahun mendatang. Di antara banyak definisi di dalam kamus untuk kata resolusi, baru-baru ini bagi saya mendapat arti baru: "mengurangi sehingga menjadi lebih sederhana." Seringkali, kita cenderung membuat terlalu banyak tekad. Cobalah memusatkan perhatian hanya pada satu tekad untuk perubahan dalam hidup Anda.
1 Perubahan apakah yang akan membuat hidup Anda lebih jelas fokusnya dalam tahun mendatang?
2 Apakah satu hal sangat penting yang Anda inginkan dalam hidup Anda?
3 Apakah prioritas utama Anda?
4 Apakah tujuan atau tantangan rohani Anda?
5 Apakah karunia dari Tuhan yang paling Anda inginkan tahun ini?
Pilihlah satu hal itu sebagai dasar tekad Anda. Usahakan untuk tidak bimbang ketika menghadapi Tahun Baru. Tanyakan pada diri Anda, "Kalau semua ini sudah selesai, apa sebenarnya yang paling berarti?" Pusatkan energi Anda dan hari-hari mendatang pada akhir itu.
Kesadaran
Akar Latin untuk kata bahasa Inggris "resolution" berbicara tentang kesadaran atau sesuatu yang kita ketahui di luar indera biasa. Sangat penting kita berusaha menyadari apa yang terbaik dari Tuhan untuk kehidupan kita. Penting sekali untuk membungkus resolusi Tahun Baru kita dengan doa. Mintalah pada Bapa di sorga untuk membantu Anda melihat tujuan-Nya untuk hidup Anda, menemukan kerinduan-Nya bagi Anda, mengungkapkan cara bagaimana Ia menginginkan Anda tumbuh dan menjadi semakin menyerupai Putra-Nya.
Kata Yunani bagi resolusi berhubungan dengan konsep "memilih" atau "memutuskan." Resolusi atau tekad Anda harus berakar mendalam pada niat Anda. Kalau tidak, tekad Anda hanya menjadi sekedar keinginan atau lamunan. Untuk mencapai atau melakukan apa Anda benar-benar bersedia memberikan energi fisik, gagasan, dan energi emosional?
Pertimbangkan untuk mendasarkan semua tekad Anda dalam konsep sentral untuk memberi. Apa yang Anda putuskan untuk diberikan pada Tuhan pada tahun mendatang? Pikirkan dalam bentuk waktu, kemampuan, keuangan, kreativitas. Apa yang bisa Anda lakukan untuk memperluas kerajaan-Nya, untuk memberi sukacita di hati-Nya, untuk berbagi kabar baik-Nya dengan orang lain?
Apa yang akan Anda berikan pada diri Anda sendiri tahun mendatang? Ya, pada Anda! Jangan lupa memberi pada diri sendiri. Sadari bahwa diri Anda patut mendapat karunia Tuhan yang terbesar, dan dengan demikian patut mendapat hadiah terbaik dari diri Anda. Pertimbangkan cara baru untuk memberi pada diri Anda hadiah pengampunan, kesehatan, dan sukacita.
Apa yang akan Anda berikan pada orang-orang di sekitar Anda? Cara apa yang lebih baik untuk berbagi kehidupan dengan mereka? Tuhan mengaruniakan Putra-Nya pada Anda sebagai hadiah yang Ia ingin Anda bagikan dengan orang lain. Pikirkan cara untuk melakukannya.
Posted by
tikituka
at
7:43 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Stress dan Musik
Ada satu hasil penelitian tentang perceraian yang cukup mengejutkan tatkala saya membacanya lebih dari 10 tahun yang lampau. Ternyata, penyebab pertama perceraian di Amerika Serikat adalah masalah keuangan, bukan perselingkuhan atau masalah ketidaksetiaan lainnya. Saya tidak tahu apakah hasil riset itu tetap sama pada saat ini dan saya juga tidak tahu apakah data itu relevan dengan konteks di Indonesia. Tetapi dalam krisis ekonomi seperti sekarang ini, saya pikir ada baiknya kita meluangkan waktu sejenak menelaah imbasan tekanan ekonomi pada hubungan suami-istri.
Aspek finansial merupakan bagian integral dan hakiki dalam kehidupan berumah-tangga. Kesulitan ekonomi tidak bisa tidak akan mempengaruhi segenap sendi kehidupan berkeluarga. Tanpa kita sadari, uang telah menjadi salah satu penyanggah kelangsungan hubungan suami-istri. Banyak aktivitas keluarga yang bergantung pada dukungan moneter, seperti rekreasi, makan keluar, membeli mainan, dan sebagainya. Uang pun bersumbangsih dalam kemesraan relasi suami-istri; bukankah dasi yang menawan bagi suami dan cincin yang berkilau untuk istri memerlukan dana yang tak sedikit? Sudah tentu kebutuhan pokok keluarga juga bersandar sepenuhnya pada pemasukan uang; dengan uang yang cukup kita mencukupi kebutuhan jasmani dan mental keluarga, misalnya pendidikan anak dan les musik.
Melihat begitu menyatu dan berperannya uang dalam kehidupan berkeluarga, kita bisa mafhum bahwa gangguan pada kucuran keran finansial akan dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan berkeluarga. Ada beberapa efek yang berpotensi mengganggu kelanggengan keluarga.
Pertama, kesulitan finansial memaksa kita mengubah gaya hidup kita. Sebagian gaya atau kebiasaan hidup mudah diubah, sebagian susah, tergantung pada berapa besar makna gaya hidup itu bagi kita. Ada yang dengan mudah membatalkan jadwal main golf, namun ada yang mengalami kesukaran melakukannya. Bagi sebagian orang, main golf hanyalah olahraga; tidak lebih, tidak kurang. Namun untuk sebagian orang lainnya, golf sudah menjadi identitas diri. Bagi mereka, golf adalah pergaulan sosial dan penyegaran mental; dengan kata lain, golf sudah menjadi kebutuhan hidup. Akibatnya, sewaktu golf menghilang dari daftar aktivitas mingguan, menghilang pulalah kesegaran tubuh dan jiwa.
Ada banyak contoh seperti golf di mana pada akhirnya kita telah menambah jumlah sembilan kebutuhan pokok menjadi 10. Kesulitan finansial biasanya mengharuskan kita memangkas dan meredefinisi kebutuhan "pokok" yang sudah sekian lama menjadi bagian kehidupan kita. Ketegangan suami-istri-anak dapat muncul dengan mudahnya tatkala kita merasa bahwa pasangan kita enggan mengurangi kegiatan rutinnya sedangkan kita sendiri sudah bersusah payah melakukannya. Kemarahan bisa memuncak sewaktu kita menganggap bahwa pasangan kita egois dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Misalnya jika kita harus mengorbankan sesuatu yang kita sukai; atau apabila kita menyaksikan bahwa pasangan kira bukan saja tidak mendukung usaha kita, malah mensabotasenya. Dalam keadaan seperti ini kerelaan kita berkorban terpengaruh; kita menunggu dulu tindakan pasangan kita. Apabila ia tetap tidak berubah, kita pun tergoda untuk tidak berubah. Pada akhirnya yang muncul adalah kebencian.
Kedua, masalah keuangan, sebagaimana masalah lainnya, akan melahirkan tekanan baru pada hubungan suami-istri. Kita mungkin kehilangan gairah hidup, kurang santai, dan tegang sebab pikiran kita terhanyut dalam kemelut finansial. Kita berupaya untuk tidak terlalu memikirkan masalah keuangan namun tidak kuasa membendung arus berita yang sarat dengan nuansa problem moneter. Ketegangan sudah tentu berdampak langsung pada kemesraan karena kemesraan biasanya muncul dalam suasana santai di mana kita dapat saling menikmati satu sama lain. Pokok pembicaraan pun beralih ke arah problem dan pemecahannya - topik yang berat - tidak lagi pada hal- hal yang ringan, seperti kelucuan tingkah laku anak atau palayanan. Bahan yang berat sudah tentu akan menambah beratnya beban di hati kita. Suasana rumah pun berubah serius dan tegang bak api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa memercikkan lidah api pertengkaran.
Pertengkaran mudah meletup dalam suasana hati yang tegang dan hambar. Pada umumnya salah satu penyebab pertengkaran pada masa krisis adalah kecenderungan kita untuk saling menyalahkan. Respons alamiah kita menghadapi problem ialah mencari sumber malapetaka itu dan dalam hal ini, kita mungkin menyesali keputusan atau tindakan pasangan kita di masa lampau. Kita mulai berkata-kata dengan bahasa "seandainya", karena kita perpikir bahwa tindakan atau keputusan yang diambilnya berpengaruh besar dalam penderitaan kita sekarang ini. "Kalau saja ia tida gegabah menjual rumah itu, seandainya ia lebih sabar dan tidak membeli mobil itu," kira-kira itulah cetusan kekesalan kita (yang mungkin saja sangat beralasan). Namun kita pun tahu bahwa salah-menyalahkan akan mengobarkan api kemarahan dan makin memperlebar jurang di antara kita. Banyak hal lain yang dapat kita kaitkan dengan tekanan ekonomi, namun semuanya itu berdampak serupa pada keluarga kita: Stres!
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan guna menanggulangi masalah stres ini namun kali ini saya akan memfokuskan pada satu hal saja: Musik! Belum lama ini seseorang memberikan saya sebuah buku yang menarik, Music as Medicine, yang ditulis oleh Deforia Lane, seorang music therapist. Ternyata musik berpengaruh besar khususnya dalam proses pemulihan dan perilaku kita pada umumnya. Perhatikan data- data berikut ini. Musik dapat memancing emosi yang kuat, yang kemudian mempengaruhi sistem syaraf otonom di mana syaraf ini akhirnya mengeluarkan hormon dan endorfin tertentu, yang adalah penahan sakit alamiah dari tubuh kita. Musik yang diperdengarkan dengan tempo sedang di pasar swalayan menyebabkan kenaikan kuantitas belanja sebanyak 28%. Rupanya kita berjalan sesuai dengan irama musik yang lambat dan ini membuat kita merasa lebih senggang untuk membeli barang. Musik juga dapat menurunkan tekanan darah tinggi, detak jantung dan pernafasan yang cepat. Musik bisa pula mengurangi persepsi kita akan rasa sakit, ketakutan, stres, dan kecemasan. Sungguh mencengangkan kekuatan musik dalam hidup kita! Tidak heran bahwa kitab terpanjang di Alkitab adalah sebuah buku nyanyian!
Jika musik adalah karunia Tuhan bagi kita yang sedang mengalami tekanan, mengapa tidak kita manfaatkan kegunaannya? Saya yakin meski musik tidak dapat menghilangkan problem kita, namun ia bisa membantu kita menghadapinya. Musik memang bukan solusi atas kesulitan kita, tetapi musik dapat menolong kita bersikap lebih tenang dan santai dalam memecahkan masalah yang kita hadapi. Musik tidak dapat menggantikan Firman Tuhan namun musik dapat dipakai Tuhan mengkondisikan kita agar siap mendengarkan Firman dan janji-Nya. Sudah tentu kita perlu arif memilih musik yang sesuai. Senandung yang tenang akan mengisi kalbu kita dengan kedamaian sedangkan lantunan yang gembira akan menceriakan jiwa kita.
Stres merupakan gejala ganda: fisik dan mental. Sewaktu kita tertekan, bukan saja pikiran kita kalut dan hati kita terhimpit, tubuh kita pun lemah lunglai atau tegang, tidak nyaman. Musik memasuki fungsi fisik kita melalui pintu indera pendengaran dan diteruskan ke otak yang mengatur reaksi mental kita terhadap peristiwa yang menimbulkan stres itu. Tatkala otak kita mulai mengalami pengaruh menyejukkan dari musik itu, ia pun akan menebarkan rasa nyaman ke seluruh tubuh kita. Kebanyakan dari 150 pasal di Mazmur (yang berarti "nyanyian") berisikan pergumulan pemazmur mengatasi stres yang menekannya. Dengan kata lain, pemazmur mengungkapkan perasaan hatinya melalui lagu alias musik. Musik menjadi sarana ekspresi diri dan sekaligus wahana pemulihan di mana melaluinya pemazmur berkomunikasi dengan Allah dan menerima peneguhan janji-Nya. Saya kira pada masa yang tidak menentu dan mencemaskan ini, itulah yang kita perlukan.
RETROSPEKSI
Oleh: Dr. Yakub B. Susabda
"Keutuhan pribadi (integrated personality) merupakan tujuan utama dari setiap pendidikan, baik itu formal maupun informal. Dengan kehidupan yang utuh (integrated life) manusia dapat menghadapi kondisi hidup sesulit apapun. Paulus di tengah aniaya penjara, tetap dapat merasakan self-content (tidak merasa kekurangan apapun juga) dan bahkan merasakan sukacita surgawi (Filipi 4:4-13) karena kehidupannya yang utuh. Ia tidak lagi terjebak dalam jerat konflik batin yang berlarut-larut (Roma 7:13-25) antara apa yang ia percayai dan apa yang ia rasakan atau alami, karena ia berhasil membangun keutuhan hidupnya. Meskipun demikian tidak berarti Paulus terbebas sama sekali dari pergumulan hidup. Pengalaman dengan stres oleh karena kehidupan yang memang stressful tetap ada, tetapi ia bukan lagi seorang pribadi yang tidak berdaya. Ia, bersama dengan hamba- hamba Tuhan yang lain (Habakuk 3:16-19, Ibrani 11) adalah pemenang- pemenang yang pantas menerima mahkota kebenaran (II Tim 4:8). Bagaimana dengan kita? Mungkin beberapa pokok pikiran di bawah ini dapat membekali mereka yang merindukan kehidupan yang utuh.
1 Jangan menyangkali (denying) realita (yang mungkin stressful dan conflicting), tetapi hadapi dan selesaikan dengan baik. Paul Tournier, seorang dokter dan psikolog, pernah mengatakan bahwa, "there is no life without repression. We can not boldly commit ourselves without repressing our fears ... in the adults life, there is no laughter that does not hide secret tears, either unadmitted or unconscious, nor are there any tears behind which is not some repressed enjoyment" (tak pernah ada kehidupan tanpa tekanan. Tak mungkin secara utuh kita dapat membuat suatu komitmen pada apapun juga tanpa ada kekuatiran di belakangnya ... Dalam kehidupan orang dewasa, tak pernah ada gelak-tawa tanpa menyembunyikan air mata, meskipun mungkin ini tak diakuinya. Begitu juga, tak mungkin ada cucuran air mata yang semata-mata bernilai dukacita. Pasti ada unsur-unsur "suka-cita" yang ditekan dan sengaja dilupakan).(Reflections, Phil: Westminster Press. 1976).
Hidup ini memang selalu menyediakan dua sisi, yang saling berlawanan, untuk diresponi. Pemenangnya adalah mereka yang tahu memberi respons yang tepat yang justru dapat mengintegrasikan kedua unsur yang berlawanan tersebut dalam batinnya. Makin dewasa seorang ia makin mampu menerima tanpa menyangkali realita yang sesungguhnya. Bahkan kasih dan kebencian pun dapat diintegrasikan dalam jiwa orang yang dewasa. Seperti yang Tournier, dalam buku yang sama, katakan bahwa, " hatred and love are two emotions very, very close to one another ... He who can not hate intensely cannot love deeply." (Kebencian dan kasih merupakan dua macam emosi yang sangatdekat satu dengan lainnya ... Orang yang tak pernah dapat membenci sesama dengan sungguh-sungguh, tak mungkin dapat mencintai sesama dengan sungguh-sungguh pula). Dalam kehidupan yang utuh, dinamika jiwa dengan intensitas yang tinggi, tidak lagi monopoli dosa dan kebencian, karena dapat disalurkan untuk kasih dan kebaikan.
2 Bedakan antara hak yang semu (pseudo right) dengan hak yang sejati(geniune right) yang telah dianugerahkan Allah pada orang -orang percaya.
Sumber konflik batin dalam jiwa yang tidak utuh (unintegrated life) selalu berorientasi pada hak. Semakin rendah level kematangan pribadi seorang, semakin tidak integrative jiwanya, dan semakin besar kebutuhannya untuk menuntut pemenuhan haknya. Memang setiap orang "berhak" untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan primernya. Tetapi dalam Kristus, pseudo right ini (karena hanya untuk memenuhi kebutuhan sementara) diganti dengan genuine right, yaitu hak yang sejati yang dianugerahkan Allah. Hak ini tidak lagi self-centered, karena hak ini adalah hak untuk mengikut teladan Kristus yang menyangkali diri-Nya. Untuk mematikan kuasa dosa, hanya ada satu jalan yaitu penyangkalan diri. Dengan prinsip yang sama Paulus berkata,"...apakah upahku? Upahku ialah...melayani tanpa upah (I Kor 9:18)." Dengan hak yang sejati inilah kita menjadi pemenang- pemenang di tengah kehidupan yang stressful pada jaman ini.
PERTANYAAN ANDA
Dr. Esther Susabda
Anak saya yang pertama laki-laki berusia 9 tahun termasuk lamban dan pendiam bila dibandingkan dengan adiknya perempuan yang baru berusia 5 tahun. Ia tidak suka melakukan hal-hal yang baru, termasuk beberapa jenis permainan, alasannya selalu mengatakan "tidak bisa." Dalam kegiatan ekstra-kulikuler di sekolah ia juga tidak berminat sama-sekali. Saya kuatir kreativitasnya tidak berkembang dengan baik. Bagaimana menurut Ibu?
Kreativitas dan potensi anak seharusnya berkembang sejak kecil, dan masa usia pra-sekolah merupakan masa-masa yang paling efektif. Pada usia ini mereka memiliki kreativitas alami yang seringkali muncul dalam keinginan tahu yang besar, mereka sering bertanya, senang meniru dan tertarik menjajaki lingkungannya. Bahkan dalam permainan, anak pra-sekolah sudah dapat mengembangkan imajinasi dan potensi yang ada dalam dirinya.
Pada saat-saat seperti inilah peranan orang-tua sangat besar dalam menyediakan sarana yang cocok, memberikan waktu dan perhatian yang besar bagi anak. Ahli pendidikan Beck (1997) mengatakan,
Studies of the backgrounds of talented children and highly accomplished adults often reveal homes rich in reading materials and other stimulating activities and parents who emphasizes intellectual curiosity and are highly accepting their youngster's individual characteristics.
Penelitian yang dilakukan pada anak-anak yang berbakat dan orang- orang yang berprestasi ternyata menunjukkan bahwa mereka kebanyakan berasal dari keluarga yang kaya dengan bacaan, aktivitas-aktivitas yang merangsang pemikiran, juga orang-tua yang menekankan keingintahuan serta yang menerima keunikan pribadi setiap anak.
Di pihak lain kreativitas orang-tua sering bersangkut-paut dengan pemilihan jenis permainan anak-anak mereka. Memang memilih permainan yang edukatif merupakan tantangan yang tersendiri. Banyak orang-tua yang tidak terlatih, sehingga permainan-permainan edukatif yang mereka pilih justru menghilangkan bagian penting dari jiwa anak yang menikmati, bercanda dan bermain dengan riang gembira. Orang-tua seharusnya waspada bahwa tidak setiap alat permainan yang mahal mempunyai unsur edukatif yang sehat, sesuai dengan keunikan si anak dan fase pertumbuhan jiwanya.
Memang satu pihak orang-tua melihat makin beragamnya jenis permainan yang ditawarkan di toko-toko, tetapi dipihak lain mereka sulit memilih jenis mainan yang dapat membantu perkembangan daya kreatif anak. Jadi,
1 Perlu bagi orang-tua untuk mengenali keunikan pribadi setiap anak. Banyak anak yang tidak menaruh minat pada apa yang orang-tua anggap"sangat menarik." Dalam hal ini orang-tua tidak perlu memaksakan kehendak mereka. Mungkin ada anak-anak yang lebih lambat dalam hal-hal tertentu. Biarkan secara natural selera mereka berkembang sendiri, karena sikap memaksa dari pihak orang-tua seringkali menghambat atau justru memperlambat keinginan si anak untuk belajar dengan memakai sarana-sarana yang baru.
2 Orang-tua juga perlu konsisten dan menciptakan suasana yang kondusif bagi anak untuk belajar. Hal ini sebaiknya dimulai pada usia sedini mungkin, dan secara khusus pada usia 3-5 tahun di mana keinginan tahu (curiosity) anak sedang berkembang dan potensi kreativitas mereka siap untuk dikembangkan. Jangan sampai usia-usia kritis ini terlewatkan begitu saja, karena orang-tua seringkali tidak menyadari betapa pentingnya kehadiran mereka untuk merangsang kreativitas. Akibatnya, mereka baru sadar setelah anak masuk ke sekolah formal atau sekolah dasar dan potensi kreativitas anak yang sudah mulai menurun bahkan mandeg pada tahun-tahun setelah itu.
3 Tidak dapat disangkali bahwa setiap orang-tua mengharapkan anak- anak dapat melakukan yang terbaik dan sukses di kemudian hari. Namun perlu disadari, seringkali keinginan ini membuat orang-tua melakukan tekanan yang berlebihan terhadap anak. Tekanan untuk membuat anak hebat, bahkan memaksakan kehendak agar anak-anaknya melebihi anak- anak lain, seringkali menjadi kebanggaan semu yang ada dalam batin orang-tua. Sukses orang-tua dianggap identik dengan sukses anak, sehingga banyak orang-tua yang cenderung selalu mencampuri dan mengambil alih tanggung jawab si anak. Dengan demikian orang-tua merebut inisiatif anak dengan menentukan apa yang mereka harus dipelajari, kapan, dan kepada siapa mereka harus belajar. Tanpa sadar mereka sendirilah yang sebenarnya menjadi sumber penghambat perkembangan kreativitas anak.
Patut disayangkan bahwa banyak program untuk anak-anak balita yang berorientasi pada achievement (hasil yang dapat dicapai) namun bukan pada pengembangan imajinasi anak. Kreativitas anak biasanya dikembangkan melalui daya imajinasi baik dalam bentuk permainan ataupun membiarkan pikiran melayang mengikuti apa yang ia bayangkan, seperti yang dikatakan oleh Gross (1991),
Imagination involves play, letting the mind wander and seeing what it comes up on its own. Since imagination is crucial to creativity, it should come as no surprise that creativity is just as playful...
Imajinasi termasuk permainan, membiarkan pikiran melayang dengan bebas membentuk apa saja yang muncul dalam angan-angan mereka. Imajinasi sangat penting untuk pengembangan kreativitas, sehingga tidak mengherankan jikalau kreativitas seharusnya berkembang melalui permainan-permainan yang menyenangkan...
Akhir-akhir ini memang banyak orang-tua seperti anda, yang gelisah melihat anak-anak mereka kurang kreatif. Hal ini seringkali baru disadari setelah kesulitan-kesulitan belajar muncul. Penyebabnya bisa bermacam-macam antara lain,
1 Orang-tua yang terlalu melindungi anak dan ini biasanya terjadi banyak pada anak pertama, sehingga kesempatan bagi dirinya untuk belajar justru berkurang. Mungkin anda tanpa sadar, seringkali memaksa anak menyesuaikan diri dengan imajinasi dan fantasi anda sebagai orang-tua. Misalnya, saja pada saat mengajar anak untuk menggambar gunung dan sawah selalu dengan pola dua gunung, petak- petak sawah dan matahari. Pada saat anak mempunyai imajinasi yang berbeda, keinginan anda untuk menegur dan mengkoreksi sangat besar. Padahal imajinasi dan fantasi dari dirinya sendirilah yang mendorong si-anak untuk bertindak kreatif. Pada anak kedua anda sudah lebih rileks dan fleksible, sehingga kreativitasnya tumbuh dengan lebih baik. Anak pertama biasanya segan mencoba sesuatu yang asing karena ia merasa kurang mampu dan keberhasilannya tidak dapat ia pastikan. Mungkin juga dulu ia pernah beberapa kali mencoba tetapi kurang berhasil dan mendapatkan celaan, sehingga ia kurang berani beresiko lagi.
2 Setiap anak unik, jangan dibanding-bandingkan. Apabila anda membandingkan dengan adiknya justru menghasilkan perasaan inferior sehingga ia merasa diri bodoh. Seringkali bagi anak-anak semacam ini orang-tua perlu untuk dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk supaya anak berani mencoba sesuatu yang baru. Anda dapat mulai lebih sering bermain dan berusaha untuk mensejajarkan diri dengannya. Keikutsertaan anda sebagai orang-tua akan dapat menciptakan semangat yang baru, dan ada keinginan untuk berpartisipasi. Setelah hal ini menjadi pola dalam dirinya anda dapat sedikit demi sedikit membiarkan anak mengembangkan kreativitasnya. Keberhasilan yang anda ungkapkan dalam bentuk pujian, dan dorongan seringkali menjadi perangsang untuk anak lebih berprestasi lagi. Doa saya adalah kiranya Tuhan menolong memberikan keberanian dan ketekunan dalam menerapkan prinsip-prinsip kebenaran yang telah anda ketahui.
Posted by
tikituka
at
7:42 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Sikap Terhadap Kemarahan
Menghadapi sisi-sisi gelap dalam diri sendiri merupakan sumber dari segala pergumulan hidup manusia. Filsuf Rusia, Feodor Dostoevski, pernah mengatakan bahwa,
"Di tengah kedalaman lubuk hati manusia, ada sesuatu yang manusia sembunyikan dan tidak mampu singkapkan kecuali kepada sahabatnya. Itupun dilakukan secara sembunyi. Di samping itu manusia masih mempunyai berbagai rahasia lain, yang kepada sahabatnya pun ia tidak berani ceritakan, yaitu rahasia yang ia hanya dapat singkapkan kepada dirinya sendiri. Lebih mengherankan lagi, manusia masih dapat menyimpan rahasia- rahasia lain, yang ia tidak mampu singkapkan bahkan kepada dirinya sendiri."
Itulah sisi gelap yaitu hal buruk yang mungkin sangat memalukan dan menjijikkan sehingga manusia yang berhati-nurani takut untuk menghadapi dan memikirkannya sendiri. Paul Tournier dalam bukunya "Reflections" mengatakan bahwa memasuki daerah sisi gelap tersebut, manusia tidak dapat lagi dibedakan dengan binatang. Tingkah laku dan perasaannya digerakkan oleh instingnya sehingga akal dan pertimbangan pikiran yang sudah dibekali dengan berbagai pengetahuan akan kebenaranpun tidak berdaya lagi. Setiap kali muncul, ia menuntut pemuasan yang akan disesali kemudian.
Kasus:
A adalah seorang Kristen yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan rohani. Sebagai seorang majelis gereja, A seringkali memimpin pemahaman Alkitab dan menangani berbagai masalah konseling. Tidak heran jikalau A dikenal sebagai tokoh Kristen dan berbagai jabatan dipegangnya.
Hari ini istri A menemui Anda. Mula-mula ia mengeluh tentang anaknya yang kedua, yang terjerat narkoba dan sudah dua hari tidak pulang ke rumah. Ia juga menceritakan dengan bercucuran air mata tentang sifat suaminya yang pemberang dan abusive (memukul). Ia menunjukkan bekas- bekas luka di tangannya dan memar-memar di punggung dan dadanya.
Ia mengakui bahwa A sebenarnya seorang suami yang baik, tetapi pemarah dan sulit memaafkan kesalahan orang lain. Kalau harga dirinya tersinggung, ia bisa dengan segera mata gelap, dari mulutnya akan keluar kata-kata kotor, sumpah-serapah dan ia bisa melakukan apa saja. Pisau, gunting, sapu, kursi apa saja bisa dipakai untuk melampiaskan kemarahannya. Memang kemudian ia akan menyesal, tetapi ini terus terulang-ulang sehingga seluruh keluarga menjadi korban, termasuk anaknya yang terjerat narkoba, tidak lagi tahan tinggal di rumah.
Menghadapi kasus di atas beberapa prinsip konseling di bawah ini bisa Anda pakai.
1
Boleh marah tetapi tidak berbuat dosa (Efesus 4:26).
Munculnya perasaan marah merupakan bagian integral dari jiwa manusia. Bahkan Alkitab menyaksikan bahwa Allah pun pada saat- saat tertentu marah, meskipun kemarahan Allah adalah kemarahan atas dosa. Alkitab menyaksikan bahwa reaksi Allah yang suci atas dosa dan kecemaran adalah "kemarahan." Ada 375 kali di Perjanjian Lama dan 80 kali di Perjanjian Baru dicatat tentang kemarahan Allah. Alkitab juga mencatat bahwa Tuhan Yesus dan rasul-rasul pun berulang kali marah. Bahkan yang lebih mengherankan adalah bahwa ekspresi kemarahan yang suci itu bisa "menjadi batu sandungan" di mata manusia. Oleh sebab itu, meskipun setiap kata yang dipakai bukan merupakan manifestasi dari dosa, Yohanes 6:60-66 menyaksikan bahwa banyak murid yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia.
Marah dan tidak berbuat dosa seringkali menjadi masalah yang sangat kompleks. Meskipun jelas bahwa kemarahan Allah dan Tuhan Yesus tak dapat dibandingkan dengan kemarahan manusia yang selalu tercemari oleh dosa, tetapi batasan manifestasi kemarahan merupakan hal yang sulit sekali digariskan. Jikalau Allah dalam kemarahan-Nya bisa membunuh, maka manusia dengan alasan apapun juga tidak berhak melampiaskan "spirit membunuh" meskipun hanya dengan kata-kata. Tuhan Yesus menegaskan bahwa "spirit membunuh" telah melibatkan manusia jatuh dalam dosa yang mematikan (ayat 21- 22). Berarti, meskipun kemarahan adalah bagian integral hidup manusia, tidak ada seorang manusia pun yang berhak melampiaskan kemarahan dalam bentuk apapun juga atas dorongan dosanya. Dengan demikian, kasus A bukan hanya "kepribadian abusive" tetapi juga kasus "perkanjangan dalam dosa" oleh karena "buruknya hubungan dengan Allah." Keduanya harus diselesaikan.
2 Jangan percaya kata-kata penyesalannya karena kemarahan yang tak terkendali bukan masalah rasional yang disadari.
Untuk pengalaman pertama dengan sifat suami yang abusive, istri A mengatakan, "Saya shock sekali. Saya tidak pernah mengenal sisi A yang ini. Saya merasa tidak berarti, tetapi beberapa hari kemudian saya sudah menemukan A sebagai suami yang hangat, yang penuh kasih, yang suka memberi surprise, dan romantis. Memang untuk pemukulan yang pertama itu ia tidak minta maaf, tetapi seluruh tindakan dan sikapnya sudah menyatakan itu. Jadi saya merasa lega. Namun tiga minggu kemudian ia begitu lagi. Untuk hal yang kecil (saya lupa mengembalikan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan gereja) ia begitu marah dan memukul dan membenturkan kepala saya ke tembok. Akibatnya mulut dan hidung saya bocor dan kepala saya benjol. Nah, untuk yang ini A sampai menangis dan meminta maaf berulang kali. Ia menyesal dan bersumpah tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Memang luka hati saya saat itu cukup dalam sehingga memakan waktu lebih lama untuk sembuh. Kemudian hubungan kami membaik lagi, dan saya yakin Tuhan sudah menolong. Kami sering berdoa dan melakukan saat teduh bersama seluruh keluarga. Indah sekali, tetapi dua hari yang lalu A melakukannya lagi. Bahkan di tengah kemarahannya ia mengatakan bahwa dia menyesal menikah dengan saya. Saya betul-betul putus asa dan kecewa. Meskipun kali ini A sampai berlutut di kaki saya dan bersumpah di hadapan Tuhan, rasanya sulit sekali saya memaafkan dia."
Pola seperti di atas memang merupakan pola yang seringkali ditemukan dalam hidup pasangan dengan masalah "sisi-sisi gelap (unconsciousness)" seperti A yang abusive. Munculnya dorongan yang tak terkendali untuk mengatakan atau melakukan hal-hal yang jahat merupakan hal yang muncul sebagai insting sehingga alasan dan tujuannya tidak rasional. Oleh sebab itu "Anda sulit percaya pada kata-kata dan janjinya," kecuali ia menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki kelakuannya, yaitu:
a
ia mau ditolong melalui pelayanan psikoterapi yang benar- benar profesional, dan
b
ia bertekad mengubah pola dan sistem kehidupannya.
Biasanya, tekad untuk memperbaharui kehidupan hanya ada pada saat seorang sudah terpaksa dan tak mempunyai pemilihan yang lain lagi.
3 Menolong A menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Sebagai teman (konselor awam) Anda dapat menolong A menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Itu dapat dilakukan melalui:
a Alasan dari penyesalannya. Mungkin A mengakui bahwa ia telah marah dengan kemarahan yang tidak dapat dipertanggung- jawabkan, tetapi apa sebenarnya alasan di belakang pengakuan tersebut? Apakah A benar-benar menyesali kesalahannya dan melihat bahwa kesalahan tersebut adalah dosa yang sangat menyedihkan, atau A menyesal karena "akibat yang harus ia tanggung?" Yang kedua merupakan gejala dari masalah yang serius dari kepribadian A, dan Anda harus merefer A kepada seorang psikoterapist.
b
Tujuan dari kemarahannya. Setiap kemarahan mempunyai tujuan yang khusus, dan itu bisa disadari bisa pula tidak disadari. Anda perlu menolong A menemukan dan menyadari sendiri apa sebenarnya tujuan dari kemarahannya. Apakah ia marah oleh karena stimulan dari luar dirinya (mempunyai ´precipitating factors´), atau ia seringkali berada dalam ´mood´ siap untuk marah (mempunyai ´predisposing factors´). Meskipun yang pertama bisa juga tidak beralasan yang mendasar (misalnya: A marah bukan oleh karena prinsip kebenaran yang ia pegang), tetapi biasanya yang kedua lebih serius dan membutuhkan penanganan seorang profesional.
c
Sarana dan cara untuk melampiaskan kemarahannya. Memang di dalam kasus di atas ada gejala A memakai sarana dan cara pelampiasan kemarahan yang tidak sehat. Meskipun demikian Anda masih perlu menolong A menyadari mengapa atau kapan ia memakai cara dan sarana tersebut. Apakah A memukul oleh karena cara-cara lain yang ia pakai tidak mempan (berarti A sudah memakai cara dan sarana yang lain sebelum kemarahannya memuncak dan meledak/´escalated´ dan ´exploded´), atau "memukul" merupakan suatu kebiasaan setiap kali ia marah. Keduanya memang tidak baik, tetapi yang pertama bisa diatasi melalui kerjasama dengan istri A (misalnya: belajar untuk tidak meresponi kemarahan A dengan sikap dan kata-kata yang lebih menstimulir kemarahan) dan yang kedua memerlukan bantuan seorang konselor yang profesional.
4 Menyusun strategi kehidupan yang lebih baik.
Meskipun mungkin penanganan kasus A ada dalam tanggung jawab konselor yang profesional, peran Anda sebagai teman dan konselor awam tidak kecil. Hal itu nampak:
a
Kalau Anda bisa membina rapport atau hubungan yang baik dengan A. Hubungan yang baik yang dijiwai oleh ´acceptance´ atau kemampuan menerima A sebagaimana adanya akan mencipta ´openness´/keterbukaan; dan ´openness´ tersebut akan menjadi semakin mendalam jikalau Anda dapat menjadi ´listener´ atau pendengar yang baik. Ajaib bahwa melalui peran ini saja, A akan menemukan dirinya, kerapuhannya, dan bahkan kemungkinan jalan keluarnya.
b
Kalau Anda bisa menolong istri A menjadi teman bicara yang baik bagi suaminya. Memang aneh bahwa kebiasaan abusive seringkali hanya dilampiaskan kepada orang-orang yang terdekat. Jiwa ´pseudo masculinity´ (kejantanan semu) ini adalah jiwa pengecut dari pribadi yang tidak berani menghadapi realita dan pertanggungjawaban hidupnya. Kemarahan terhadap ketidakmampuannya sendiri ditransfer kepada orang-orang yang terdekat yaitu istri dan atau anak- anaknya.
Menghadapi perlakuan yang tidak fair ini memang sulit. Secara natural istri A akan melawan atau membela diri (kecuali dia sendiri terjebak dalam pola masochism) dan ini justru akan semakin menumbuh suburkan dorongan abusive dari suaminya. Oleh sebab itu, di samping bantuan dari seorang profesional, istri A perlu ditolong untuk keluar dari sistem yang buruk itu. Ia harus menemukan strategi untuk tidak ikut menstimulir dorongan abusive dari suaminya. Suasana rumah tangga yang nyaman biasanya akan mengurangi dorongan-dorongan negatif tersebut, begitu juga "cara berkomunikasi" yang menyejukkan.
Jangan kecil hati, cobalah tips di atas dengan spirit ketergantungan pada belas kasihan dan pertolongan Tuhan.
Posted by
tikituka
at
7:41 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Siapakah Aku ?
Jika anda telah percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat anda, maka anda sekarang adalah CIPTAAN BARU. Oleh karena itu anda sekarang memiliki identitas yang baru di dalam Kristus. Berikut ini adalah fakta-fakta yang Alkitab berikan yang menyatakan secara jelas siapakah anda setelah anda menerima Kristus sebagai Juruselamat:
Aku adalah anak Allah. (Yohanes 1:12)
Aku adalah bagian dari Pokok Anggur yang benar dan hidup Kristus mengalir di dalamku. (Yohanes 15:5)
Aku adalah saksi pribadi untuk Kristus dan aku diutus untuk menceritakan tentang Dia. (Kisah Rasul 1:8)
Aku bebas dari segala penghukuman. (Roma 8:1)
Aku adalah ahli waris bersama dengan Kristus, yang mewarisi kemuliaan-Nya. (Roma 8:17)
Aku tidak dapat dipisahkan dari kasih Allah. (Roma 8:35)
Aku adalah bait Allah. (1 Korintus 3:16)
Aku adalah ciptaan baru. Yang lama telah diampuni dan sekarang semuanya menjadi baru. (2 Korintus 5:17)
Aku telah disalibkan bersama dengan Kristus, karena itu sekarang Kristus hidup di dalamku. (Galatia 2:20)
Aku adalah orang kudus. (Efesus 1:1)
Aku adalah warga negara surga dan sekarang aku memiliki tempat di surga. (Efesus 2:6)
Aku adalah buatan Allah. (Efesus 2:10)
Aku memperoleh jalan masuk kepada Tuhan melalui Roh Kudus-Nya. (Efesus 2:18)
Aku adalah benar dan kudus. (Efesus 4:24)
Aku dapat mengerjakan segala sesuatu di dalam Kristus yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13)
Aku adalah sempurna di dalam Kristus. (Kolose 2:10)
Aku dipilih, dikuduskan dan dikasihi oleh Allah. (Kolose 3:12)
Aku memiliki roh kekuatan, kasih dan penguasaan diri. (2 Timotius 1:7)
Aku adalah anggota dari bangsa yang terpilih, imamat rajani dan umat kepunyaan Allah. (1 Petrus 2:9,10)
Aku dilahirkan kembali dalam Kristus dan si Jahat tidak akan dapat menjamahku lagi. (1 Yohanes 5:18)
Posted by
tikituka
at
7:40 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Seorang Konselor yang Mengasihi Tuhan dan Mengasihi Sesama (Kesaksian)
Kira-kira pada akhir abad yang lalu, seorang pendeta setengah umur dan istrinya yang masih muda merasa sangat berbahagia dan bangga akan kelahiran bayi laki-laki mereka yang sehat dan montok, yang mereka beri nama Paul Tournier.
Sayang kebahagiaan ini hanya dirasakan beberapa minggu saja, karena pendeta ini mendadak meninggal dunia dan beberapa tahun kemudian disusul oleh istrinya.
Anak yatim piatu ini kemudian diambil oleh paman dan bibinya yang baik hati. Namun mereka merasakan tidak mudah membesarkan anak ini yang secara tiba-tiba saja telah menjadi bagian dari keluarga mereka. Pamannya sibuk dengan usaha dagangnya dan bibinya adalah seorang wanita yang lemah tubuh, dan kesehatannya selalu terganggu sehingga kurang bisa mempunyai waktu untuk memperhatikan dia. Tournier mempunyai masa kecil yang sangat kesepian. Bahkan setelah ia dewasa, setelah menyelesaikan sekolah kedokterannya dan menikah, ia masih sering merasa kesepian, pemalu, dan merasa kurang bisa menempatkan diri di antara kawan-kawannya.
Suatu hari, Tournier bertemu degnan orang-orang Kristen yang sedang hangat-hangatnya melayani Tuhan. Mereka secara teratur berdoa, membaca Firman Tuhan dan bersekutu untuk saling mendoakan dan menolong. Pergaulan ini sangat mengubah banyak aspek dalam kehidupannya. Ia yang dulu menjadi orang Kristen yang suam, sekarang sangat bergairah dalam mengikut Kristus. Tournier mulai lebih memperhatikan keadaan pasien-pasiennya, dan ia mulai melihat bagaimana Tuhan sudah menolong dan memperbaharui kehidupan para pasiennya.
Dr. Paul Tournier mulai menulis mengenai pengalaman-pengalamannya di buku kecil, yang di kemudian hari menjadi dasar bagi bukunya yang pertama. Tahun-tahun setelah itu, banyak buku yang ditulisnya, dan setiap bukunya selalu bertemakan bagaimana mengerti dan menolong orang lain. Pasien-pasiennya di Geneva dan pembaca-pembacanya di seluruh dunia merasa tertarik pada kepekaannya atas penderitaan, kasih, iman, kerendahan hati dan ketulisan hatinya pada orang lain.
Tournier tidak pernah dilatih untuk menjadi seorang psikiater. Ia juga tidak pernah mendapat pendidikan khusus mengenai konseling, tetapi ia menjadi sangat terkenal oleh karena cepat menangkap apa yang tersembunyi di balik tingkah laku seseorang. Ia sangat tertarik pada manusia dengan segala persoalannya, dan selalu tergerak menolong mereka untuk mengatasinya. Bukan pendidikan di sekolah yang membuat Tournier menjadi konselor yang baik, tetapi ia menjadi sangat efektif oleh karena ia bisa memakai dan mengembangkan bakat kemampuan yang dimilikinya.
Banyak riset sudah dilakukan untuk menilai suksesnya seorang konselor yang efektif, dan ternyata bukan karena metode atau apa yang telah dikatakan atau dilakukan konselor, namun kebanyakan oleh karena kepribadian konselor itu sendiri. Seorang konselor yang baik, adalah seorang yang sangat memperhatikan, ramah, tulus, benar- benar mau menolong dan mempunyai kemampuan untuk mengerti persoalan dan perasaan orang lain. Memang perlu untuk mengetahui teknik- teknik konseling, dan mengerti bagaimana memecahkan problema, tetapi yang paling penting adalah pribadi dan bakat yang diberikan Tuhan dalam diri kita.
Tema dari ==kesaksian== ini bisa diringkas dan disimpulkan menjadi satu kalimat yang sangat penting:
"Jika anda ingin menjadi seorang konselor Kristen yang efektif, anda harus menjadi seorang yang mengasihi Tuhan dan sesama manusia."
Posted by
tikituka
at
7:39 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Seberapa Jauh
Salah satu seni dalam hidup yang harus kita kuasai adalah seni mengetahui dan menyeimbangkan seberapa jauh kita mengizinkan orang masuk ke dalam kehidupan kita dan seberapa jauh kita masuk ke dalam kehidupan orang lain. Mengizinkan orang masuk ke dalam kehidupan kita berarti mengizinkan orang untuk mengambil bagian dan mengendalikan kehidupan kita. Sebaliknya, masuk ke dalam kehidupan orang berarti mengambil bagian dan mengendalikan kehidupan orang itu.
Sebagai contoh, dalam relasi nikah seyogianyalah kita membuka dan mengundang masuk pasangan kita untuk berbagi dalam kehidupan kita. Keputusan yang tadinya kita tentukan atas dasar kepentingan pribadi, sekarang harus kita ambil bersama, atau setidaknya mengikutsertakan kepentingannya pula. Dalam hal inilah sesungguhnya kita mulai membagi kendali hidup dengan pasangan kita. Jadi semakin jauh kita mengizinkannya masuk ke dalam kehidupan kita, semakin besar ia berperan dalam kehidupan kita, dan semakin besar pula kendali yang ia miliki atas diri kita. Demikian pula sebaliknya. Semakin jauh ia mengizinkan kita masuk ke dalam kehidupannya, semakin besar pula peran yang kita ambil dan semakin besar kendali yang kita miliki atas kehidupannya.
Kekeliruan dalam menentukan "seberapa jauh" dan kegagalan menyeimbangkan kedua hal ini bisa merugikan kesehatan jiwa dan mengganggu relasi. Ada sebagian kita yang mengizinkan orang yang "keliru," masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan kita. Akibatnya jelas, kita menderita akibat dikendalikan oleh orang yang "keliru" ini. Misalkan, ia malah memanfaatkan dan memanipulasi kita untuk memenuhi kepentingannnya belaka. Ada juga sebagian di antara kita yang terlalu cepat mempersilakan orang untuk melanglang masuk ke dalam kehidupan kita dengan harapan ia menjadi bagian hidup kita. Celakanya, ia tidak berniat masuk untuk tinggal dan menjadi bagian hidup kita; ia hanya ingin berkenalan kemudian pergi. Akibatnya lumayan fatal, kita terluka sangat dalam.
Ada pula sebagian dari kita yang susah membuka pintu dan sulit mengundang orang masuk ke dalam kehidupan kita. Kita cenderung membatasi diri dan merasa lebih nyaman jika orang lain berdiri di luar pintu. Kita tidak ingin orang berbagian dalam, apalagi turut mengendalikan hidup kita. Kita risih atau tidak percaya pada siapa pun. Konsekuensinya jelas, kita tidak mempunyai teman dan hidup sendirian, kendati bisa saja kita berstatus nikah.
Kita pun dapat terjebak dalam situasi yang sebaliknya. Kita masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan orang walaupun sebenarnya kita belum mendapat izin darinya. Kita merasa berhak mengambil bagian dalam hidupnya dan turut mengatur dirinya. Sudah tentu, ia tidak akan suka dan pada akhirnya mendesak kita keluar atau mencaci maki kita di dalam hatinya. Baginya, kita hanyalah tamu yang tak diundang.
Ada sebagian di antara kita yang ragu-ragu masuk ke dalam kehidupan orang meskipun sudah mendapat undangan untuk masuk. Kita lebih nyaman menjaga hubungan terbatas karena tidak suka terlibat dalam kehidupan orang. Sudah tentu ada pelbagai alasan untuk itu. Ada yang takut ditolak, jadi daripada masuk kemudian ditolak, lebih baik tidak masuk sama sekali. Atau, ada yang memiliki ketidakpedulian yang tinggi terhadap sesama sehingga tidak ingin direpotkan dengan urusan manusia lain. Kita mungkin saja menyebut sikap kita ini mandiri, dan berupaya mengagungkannya supaya tidak tampak dingin dan kurang peduli, namun pada pangkalnya memang kita kurang peduli dan tidak suka repot.
Hidup menuntut kita untuk berhikmat; tanpa hikmat kita terjerat, terjerumus, bahkan kadang terjungkal. Itu sebabnya, Firman Tuhan menasihati kita, "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati...." (Yakobus 1:5) Mintalah hikmat kepada Allah, hikmat untuk mengetahui berapa jauh kita masuk ke dalam kehidupan orang dan berapa jauh kita mengizinkan orang masuk ke dalam kehidupan kita.
Salah satu cara untuk memahami hikmat adalah dengan menyamakannya dengan kemampuan untuk melihat. Hikmat adalah melihat dengan jernih dan tepat sehingga kita dapat merespon dengan jernih dan tepat pula. Untuk dapat merespon dengan jernih dan tepat, kita mesti mampu mengendalikan diri dengan tepat pula. Di sinilah Firman Tuhan memberi pedoman, "Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya." (Amsal 25:28) Dengan kata lain, tanpa kendali diri, kita bukan lagi majikan sebab orang akan bebas masuk keluar semaunya di dalam kehidupan kita.
Jika kita gabungkan keduanya, hikmat menjadi kemampuan untuk melihat dengan jernih dan mengendalikan diri dengan tepat. Melihat tanpa pengendalian diri tidak akan membuahkan tindakan apa pun; kita menjadi penonton yang baik saja. Sebaliknya, mengendalikan diri tanpa didasari atas penglihatan yang jernih, akan salah sasaran. Tindakan kita menjadi energi belaka, tanpa arah dan makna.
Kembali kepada topik semula, membiarkan orang masuk dan membawa diri masuk ke dalam kehidupan orang memerlukan kejelian. Lihatlah dengan jernih, apakah orang ini tepat, jika ya, izinkanlah ia masuk setahap demi setahap. Sudah tentu akan ada rasa takut namun biarlah rasa takut memandu kita agar tidak gegabah. Kendalikan diri agar kita tidak menutup pintu rapat-rapat atau membuka pintu lebar-lebar. Dua- duanya menunjukkan lemahnya hikmat dalam hidup kita.
Dengan orang lain, kita pun mesti memasuki hidupnya dengan hikmat pula. Jangan cepat-cepat menerima undangan masuk, lihatlah terlebih dahulu apakah memang inilah yang kita kehendaki. Jika bukan, meski undangan telah diberikan, jangan masuk. Sebaliknya, jangan sembarangan masuk, lihatlah apakah undangan telah diberikan. Juga lihatlah seberapa jauh ia mengizinkan kita masuk. Jangan sembarangan berbagian dalam kehidupan orang atau mengatur hidupnya sebab akibatnya serius.
Kita ini ibarat rumah dan mesti melihat orang lain bak rumah pula. Rumah terdiri atas bagian-bagiannya; ada pekarangan, beranda, ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, dan gudang. Berbahagialah kita yang tahu di mana seharusnya menempatkan orang di dalam rumah kita dan berbahagialah kita yang tahu di mana menempatkan diri di rumah orang. Keduanya memerlukan hikmat dan Tuhan sumber hikmat, sudah berjanji akan memberikannya.
Posted by
tikituka
at
7:39 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Rekreasi Kristiani
Sebagaimana tersimpul dari asal katanya, rekreasi adalah rekreasi, yaitu sesuatu yang telah menjadi rusak dan perlu dipulihkan kepada keadaan semula -- menjadi sebuah tubuh yang sehat yang memiliki susunan yang seimbang, suatu kehidupan emosional yang stabil dan ekspresif. Rekreasi adalah satu cara, walaupun bukan satu-satunya cara, untuk memulihkan tubuh, pikiran, dan jiwa, sehingga mendatangkan kelegaan. Rekreasi juga merupakan satu dimensi dari kesenangan.
Rekreasi sebagai Kesenangan yang Bermanfaat
Kamus New Lexicon edisi tahun 1988 mendefinisikan rekreasi sebagai "aktivitas dan saat yang menyenangkan untuk penyegaran dan penghiburan". Sebagai kesenangan yang bermanfaat, rekreasi dapat muncul dalam banyak bentuk, biasanya dipilih untuk alasan-alasan pribadi atau tekanan sosial. Rekreasi dengan kewajiban seperti itu mengikutsertakan disiplin untuk perbaikan pribadi seperti membaca atau mengayuh sepeda, olahraga yang kompetitif seperti golf dan hoki, dan uji ketrampilan masa lalu seperti berlayar atau mendayung. Semuanya ini mungkin dilakukan dengan berbagai alasan: meningkatkan kinerja, kerinduan untuk mengungkapkan energi kompetitif di arena yang aman, kebutuhan untuk membuktikan kemampuan seseorang atau untuk mewakili sesuatu.
Di dunia Barat hampir semua bentuk rekreasi dikemas secara profesional dan industri hiburan raksasa mempromosikan mode kostum yang tepat, perlengkapan yang memadai, dan latihan secara profesional. Seperti halnya kostum bermain ski yang ketat dan aerodinamis serta perlengkapan yang artistik sekarang telah menjadi satu kebutuhan tersendiri, karena selain unsur kesenangan dan segi olahraganya, unsur penampilan dalam kegiatan itu juga tak kalah pentingnya.
Pilihan rekreasi tidak hanya dipengaruhi oleh situasi sosial dan kepribadian kita (saya cenderung untuk menghindari olahraga yang kompetitif dan saya lebih suka mendayung dan berjalan kaki), mereka juga dipengaruhi oleh situasi kehidupan. Kegiatan bertukang menjadi rekreasi bagi saya ketika saya melayani sebagai seorang pendeta. Ketika saya menjadi perintis gereja baru, saya hidup sebagai seorang tukang kayu, saya memperoleh kesegaran dengan membuat perabotan dari bahan dasar kayu. Ketika istri dan saya tinggal di daerah pinggiran di Afrika, kami sering berjalan-jalan di sore hari sebelum matahari terbenam. Tetangga kami selalu bertanya, "Mau pergi ke mana?" Ketika kami menjawab, "Hanya jalan-jalan", mereka memandang dengan rasa tidak percaya karena berjalan bagi mereka sama dengan pergi ke pasar dan bukan sebagai bagian dari rekreasi.
Dari kejadian ini, adalah mudah untuk menyimpulkan bahwa orang yang hidup di daerah pinggiran atau di negara yang belum berkembang tidak membutuhkan rekreasi. Tetapi sebenarnya mereka membutuhkannya, dan mereka memilih apa yang cocok dengan kultur mereka: menghabiskan setengah harinya di desa pada hari pasar, minum-minum teh dengan teman-teman sambil ngobrol, dan anak-anak biasanya menemukan olahraga dan permainan mereka sendiri.
Robert Bolles dalam The Three Boxes of Life menjelaskan adanya kurun waktu dalam kehidupan kita yang tidak seimbang: pendidikan untuk dua puluh tahun pertama dalam kehidupan, bekerja selama empat puluh tahun sampai pensiun, diikuti dengan menikmati kesenangan hidup sampai kita mati. Ia berargumentasi, apa yang dibutuhkan ialah suatu keseimbangan yang lebih baik antara ketiga tahapan itu sepanjang hidup, termasuk bekerja pada masa pensiun yang penuh makna, walaupun mungkin tanpa dibayar. Bahkan rekreasi dapat menjadi membosankan jika tidak ada lagi yang bisa dilakukan dalam hidup. Walaupun begitu rekreasi masih tetap menjadi bagian kehidupan bagi orang Kristen dan orang lain.
Apa yang Membuat Rekreasi Menjadi Kristiani
Mungkin ada yang berpikir bahwa menjadi anggota tim sepakbola sebuah gereja membuat olahraga itu menjadi lebih "rohani". Siapa pun yang pernah bermain dalam tim seperti itu tahu bahwa konflik antara kedagingan dan Roh sama dahsyatnya dalam sebuah tim Kristen, meski sumpah serapahnya memang lebih sedikit. Rekreasi yang lain adalah mengikuti tur dengan sebuah kapal pesiar Kristen atau dengan bermain shuffle board (sejenis permainan yang menggunakan cakram dan tongkat penyodok yang panjang) di sebuah taman Kristen.
Tetapi apa yang membuat rekreasi itu "bernilai Kristiani" bukanlah dinilai dari karakter atau konteks religiusnya karena kedua unsur ini tidaklah penting. Hati harus berhubungan erat dengan karakter yang membuatnya melakukan sesuatu yang memang adalah keinginan orang itu.
Pada butir pertama, kita dibawa kembali kepada mandat tiga berganda dari Allah kepada manusia pada pasal-pasal awal kitab Kejadian:
1 hidup berkomunikasi dengan Allah.
2 membangun komunitas kebersatuan manusia, keluarga, gereja, dan bangsa (Kej. 1:26) dan
3 mengekspresikan kreativitas bersama dalam membuat dunia ciptaan Allah berfungsi dan mengembangkan potensi yang ada di dalamnya (Kej. 2:15).
Rekreasi yang mengikis persekutuan kita dengan Allah, seperti permainan yang memakai kuasa kegelapan atau yang mendorong terjadinya kompetisi kekuatan fisik (seperti tinju dan gulat) atau yang merusak lingkungan (seperti off road), tidaklah sinkron dengan panggilan tiga berganda Allah kepada kita.
Sebaliknya, rekreasi yang mendorong terjadinya kejenakaan di hadapan hadirat Allah (seperti golf), membangun kerjasama dan memperdalam hubungan (seperti bermain bola) atau mendorong penatalayanan atas bumi (seperti berlayar atau cross country) harus lebih diutamakan. Menjadi orang Kristen tidak berarti membuat kita menjadi seperti malaikat, karena kita harus tetap menjadi manusia seutuhnya.
Rekreasi seharusnya mengekspresikan kemuliaan kemanusiaan kita, tanpa menghilangkan kemanusiaan pemainnya dan bumi tempat kita bermain. Suatu rekreasi menjadi Kristiani bukan karena label religiusnya atau karena kita melakukannya dengan sesama orang Kristen, tetapi karena hal itu sesuai dengan rencana Allah bagi manusia, suatu tujuan di mana Allah memperbaiki kita. Tetapi bukan hanya itu.
Pada butir yang kedua, rekreasi menjadi Kristiani karena dilahirkan dari realitas Injil. Artinya sangat sederhana, bermain dengan kasih karunia dan bukannya dengan bekerja. Gagal memanfaatkan waktu untuk rekreasi dengan alasan "banyak kerjaan" atau "terlalu sibuk" biasanya merupakan sebuah indikasi bahwa doktrin pembenaran oleh kasih karunia melalui iman belum menembus kehidupan di waktu luang kita.
Paradoksnya, sebagaimana diketengahkan oleh Leland Ryken, "banyak orang yang merasa bersalah karena mengambil waktu untuk bersenang- senang, mereka juga merasa bersalah karena mereka bekerja terlalu keras." Martin Luther sangat piawai dalam masalah ini. Dalam karyanya, "Treatise on Good Works", Luther menggunakan analogi yang kuat:
Ketika seorang suami dan seorang istri saling mengasihi, menikmati waktu luang bersama-sama, dan benar-benar percaya pada kasih mereka yang mengajar mereka mengenai bagaimana mereka berperilaku satu sama lain, apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, apa yang boleh dikatakan atau tak boleh dikatakan, apa yang mereka pikirkan? Modal mereka hanyalah keyakinan. Bagi orang seperti itu tidak ada perbedaan dalam bekerja. Ia melakukan hal yang besar dan penting sama baiknya dengan mengerjakan hal yang remeh dan tidak penting.
Demikianlah seorang Kristen yang hidup dengan keyakinan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dan dapat melakukan segala sesuatu, maka ia juga akan melakukan segala sesuatu yang perlu dilakukan dan melakukan segala sesuatu dengan senang hati dan sukarela, bukan karena mereka akan memperoleh keunggulan dan pekerjaan baik, melainkan karena adalah suatu kenikmatan jika dapat menjadi orang yang selalu berkenan di hadapan Allah ketika melakukan apa saja. Mereka hanya melayani Allah tanpa berpikir akan memperoleh upah, puas bahwa pelayanan mereka berkenan kepada Allah. Di pihak lain, orang yang kehidupannya tidak selaras dengan Allah atau hatinya mendua, khawatir dan mulai mencari cara-cara untuk cepat merasa puas dan mencoba mempengaruhi Allah dengan banyak perbuatan baik." (hal. 26-27).
Paradoksnya, rekreasi adalah salah satu dari pekerjaan-pekerjaan "kecil" yang kita lakukan yang tidak kita upayakan untuk membuktikan sesuatu kepada Allah atau bahkan kepada diri sendiri. Kristus telah membuktikan dan menyetujuinya. Oleh karena itu kita memiliki kebebasan untuk bermain dengan sepenuh hati. Kita dapat sungguh- sungguh melakukannya karena Injil membebaskan kita untuk beristirahat sepenuhnya.
Rekreasi adalah kreasi sejajar dengan rencana Allah untuk tatanan yang dikreasikan. Dengan rekreasi kita diundang untuk bersantai dalam kasih karunia Allah dan bukan lewat prestasi kerja kita. Tetapi akhirnya rekreasi juga memiliki makna eskatologis, menunjuk kepada rekreasi Allah terhadap alam semesta. Oleh karena itu dengan berekreasi kita sebenarnya sudah mulai mencicipi kehidupan dalam Kerajaan Allah.
Luther juga mengatakan bahwa "Kehidupanlah yang menjadikan seorang menjadi seorang teolog dan bukan kematian dan keadaan terkutuk, bukan pemahaman, membaca dan berspekulasi" (A.E. McGrath, Luther`s Theology of the Cross: Martin Luther`s Theological Breakthrough, hal. 152). Bukankah dengan bermain -- salah satu dimensi dari kehidupan -- kita menjadi praktisi teolog yang merefleksikan keyakinan yang nyata tentang kebaikan, kasih karunia, dan rencana akhir Allah.
Posted by
tikituka
at
7:38 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Rasa Bersalah
AYAT ALKITAB
Roma 8:1
Yesaya 44:22
Yohanes 8:36
Filipi 3:13-14
Roma 7:18-25
LATAR BELAKANG
Rasa bersalah adalah suatu perasaan berdosa, bersalah atau gagal memenuhi standar hidup tertentu. Allah menciptakan di dalam kita suatu hati nurani, suatu kemampuan untuk menilai benar atau salahnya tindakan-tindakan moral kita. Ada dua jenis rasa bersalah: Rasa bersalah karena melakukan pelanggaran moral dan rasa bersalah karena sesuatu yang tidak jelas.
Pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan mengakibatkan rasa bersalah. Ini adalah dosa. Karena orang yang berdosa tidak bersedia menyelesaikan dosanya seperti yang Allah kehendaki agar dia memperoleh kelepasan, akibatnya dia mengalami akibat-akibat buruk. Adam dan Hawa di taman Eden adalah contoh terbaik tentang rasa bersalah akibat pelanggaran dosa ini. Dosa (ketidaktaatan) mereka menyebabkan rasa bersalah. Hubungan mereka dengan Allah putus; mereka sadar tentang itu, lalu terjadilah keterasingan dan perasaan tertuduh. Mereka lari dari Allah, berusaha menyembunyikan diri agar mereka tidak usah menghadapi akibat-akibat tindakan mereka. Tentu saja, Allah berhasil menemukan mereka. Mereka berusaha menyangkal pertanggungjawaban mereka. Adam menyalahkan Hawa ("Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."), dan Hawa menyalahkan ular ("Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."). Mereka telah berusaha menutupi keadaan mereka dengan membuat cawat dari daun pohon ara, tetapi Allah mengepung mereka dengan pertanyaan: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang?" Allah memaksa mereka untuk membereskan masalah rasa bersalah mereka. Korban tebusan pun kemudian dibuat untuk dosa mereka, sebagai dasar dari prinsip korban tebusan seterusnya (Kejadian 3:21).
Contoh lain tentang cara mengatasi masalah rasa bersalah karena dosa ialah teguran terbuka Natan terhadap Daud yang telah melakukan perzinahan dan pembunuhan. Teguran terbuka itu mengakibatkan pertobatan dan pengakuan (2Samuel 11:1-12,25; Mazmur 51:1-19).
Rasa bersalah yang tidak disebabkan oleh dosa, biasanya berhubungan dengan gangguan emosional yang berasal dari pengalaman-pengalaman negatif, khususnya di masa kecil. Bahkan, orang Kristen yang sudah memiliki keyakinan bahwa Allah telah mengampuni mereka dan bahwa mereka adalah anak-anak-Nya pun, masih bisa mengalami "rasa bersalah" yang keliru ini. Orang yang demikian biasanya memiliki citra diri yang rendah, selalu merasa kurang (tidak pernah benar dan tak mampu), menderita depresi, dan sebagainya. Mereka tidak pernah bebas dari rasa bersalah ini, walaupun mereka mencarinya, persis seperti Esau yang "tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata" (Ibrani 12:17).
Orang yang tertindih oleh rasa bersalah yang keliru ini, sering diikuti oleh beberapa ciri yang rumit seperti berikut:
1 Depresi yang dalam akibat terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
2 Rasa letih dan sakit kepala yang kronis, atau penyakit- penyakit lainnya.
3 Penyangkalan diri ekstrim sampai ke bentuk penghukuman diri.
4 Merasa terus-menerus diawasi dan dikritik orang lain.
5 Terus mengkritik dosa dan kekurangan orang lain.
6 Karena menanamkan sikap kalah, dia akan benar-benar tenggelam dalam dosa yang lebih dalam, supaya mengalami perasaan bersalah yang lebih hebat.
--------------------------Kutipan-----------------------------------
Menurut Billy Graham:
"Rasa bersalah adalah suatu masalah yang sangat rumit. Hati nurani
manusia sering di luar jangkauan psikiater. Dengan segala teknik
yang dimilikinya, dia tidak mampu mengukur kerusakan nurani manusia
ataupun kedalamannya. Terlepas sendiri di bawah gerogotan hati yang
bersalah dan tertekan oleh beban dosa yang berat, manusia tidak
berdaya. Tetapi di mana manusia gagal, di sana Allah berhasil."
----------------------Kutipan_Selesai-------------------------------
STRATEGI BIMBINGAN
Untuk yang non-Kristen:
1 Tawarkan harapan baginya dengan menegaskan bahwa Allah memperhatikan setiap masalah yang dimilikinya. Allah bukan saja bisa mengampuni, melainkan juga mampu menghapuskan dosa dan rasa bersalah kita.
2 Jangan sedikit pun memaafkan atau meringankan dosa-dosa yang diungkapkannya. Di dalam setiap kita, ada ketidaktaatan dan kelakuan berdosa yang harus dibereskan menurut cara Allah, yaitu pengakuan dosa. Kita tidak akan pernah menemukan penyelesaian terhadap rasa bersalah, jika kita berusaha menutup-nutupi dosa. "Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi." (Amsal 28:13)
3 Tanyakan apakah dia pernah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Jelaskan "Damai dengan Allah" [["Damai dengan Allah" -- Traktat untuk menolong/menuntun orang non- Kristen agar dapat menerima Kristus (dari LPMI/PPA); atau Buku Pegangan Pelayanan, halaman 5; CD-SABDA: Topik 17750]].
4 Tegaskan bahwa kebebasan dari rasa bersalah, sudah terhisap dalam karya penebusan Salib Kristus, tetapi dia harus mempercayai Dia untuk menyucikannya.
5 Dorong dia untuk membaca dan mempelajari Alkitab, mulai dengan Injil. Tawarkan "Hidup dalam Kristus" [["Hidup dalam Kristus" -- Traktat yang berisi pelajaran-pelajaran dasar tentang prinsip memulai Kehidupan Kristen (dari LPMI/PPA); CD-SABDA: Topik 17453]] yang akan menolongnya memulai penyelidikan Alkitab.
6 Anjurkan dia untuk mengembangkan kebiasaan doa tiap hari. Sampai di sini, dia dapat mengakui dosa-dosanya, meminta pengampunan dan penyucian. Dia harus mensyukuri Allah yang telah mengangkat dosa dan rasa bersalahnya, sambil mengingat-ingat bahwa dosa-dosa kita telah diangkat-Nya.
7 Anjurkan dia untuk mencari suatu gereja yang mementingkan Firman Tuhan dan terlibat di dalamnya. Di sana dia dapat bersekutu, mendengar dan mempelajari Firman secara teratur dengan sesama Kristen lainnya.
8 Berdoalah bersamanya agar dia memperoleh kelepasan dan damai di hatinya
9 Jika orang yang Anda layani masih tidak mampu menanggapi apa yang Anda saksikan tentang Kristus, dan terus saja bergumul dengan rasa bersalahnya, anjurkan dia untuk menemui pendeta yang akan memberinya bantuan lebih lanjut. Mungkin, ada saatnya dia akan mampu memberi respon. Berikan kesan tentang pentingnya mengambil inisiatif menemui pendeta.
Untuk yang Kristen: Jika dia seorang Kristen yang kembali mengalami gangguan rasa bersalah, jelaskan hal-hal berikut:
1 Yakinkan dia tentang kasih dan pengampunan Allah. Dia dapat menyucibersihkan rasa bersalah! Jika Allah telah mengampuni, dia harus belajar mengampuni diri sendiri. Seorang Kristen memiliki hak untuk menuntut kebenaran yang dinyatakan dalam 1Yohanes 1:9. Kristus Juruselamat kita, menghapuskan segala dosa kita -- baik yang di masa lampau, masa kini maupun nanti -- melalui karya sempurna-Nya di salib.
2 Anjurkan dia untuk membaca, mempelajari, dan merenungkan bagian- bagian Firman seperti Mazmur 103:1-6, 51:1-19; Yesaya 53:1-12; dan Yohanes 18:1-40; 19:1-42. Mintalah dia mencatat supaya kelak, dia dapat membaca dan mempelajari sendiri bagian-bagian Firman tadi. Dia bisa memiliki keyakinan bahwa kelepasan dari rasa bersalah akan dialaminya, bila dia menyambut korban Kristus dan janji pengampunan serta penyucian-Nya.
3 Anjurkan dia untuk berdoa secara jelas dan setia, meminta "suatu hati nurani yang bersih di hadapan Allah dan manusia" (Kisah Para Rasul 24:16). Dia harus terus berdoa, sampai damai dialaminya.
4 Usulkan dia menghubungi pendeta yang dapat melayaninya lebih lanjut.
Posted by
tikituka
at
7:36 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Prinsip-prinsip Praktis Mengendalikan Amarah
Memang baik jika kita mengerti apa itu amarah, penyebabnya, bermacam-macam respon terhadapnya, penyataan Alkitab, reaksi yang sehat dan tak sehat, dan sebagainya. Namun lebih dari itu, apa yang Anda LAKUKAN terhadap perasaan marah saat ANDA mengalaminya sendiri.
Sebagai ringkasan, ada sepuluh prinsip praktis untuk menghadapi perasaan marah dan mengendalikannya.
Camkanlah selalu bahwa sebagai orang Kristen kita tidak dapat mengendalikan amarah (atau masalah lain) dengan mengandalkan kekuatan sendiri! Kita harus bersandar pada bimbingan dan kekuatan Roh Kudus. Dan bimbingan Roh Kudus paling dibutuhkan jika seseorang merasa dirinya baik tetapi sekaligus sedang marah.
Inilah sepuluh langkah praktis yang dapat Anda ambil:
1 Sadari reaksi emosi anda. Tanyakan pada diri sendiri, "Apa yang saya rasakan?".
2 Kenali perasaan-perasaan Anda dan akui bila Anda memiliki perasaan tersebut. Mengakui perasaan marah tidak berarti Anda harus menyatakannya.
3 Coba mengerti mengapa Anda marah. Apa penyebabnya? Kemarahan sering timbul karena frustrasi. Kita frustrasi karena keinginan, kerinduan, ambisi, harapan, dorongan, kehausan atau kehendak kita. Tanyakan pada diri Anda, "apakah saya marah karena frustrasi? Apa atau siapa penyebab frustrasi? Jalan positif bagaimana yang dapat saya pikirkan?"
Alasan lain mengapa kita marah termasuk: kemungkinan terluka, baik secara fisik maupun emosi. Ras aman kita terancam dan sebagai benteng pertahanan, kita marah. Adanya ketidakadilan, baik terhadap orang lain, diri sendiri maupun masyarakat. Seringkali, amarah semacam ini disebut "marah suci", yang dapat dibenarkan. Tetapi berhati-hatilah dan jangan mengizinkan amarah Anda yang benar terhadap ketidakadilan dikacaukan oleh penyebab amarah yang mendasar, yakni: sikap mementingkan diri sendiri... penyebab utama amarah pada sebagian besar manusia. Jika kita mau jujur, kita menjadi sangat marah karena tidak dapat menjalankan cara kita, dan tidak memperoleh yang kita inginkan.
4 Dapatkah Anda membangun situasi lain sehingga amarah tidak akan timbul? Apa yang telah Anda lakukan yang menyebabkan orang lain bereaksi sedemikian rupa sehingga Anda marah?
5 Apakah marah adalah respon yang paling baik? Tuliskan akibat- akibat jika Anda marah. Respon apa yang paling baik? Apakah keramahan, simpati dan pengertian dari orang lain dapat menyelesaikan masalah? Dapatkah Anda mengakui perasaan Anda kepadanya?
6 Apakah amarah Anda terlalu cepat muncul? Jika demikian, tariklha napas dalam-dalam atau hitunglah sampai sepuluh sebelum Anda marah. Pusatkan perhatian pada kelebihan dan kualitas positif orang lain daripada kebobrokannya.
7 Apakah Anda terlalu kritis terhadap orang lain? Apa akibatnya? Jangan terlalu curiga terhadap orang lain. Dengar apa yang mereka katakan dan rasakanlah. Evaluasi komentar-komentar mereka daripada menyalahkannya. Mungkin saya mereka mempunyai sesuatu yang ingin ditawarkan kepada Anda. Apakah amarah atau kekritisan Anda yang berlebihan muncul dari keinginan untuk merasa diri lebih baik? Apakah pendapat-pendapat anda selalu tepat atau dapatkah usul-usul tersebut diperbaiki? Perhalus bicara dan reaksi Anda terhadap orang lain. Perhatikan sikap dan ekspresi Anda yang akan menunjukkan penolakan dan kritik terhadap orang lain. Dapatkah Anda mengungkapkan penghargaan dan pujian untuk menggantikan kekritisan yang berlebihan?
8 Mungkin ada kalanya amarah atau sikap kritis yang berlebihan dapat dibenarkan. Jika Anda akan mengungkapkannya, rencanakan terlebih dulu dan nyatakan dengan kata-kata yang dapat diterima orang lain. Gunakan waktu, kebijaksanaan dan sertailah dengan kerinduan untuk menolong orang lain, bukannya menjatuhkannya.
Carilah teman yang dapat diajak bicara dari hati ke hatii dan Anda dapat memperoleh masukan dari saran-sarannya. Akui perasaaan Anda dan mintalah bimbingannya.
Sediakan waktu untuk mendoakan kesulitan-kesulitan dalam mengendalikan perasaaan. Akui keadaan Anda secara terbuka kepada Allah. Mohon pertolongan-Nya. Hafalkan ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan amarah dan cara-cara berperilaku terhadap orang lain. Hafalkan dan pahami ayat-ayat tsb. dan praktekkanlah dalam hidup sehari-hari.
Posted by
tikituka
at
7:35 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Posesif
Gejala posesif (lihat bagian Perspektif Psikologis) yang hadir dalam jiwa banyak orang seringkali menggejala dalam berbagai bentuk tingkah laku yang sangat merugikan. Sebagai contoh, perhatikan kasus dibawah ini.
Pak Fandi dirawat di rumah sakit karena gejala stroke. Tekanan darahnya memang melambung tinggi. Kepalanya sering pusing dan sudah sebulan ini ia sulit tidur. Ia tahu apa yang menjadi faktor pencetusnya. Dalam percakapan dengan Anda ia mengatakan, "Saya kecewa... sangat kecewa dengan anak saya." Pak Fandi adalah seorang usahawan Kristen yang sukses. Meskipun demikian, dari berbagai macam usahanya, perusahaan komputernyalah yang paling ia banggakan. Dengan bangga ia bercerita ke mana-mana bahwa Boby anaknya yang tunggal itu akan segera menggantikannya. Selama ini studi Boby di Amerika berjalan sangat lancar. Namun, setelah lulus dengan titel MBA, Boby justru ingin menjadi misionari. Sebagai majelis gereja, pak Fandi tahu apa itu panggilan Tuhan. Ia bahkan dapat mengajarkan di kelompok PA di gerejanya bahwa Tuhan harus yang terutama, tetapi ia sadar ia tak mampu mempraktikkannya. Ia tidak rela anaknya menjadi misionari. Boby harus menjadi ahli warisnya dan perusahaan-perusahaannya harus tetap jaya.
Kasus yang ekstrim ini inti masalahnya juga jiwa yang posesif. Memang hampir semua orang akan membela pak Fandi karena "realita yang ada" (perusahaan-perusahaan yang maju dan mempunyai arti yang sangat signifikan baginya dan "cinta kasih" seorang ayah yang ingin memberi "yang terbaik" untuk anaknya. Meskipun demikian, kedua "hal yang baik" ini bisa menjadi "tidak baik" oleh karena hadir dalam jiwa pribadi yang posesif. Mengapa demikian dan bagaimana menyelesaikannya?
A
Cinta kasih yang hadir dalam jiwa yang posesif adalah cinta kasih yang subjektif sifatnya.
Cinta kasih tersebut seringkali tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan objeknya, bahkan kehadirannya cenderung dipaksakan. Oleh sebab itu, meskipun "isinya baik", cinta kasih tersebut membelenggu, dan bisa menyengsarakan.
Itulah yang terjadi dengan pak Fandi dan Boby anaknya. Mungkin pak Fandi merasa sangat mencintai anaknya, atau sekurang- kurangnya sangat ingin melihat anaknya berhasil menjadi seperti yang ia kehendaki, yaitu pewaris usahanya. Dorongan untuk mencapai tujuan ini menjadi semakin besar karena pabrik komputer ini adalah hasil usahanya yang paling ia banggakan. Mungkin harga diri bahkan identitasnya sendiri sudah menyatu dengan perusahaan tersebut. Sehingga keinginannya untuk melihat perusahaan ini tetap hidup dan jaya, besar sekali. Bagi pak Fandi perusahaan itulah impian tertinggi yang ia miliki.
Dalam kondisi seperti ini, pak Fandi merasa bahwa apa yang terbaik yang disediakan bagi anaknya adalah tanda cinta kasihnya. Ia tidak berdaya menolak kehadiran dorongan yang sebenarnya sudah menjadi kebutuhan pribadi yang primer dalam hidupnya. Spirit subjektivitas yang hadir dalam dirinya menjadi semakin kuat. Ia mungkin tidak sadar kalau keinginannya semata- mata subjektif, karena ia tidak mempunyai pilihan lain. Keinginan tersebut sudah menjadi wujud dari arti dan tujuan hidup pak Fandi itu sendiri.
Sekarang realita ini bertemu dengan Boby seorang pemuda dengan identitas yang jelas. Kalau Boby adalah pribadi dengan identitas yang tidak jelas (role confession) justru semuanya akan lebih mudah dan lancar. Mungkin tawaran dan keinginan pak Fandi akan diterima begitu saja, dan kemungkinan Boby akan berhasil menjadi pewaris yang baik dan membahagiakan kedua orang tuanya, tetapi aneh sekali, kebenaran justru seringkali menuntut dan membuat masalah menjadi kompleks. Benar seperti yang dikatakan firman Tuhan bahwa "jalanmu bukan jalan-Ku" (Yesaya 55:8). Namun realita menjadi semakin kompleks karena pak Fandi adalah pribadi yang posesif. Akibatnya "spirit memaksakan kehendak" menjadi lebih besar daripada "kasih sayang yang sesungguhnya." Kasih sayang yang sejati adalah kebenaran Allah yang membebaskan (Yohanes 8:32).
Dalam kasus ini, konselor membutuhkan kemampuan empati yang cukup tinggi. Ia harus dapat merasakan yang dirasakan pak Fandi, sehingga dapat mengkomunikasikan spirit "non-judgemental/sikap tidak menghakimi atau mempersalahkan". Melalui suasana empati itulah pak Fandi akan terbuka untuk belajar berpikir dengan komponen-komponen yang baru. Di samping itu konselor perlu waspada, mungkin pak Fandi memerlukan bahan-bahan tambahan untuk memikirkan tentang, misalnya, kasih yang sejati, iman yang hidup, talenta, dan kehendak Tuhan, hubungan orangtua anak, dan sebagainya. Idealnya, semua komponen pikiran secara lengkap hadir dan dapat dipakai untuk menggumuli dan mengambil keputusan. Pada akhirnya, pak Fandi sendirilah yang harus mengambil keputusan tersebut. Keputusan yang diambil setelah konselor menolong dia menemukan, menyadari apa yang sedang terjadi dalam hidupnya.
B
Cinta kasih yang hadir dalam jiwa yang posesif menafikan/menyangkali hubungan pribadi yang sesungguhnya.
Hubungan seperti ini ada antara pak Fandi dan Boby anaknya. Memang tidak jelas bagaimana hubungan antara keduanya selama ini. Jikalau hubungan antara mereka berdua selama ini buruk, dengan mudah dapat dikatakan bahwa penolakan Boby terjadi oleh karena memang Boby ingin melukai ayahnya. Atau, setidak-tidaknya Boby tidak ingin dekat apalagi bekerja dengan ayahnya. Bahkan, dalam konteks hubungan yang buruk, panggilan Tuhan untuk menjadi misionari hanya menjadi alasan tanpa bobot kebenaran yang esensinya perlu digumuli.
Sebaliknya jikalau hubungan mereka "baik" atau bahkan "sangat baik", konselor akan menghadapi berbagai kemungkinan yang masih perlu ditemukan. PERTAMA, penolakan Boby sebenarnya sudah diantisipasi oleh pak Fandi tanpa ia sendiri berhasil mengatasi jiwa posesifnya. Jadi, masalah ini adalah masalah antara dia dengan dirinya sendiri. Pak Fandi sadar bahwa ia bermasalah. Meskipun ia tahu bahwa kemauannya salah, ia tidak dapat mengubahnya, karena ia berjiwa posesif. Mungkin, ia sudah mencoba selama bertahun-tahun dan tidak pernah berhasil "memiliki" Boby secara penuh tetapi ia tidak pernah putus asa dan akan terus mencoba untuk memiliki dan menjadikan Boby seperti yang dikehendakinya. Keputusan Boby telah meruntuhkan harapan tersebut. Tuntutan jiwa posesifnya menghasilkan gelombang besar yang menghantam dirinya sendiri. Pak Fandi terpaksa dirawat di rumah sakit. Gangguan kesehatan dan sikapnya yang depresif merupakan bentuk dari "cry for help" dari jiwa kanak-kanak yang menginginkan "mainan" yang tidak "appropriate". Bagaikan seorang anak yang ia tahu kedua orangtuanya mengasihi tetapi ia tetap menginginkan mainan yang buruk itu. Ia tidak bisa mematikan dorongan yang muncul dari dalam dirinya.
KEDUA, penolakan Boby merupakan suatu kejutan. Pak Fandi percaya bahwa hubungan yang "sangat baik" itu telah meyakinkan dirinya bahwa dalam segala hal Boby akan selalu menurut dan menyenangkan orangtuanya. Berarti, baik pak Fandi maupun Boby keduanya mempunyai tafsiran dan pengertian yang berbeda tentang makna hubungan yang "sangat baik" yang terjalin antara mereka berdua. Bagi pak Fandi, Boby tak akan menolak permintaannya. Bagi Bobby, hubungan yang "sangat baik" itu menjadi bukti betapa ayahnya sangat mengasihi dan menghargai dirinya sebagaimana ia ada. Itulah sebabnya ia berani untuk menjadi dirinya sendiri.
KETIGA, penolakan Boby adalah manifestasi dari "tug of war/tarik menarik untuk menentukan siapa yang lebih kuat" yang bisa merupakan fase "dysequilibrium" dari hubungan antardua pribadi yang sedang bertumbuh menjadi makin matang. Jadi, ini merupakan fenomena sosial yang sehat dan wajar tetapi dengan dampak yang berbeda dalam dua pribadi tersebut. Pak Fandi cenderung depresif dan kecewa karena justru dengan jiwa posesifnya ia menjadi tidak siap. Sebaliknya Boby sudah menantikan perubahan tersebut. Jadi, soal pekerjaan yang ditawarkan pak Fandi dan keputusannya menjadi misionari hanyalah "precipitating factors/faktor-faktor pencetus" yang menyingkapkan apa yang sebenarnya ada.
Untuk berbagai kemungkinan tersebut konselor membutuhkan kemampuan berpikir analitik untuk dapat melihat berbagai "aspek" di tengah kompleksnya realita. Dalam ketiga kemungkinan tersebut, "empati" saja tidak cukup. Yang diperlukan setelah empati adalah kemampuan analitik sehingga konselor dapat membukakan beberapa pintu kemungkinan yang baru yang dibutuhkan oleh kliennya.
Untuk kemungkinan yang pertama, misalnya, konselor boleh mulai dengan berempati dan mengatakan, "Kadang-kadang kita heran menemukan kompleksnya realita dalam kehidupan ini... apa yang kita rasa terbaik ternyata bisa hadir dalam bentuk yang sama sekali berbeda.... Meskipun bertahun-tahun kita mencoba mengkomunikasikannya... tetap orang yang kita kasihi tidak bisa menerimanya ... Menyadari realita seperti ini bisa membuat kita kecewa... apatis... dan bahkan mungkin putus asa." Inilah bentuk empati, tetapi empati saja tidak cukup. Meskipun dengan mendapatkan empati, klien bisa merasakan dirinya sangat dimengerti, tetapi klien hanya didorong untuk mengulang keluhan-keluhannya. Empati pada tahap pertama ini hanya menjadi sarana katarsis yang terbatas. Klien tidak melihat pintu-pintu yang terbuka untuk mulai berpikir dengan aspek- aspek pikiran yang baru. Itulah sebabnya, konselor perlu memakai ketajaman berpikir analitik supaya dapat menolong klien menemukan berbagai pintu untuk ekplorasi yang selanjutnya. Sebagai contoh, setelah empati, konselor dapat meneruskan dengan mengatakan, "Yah... di tengah kondisi yang dilematik itu seringkali kita tidak mempunyai kekuatan untuk mengubahnya... sehingga kita memilih untuk bertahan dengan cara berpikir yang lama dan tertutup untuk kemungkinan- kemungkinan yang baru. Meskipun kita sendiri menderita dan orang- orang yang kita kasihi juga menderita, kita bisa tetap bertahan bahkan terjebak dalam pola-pola pikir yang merugikan. Hal yang salah yang kita sadari bisa tetap menjadi kebutuhan yang kita inginkan. Kita membuat hubungan dengan orang yang kita kasihi menjadi berubah... seolah-olah menjadi dua musuh yang sedang berusaha untuk saling menaklukkan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidup kita ini? Apa yang seharusnya kita lakukan ditengah dilema kehidupan ini?
Dengan kemampuan analitik, konselor dapat melihat peta arah-arah gerak jiwa manusia. Dengan demikian ia dapat menempatkan klien yang posesif itu dalam kondisi "mau tak mau harus berada dalam posisi tertentu dan mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang baru". Meskipun demikian, menghadapi individu dengan jiwa posesif, konselor harus sabar karena klien akan kembali-kembali lagi ke titik awal. Jiwanya terjebak pada keinginan untuk memiliki dan mengontrol sehingga ide dan kebenaran yang diakuinya tidak selalu mempunyai kekuatan yang cukup untuk memperbaharui sikapnya.
Posesif (Perspektif Psikologis)
Orang yang posesif adalah orang yang haus. Istilah posesif itu sendiri berasal dari kata kerja, "to possess", yang berarti memiliki. Jadi, orang yang posesif adalah orang yang "memiliki" atau lebih tepat lagi, menguasai orang lain.
Jika kita adalah orang yang posesif, kita akan menuntut pasangan kita untuk selalu memberitahukan keberadaannya. Kita akan mengharuskannya meminta izin terlebih dahulu sebelum ia memotong rambutnya dan sudah tentu, kita akan marah bila model rambutnya ternyata berlainan dengan model yang kita setujui. Kita mewajibkannya untuk tunduk dan memberi pengakuan bahwa kita adalah orang yang paling penting dalam hidupnya. Kita haus akan pengabdiannya dan segala sesuatu yang ia berikan kepada kita.
Jika kita adalah orang yang posesif, kita akan menolak bila dijuluki posesif. Kita lebih suka disebut peduli atau sayang. Kita berlogika, jika tidak sayang, sudah tentu kita tidak akan terlibat dalam kehidupannya, apalagi mencampuri urusannya. Permintaan- permintaan kita adalah wujud kasih kepadanya dan seharusnyalah ia menghargai kepedulian yang besar itu. Acapkali kita merasa tertolak dengan sikap orang yang menolak "perhatian" kita dan ini membuat kita marah. Kita tidak dapat (atau, tidak mau) memahami mengapa orang tidak berkenan menerima perhatian kita.
Sebenarnya masalah posesif adalah masalah kebutuhan. Kita membutuhkan keamanan yang besar, begitu besarnya sehingga segala tindak tanduk orang yang tidak sesuai dengan harapan kita sangatlah mencemaskan. Rasa aman barulah muncul bila orang mematuhi permintaan kita tanpa ragu sebab ini membuktikan pengabdiannya yang total. Bagi kita, lebih baik tidak bersamanya sama sekali daripada bersamanya namun harus direpotkan oleh kehendaknya yang berbeda dari keinginan kita.
Kita yang posesif menyimpan ketakutan yang besar, kita takut ditinggalkan, takut diabaikan, takut tidak berarti dalam hidupnya, dan takut kehilangan kendali atas kehidupan kita. Daripada hidup dalam kecemasan terus menerus, kita pun mengatur-atur kehidupan orang agar seturut dengan rancangan hidup kita. Kita berupaya memasukkan orang ke dalam skema kehidupan kita dan sudah tentu, tidak pernah sekalipun kita mempertimbangkan untuk masuk ke dalam skema kehidupannya.
Musuh utama kita yang posesif adalah kemandirian. Kita lebih suka mengidentikkan kemandirian dengan pemberontakan. Bagi kita, orang yang tidak lagi mendengarkan dan menuruti kehendak kita sama dengan pemberontak dan naluri alamiah kita menghadapi pemberontakan adalah menumpasnya dengan segala cara. Namun jika kita gagal menumpasnya, langkah penghabisan adalah membuangnya tanpa penyesalan sedikit pun.
Masalah posesif adalah masa batas. Kita tidak bisa memahami bahwa sama seperti negara, setiap orang mempunyai wilayahnya sendiri dan bahwa sama seperti negara yang beradab, kita pun wajib menghormati batas wilayah masing-masing. Kita yang posesif beranggapan bahwa hanya kitalah yang memiliki batas wilayah itu sebabnya kita marah bila orang mencampuri urusan kita, apalagi mencoba mengubah keputusan kita. Sebaliknya, kita melihat orang lain sebagai negara tanpa batas dan bahwa sesungguhnya batas wilayah kita mencakup wilayahnya juga. Itulah sebabnya, kita merasa merdeka untuk masuk ke dalam hidupnya dan memintanya melakukan apa yang kita kehendaki, tanpa merasa sedikitpun bersalah. Upaya orang untuk menegakkan batas wilayahnya sama dengan penolakan dan penghinaan.
Saya tidak mengatakan bahwa orang yang posesif adalah orang yang tidak mengasihi. Saya percaya bahwa orang yang posesif sanggup mengasihi dan memang kerap kali semua tindakannya keluar dari kasihnya yang besar. Saya pun mahfum bahwa kasih dalam kadarnya yang tinggi cenderung berubah menjadi tali yang mengikat objek kasih. Saya kira masuk akal apabila kita takut kehilangan orang yang kita kasihi karena kita bisa membayangkan betapa susahnya hidup tanpa kehadirannya.
Sungguhpun demikian, kita perlu menyadari bahwa kasih sebesar apa pun seyogianya tetap menyisakan ruang bagi pribadi itu untuk memilih dan inilah yang sukar diberikan oleh orang yang posesif. Kita yang posesif melarang orang untuk memilih sebab kita takut suatu hari kelak ia tidak lagi memilih kita. Inilah mimpi buruk kita. Itu sebabnya, kita berusaha mematahkan setiap tulang kakinya dan mencabuti semua helai bulu sayapnya agar selamanya ia tidak akan pergi ke mana-mana. Kita pun membuatnya bergantung sepenuhnya kepada kita agar tidak pernah terbersit sedikitpun di benaknya bahwa dia akan mampu hidup tanpa kita. Kitalah orang yang paling penting dan perlu dalam hidupnya dan kita akan menjaga agar tidak seorang pun dapat menggantikan kedudukan kita.
Orang yang posesif haus akan pemenuhan kebutuhan amannya. Ia terus meneguk dan meneguk namun tidak pernah puas; ia tetap haus akan rasa aman dan bekerja keras untuk memastikan bahwa dunianya aman. Rasa hausnya tidak pernah hilang sebab pemenuhan kebutuhan itu berasa dari luar, bukan dari dalam dirinya. Rasa takutnya yang besar membuatnya mencari keamanan dari luar dan sekali ia mendapatkannya, ia akan menggenggamnya erat-erat. Begitu kuat genggamannya kadang membuat orang tidak bisa bernapas dan akhirnya mencoba melarikan diri.
Orang yang posesif lupa berserah kepada Dia yang berkata, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33) Orang yang posesif adalah orang yang mencari kerajaannya dan mementingkan kebenarannya. Akibatnya jelas. Semua "penambahan" yang diterimanya semu dan sementara sebab sesungguhnya, "penguranganlah" yang tengah dituainya.
Posted by
tikituka
at
7:33 PM
0
comments
Labels: masalah hidup
Perumpamaan Tentang Bendahara Yang Cerdik
Salah satu kesamaan dari perumpamaan-perumpamaan yang pernah diajarkan Yesus adalah selalu mengejutkan, menyentak, dan menyadarkan. Yang menjadi "tokoh pahlawan" biasanya orang yang paling tidak diduga. Ciri itu tampak jelas dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1-13). Kisah ini memancing kontroversi dan perdebatan di antara para penafsir Alkitab. Meskipun menimbulkan banyak pertanyaan, perumpamaan ini menghadapkan kita pada kebenaran yang esensial tentang kehidupan sebagai seorang murid. Perumpamaan ini pertama-tama disajikan dalam ayat 1-8, lalu diikuti dengan penjelasan tentang prinsip-prinsip di dalamnya, yang diajarkan oleh Tuhan sendiri.
YESUS MENYAMPAIKAN PERUMPAMAAN TENTANG BENDAHARA YANG CERDIK (Lukas 16:1-8)
Perumpamaan ini membawa kita memasuki dunia keuangan dan tanggung jawab. Bendahara itu seorang bawahan. Tepatnya, ia hanyalah pegawai yang diserahi kepercayaan oleh tuannya, yang mungkin sedang bepergian, untuk mengawasi usaha dan aset tuannya. Yang jelas, tanggung jawabnya adalah menggunakan kepercayaan itu untuk kepentingan majikannya, bukan dirinya. Namun, godaan untuk menyelewengkan uang bagi tujuan dan kesenangannya sendiri terlalu kuat. Ia menghambur-hamburkan uang itu, melanggar kepercayaan yang diberikan, dan menyalahgunakan harta majikannya. Dan, ketika dituduh lalai, ia tidak bisa menjawab.
Kisah ini hampir sama dengan perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni, dalam Injil Matius pasal 18. Pengulangan situasi yang sama ini menunjukkan bahwa pelanggaran kepercayaan terhadap orang lain, yang umumnya terjadi pada zaman dahulu, terjadi juga pada zaman sekarang. Tentu saja orang itu pantas dipecat. Namun, yang penting untuk diperhatikan adalah posisi si bendahara setelah tuannya berkata, "Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara" (ayat 2).
Perusahaan-perusahaan modern biasanya memerintahkan karyawannya yang dipecat untuk segera mengemasi barang-barang di meja kerjanya, atau jika tidak, orang lain yang disuruh membereskannya. Namun, bendahara dalam Injil Lukas, masih diberi kesempatan. Pemecatan dirinya memang tak mungkin dihindari lagi, tetapi belum merupakan sesuatu yang bersifat final atau segera diumumkan. Sampai laporan keuangannya selesai dibuat, ia masih memiliki kesempatan untuk bertindak. Memang, waktunya amat singkat, karena itu ia harus segera bertindak. Ia tidak boleh membuang-buang waktu.
Di sinilah kecerdikan orang itu akan tampak. Ia tahu, ia tak punya banyak pilihan. Ia terlalu lemah untuk melakukan pekerjaan kasar dan terlalu gengsi untuk mengemis. Jika tidak bertindak cepat, nasib buruk akan menimpanya. Tetapi, ia tahu benar pepatah yang mengatakan, "Bantulah aku, maka aku akan membantumu." Mungkin ia bisa bermurah hati kepada beberapa orang, sehingga mereka akan balas berbaik hati kepada dirinya.
Rencananya sederhana. Ia memanggil orang-orang yang berutang kepada tuannya dan mengubah surat utang mereka. Bagaimanapun juga, ia telah lama mengelola laporan keuangan tuannya dan ia masih memiliki wewenang yang sah untuk bertindak atas nama tuannya.
"Berapakah utangmu kepada tuanku?"; "Seratus tempayan minyak."; "Inilah surat utangmu yang lama. Tuliskanlah lagi surat utang lain, tapi tulis saja lima puluh tempayan dan saya akan menandatanganinya."
"Berapakah utangmu?"; "Seratus pikul gandum."; "Inilah surat utangmu, buatlah surat utang lain, tuliskan saja delapan puluh pikul dan saya akan menandatanganinya."
Kita tidak tahu praktik bisnis pada abad pertama, sehingga sulit memastikan sesuatu yang sedang terjadi. Beberapa ahli yakin bahwa semua transaksi bisnis di masa itu curang dan bendahara ini menggambarkan kecurangan orang-orang pada masa itu. Mungkin hal itu benar, tetapi mengingat orang-orang ini mungkin akan terus melakukan bisnis dengan orang kaya itu, tafsiran ini tampaknya tidak sesuai. Yang lebih mungkin adalah transaksi yang dilakukan keduanya terselubung atau tidak sah.
Menurut hukum Musa, para bisnisman Yahudi dilarang mengambil riba dari sesama orang Yahudi. Namun, hal itu membuat transaksi dagang menjadi sulit. Jadi, mereka mengakalinya. Ketika meminjamkan uang, tidaklah sah mencantumkan besarnya bunga dalam surat tagihan. Oleh karena itu, dalam tagihan biasanya hanya tercantum sejumlah uang: jumlah total yang sudah mencakup pinjaman pokok, ditambah bunga dan imbalan bagi si bendahara. Jumlah ini seringkali dinyatakan dalam bentuk barang (misalnya minyak atau gandum). Dengan cara ini, transaksi itu akan tampak sejalan dengan hukum.
Jika benar demikian, mungkin si bendahara memberi potongan jumlah utang yang tertera dalam tagihan itu dengan menangguhkan bunganya. Karena memungut bunga adalah sesuatu yang melanggar hukum Yahudi, maka tuannya tidak punya dasar apabila ingin memberikan sangsi kepadanya. Bisa jadi, orang-orang yang berutang itu mencurigai alasan di balik "kemurahan hati" si bendahara, meskipun begitu mereka tentu dengan senang hati menerima tawarannya. Karena itu, dengan cerdik ia telah berhasil memperdaya tuannya sekaligus mengambil hati para pengutang itu, sehingga mereka pasti akan mengenangnya sebagai bendahara yang baik hati.
Perumpamaan itu diakhiri dengan pernyataan, "Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik" (ayat 8). Kita perlu tahu apa yang dikatakan dan apa yang tidak dikatakan. Tuan itu tidak berkata ia berkenan pada tindakan bendahara itu, tetapi ia terkesan pada tindakannya. Orang itu berhasil memperdaya tuannya. Si majikan tentu tak bermaksud memuji ketidakjujuran si bendahara, tetapi bagaikan atlit yang kalah, dengan muka masam mengomentari keahlian dan strategi lawannya, ia terpaksa mengakui kecerdikan si bendahara.
Karena kata cerdik adalah kata kunci dalam cerita ini, kita perlu merenungkan maknanya dengan seksama. Dalam bahasa Yunani, kata ini berarti "bertindak dengan perhitungan jauh ke depan", dan hal ini digambarkan dalam perkataan Yesus tentang orang yang bijaksana (secara harfiah juga berarti cerdik) yang membangun rumahnya di atas batu untuk siap menghadapi banjir yang datang (Matius 7:24). Juga digambarkan dalam sosok lima gadis yang "bijaksana" (cerdik) yang membawa persediaan minyak untuk persiapan di masa yang akan datang (Matius 25:1-13). Sifat inilah yang dimiliki oleh bendahara yang tidak jujur itu. Ia bertindak dengan tepat dan meyakinkan pada masa sekarang untuk menempatkan dirinya pada masa yang akan datang. Ia bertindak tepat sesuai dengan situasi. Ia menyadari situasi krisis yang dihadapinya dan meraih peluang yang ada karena kemampuannya memandang jauh ke depan. Ia cukup lihai untuk bertindak dengan kecerdikan dan pertimbangan yang praktis.
Kisah ini mengusik kesadaran kita. Walaupun bendahara ini tampaknya menjadi pahlawan, sebenarnya tidak. Tetapi melalui tindakan- tindakannya yang menimbulkan keraguan itu, kita dapat melihat suatu kualitas yang diharapkan juga dimiliki oleh murid-murid Tuhan bila mereka ingin hidup secara efektif di dunia ini. Kualitas itu diuraikan dalam pembahasan berikutnya.
TUHAN MEMBICARAKAN PRINSIP-PRINSIP MENJADI MURID YANG CERDIK (Lukas 16:8-13).
1 Murid yang cerdik menggunakan uang untuk meraih tujuan kekal.
Pesan utama Tuhan dalam Lukas 16:8-13 adalah bahwa kecerdikan dalam menggunakan uang dapat membuat orang mencapai tujuan yang kekal. Dalam ayat 9 Dia berkata, "Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan kekayaan duniawi." Makna frase "kekayaan duniawi" tidak setajam perkataan Yesus yang sebenarnya, yakni "Mamon yang tidak jujur". Mamon adalah suatu istilah yang menarik, yang tidak hanya berarti uang, tetapi juga harta benda. Tuhan menjelaskan bahwa Mamon memiliki kekuatan yang besar, yang tidak bersifat netral. Bila tidak ditempatkan di bawah otoritas Kristus, Mamon dapat menjadi ilah lain yang membawa kita pada kejahatan. Jadi, itu bukan sekadar "kekayaan duniawi" melainkan "Mamon yang tidak jujur".
Tuhan memanggil kita untuk mengenali batas-batas toleransi terhadap harta. Ungkapan "supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi" (ayat 9) yang secara harafiah berarti "jika Mamon itu gagal", mengacu pada saat kematian tiba atau saat tak ada lagi yang memberikan utang. Paulus berkata, "Kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa- apa ke luar" (1Timotius 6:7). Kecerdikan mendorong kita untuk menyadari bahwa uang memang berkuasa, tetapi terbatas, sementara, dan fana. Salah satu sifat uang adalah dapat musnah atau rusak. Beberapa abad yang lalu Bernard dari Clairvaux menulis, "Uang tak lagi memuaskan kebutuhan batin kita yang lapar, karena kelak kita lebih butuh udara bagi tubuh yang membutuhkan makan." Tentunya ini berlaku saat kematian tiba. Tak seorang pun dapat membawa serta uangnya.
Kebijakan dalam menggunakan uang juga terfokus pada bagaimana uang itu dapat digunakan untuk tujuan-tujuan yang kekal. Yesus berkata, "Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya ... kamu diterima di dalam kemah abadi" (ayat 9). Bila uang kita digunakan untuk memenuhi kebutuhan saudara- saudara seiman dan untuk mewartakan Injil, kita yakin bahwa akan ada sesuatu yang kekal yang akan kita terima. Bapa kita yang Maha Pemurah akan menyingkapkan kepada orang-orang kudus bagaimana kita telah memakai uang untuk menjadi sarana dalam pertobatan mereka atau dalam memenuhi kebutuhan mereka. Bayangkan betapa besar penerimaan di surga!
Tidak banyak pengalaman yang lebih memuaskan daripada pengalaman mengunjungi tempat tinggal dan tempat pelayanan Anda dulu, dan melihat orang-orang berbaris untuk mengatakan betapa Anda telah memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan mereka, sesuatu yang tak terkira dan tak ternilai.
Tuhan memanggil kita untuk menggunakan uang dengan bijak, dengan alasan-alasan yang bersifat kekal. Namun data statistik menyatakan bahwa dari jumlah pendapatan yang ada (sesuai dengan laju inflasi), yang meningkat sebesar 31% di kalangan 31 anggota denominasi Protestan antara tahun 1968 sampai 1985, hanya 2% dari angka tersebut yang diberikan kepada gereja-gereja atau organisasi-organisasi kristiani (Chicago Tribune, 31 Juli 1988). Dengan kata lain, 98% lainnya digunakan untuk membiayai gaya hidup manusia. Bila kita hidup dalam dunia dengan kebutuhan yang terus-menerus meningkat dan banyak peluang yang memikat, maka sepertinya akan sulit bagi kita untuk menggunakan uang dengan bijak.
Orang-orang percaya juga perlu hidup dengan bijak -- menyusun strategi, merencanakan, memimpikan, dan menggunakan akal budi serta kreativitas. Pada saat-saat yang radikal, diperlukan solusi yang radikal pula, sebagaimana dilukiskan dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Tuhan tidak memanggil kita untuk sekadar menjalankan bisnis seperti biasa. Murid yang bijak perlu bertanya kepada diri sendiri, "Bagaimana aku dapat menggunakan uangku semaksimal mungkin untuk hal-hal yang bernilai kekal?" Kita harus berhati-hati agar tidak membelanjakan atau menghamburkan uang dengan ceroboh, emosional, atau menuruti kata hati. Tuhan memanggil kita untuk menjadi orang yang tegas, cermat, cerdik, dan memandang jauh ke depan.
1 Murid yang bijaksana menggunakan uang dalam terang kemuliaan kekal.
Ada tiga pesan utama dalam Lukas 16:8-13. Pertama, kebijaksanaan dalam menggunakan uang dapat mencapai tujuan kekal. Kedua, kebijaksanaan dalam pengelolaan keuangan akan membawa hasil yang kekal (ayat 10-12). Ketiga, prinsip pengelolaan uang sangat sederhana. Prinsip pertama adalah persyaratan utamanya: "Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai" (1Korintus 4:2). Prinsip kedua adalah ganjaran, yang dijelaskan Tuhan dalam Lukas 16:10: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara- perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."
Dalam perkara-perkara kecillah kita membuktikan kesetiaan. Utusan Injil ternama Hudson Taylor, mengamati, "Perkara kecil adalah sesuatu yang kecil; tetapi kesetiaan dalam perkara kecil adalah sesuatu yang besar".
Kesetiaan terhadap uang berkaitan dengan karakter. Seorang penulis menerangkan mengapa ia masih bisa menambahkan kisah lain pada buku biografi tentang Duke of Wellington: "Saya lebih beruntung dibandingkan penulis biografi sebelumnya. Saya menemukan laporan keuangan yang mengungkapkan bagaimana Duke membelanjakan uangnya. Cara Duke membelanjakan uang dapat menjadi petunjuk yang lebih baik untuk mengetahui apa yang menurutnya benar-benar penting, daripada hanya membaca surat-surat atau pidato-pidatonya.". Hal ini juga berlaku atas laporan keuangan seorang murid Tuhan.
Kebijaksanaan menyebabkan kita memandang "Mamon" dengan cara menarik. Lukas 16:10-12 menunjukkan kesamaan antara "perkara- perkara kecil" (ayat 10), "kekayaan duniawi" (ayat 11), dan "harta orang lain" (ayat 12). Pada saat yang sama juga ditunjukkan kesamaan antara "perkara-perkara besar" (ayat 10), "harta yang sesungguhnya" (ayat 11), dan "hartamu sendiri" (ayat 12). Tuhan mengatakan bahwa kekayaan yang kita miliki adalah perkara-perkara kecil. Itu sama sekali bukan milik kita. Kita hanyalah pengelola, bukan pemilik. Jika kita menggunakan harta seolah-olah itu milik kita, berarti kita sedang bertindak seperti bendahara yang tidak jujur. Kita tidak memiliki apa-apa, kita hanyalah pengelola segala sesuatunya. Segala yang kita miliki hendaknya dipakai untuk memenuhi maksud dan tujuan Tuhan. Harta duniawi memiliki nilai utama bila digunakan sebagai sarana untuk melatih kita mengelola "harta yang sesungguhnya" yang menunjuk pada perkara-perkara Kerajaan Allah.
Oleh karena itu, orang yang bijaksana akan menggunakan uang dalam terang kemuliaan kekal. Termasuk di dalamnya, kesempatan untuk melayani Tuhan Yesus yang akan mewujudkan kehendak-Nya di bumi dan memberi pelayanan istimewa di surga nanti.
1 Murid yang bijaksana mengerti bahwa pengelolaan keuangan mencegah keterikatan pada uang.
Pesan ketiga dari Lukas 16:8-13 ditemukan dalam ayat 13: "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon". Dengan kata lain murid yang bijaksana mengerti bahwa pengelolaan keuangan mencegah kita terikat pada uang. Kita dapat melayani Allah dengan uang, tetapi kita tidak pernah dapat melayani Allah dan uang sekaligus. Mau tak mau, kita harus memilih. Kita hanya bisa memiliki satu tuan. Yesus ingin kita mengerti bahwa sesungguhnya kita tidak punya pilihan untuk menjadi tuan bagi Mamon. Pilihan yang kita punyai hanyalah menjadi pengelola uang atau menjadi hamba uang. Dan Mamon selalu berjuang untuk menggantikan tempat Allah.
Tuhan menggunakan gaya bahasa personifikasi yang amat hidup dalam uraian-Nya agar kita mengerti bahwa tak ada pilihan yang setengah-setengah. Allah menguasai harta kita atau harta itu akan menguasai kita. Henry Fielding pernah menulis, "Jadikan uang sebagai illahmu, maka ia akan menggodamu bagai iblis."
Kita semua melayani sesuatu atau seseorang. Kita tak mungkin menjadi murid Yesus yang setengah-setengah. Kita harus memilih kepada siapa kita harus mengabdi sepenuhnya. Jika kita memilih Tuhan sebagai satu-satunya tuan kita, Dia tidak akan pernah menghabiskan uang kita. Pada kenyataannya, Dia mengambil uang kita dan mengubahnya menjadi suatu persahabatan. Sejumlah uang yang kita gunakan untuk berjudi, membayar WTS, atau membeli narkoba adalah uang yang juga bisa kita gunakan untuk membeli Alkitab, menggali sumur, atau mendukung Pekabaran Injil. Jumlah uang yang sama, yang digunakan oleh bendahara yang cerdik untuk menata jalannya menuju masa depan yang mapan, juga bisa digunakan oleh murid yang bijak untuk diinvestasikan dalam persekutuan yang kekal. Perbedaannya terletak pada pengambilan keputusan kepada siapa ia akan mengabdi.
Bagaimana kita memperoleh uang? Apa yang dapat kita beli dengan uang itu? Kapan dan bagaimana kita mengeluarkan uang? Untuk apakah kita menggunakan sumber pendapatan yang kita miliki? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang murid yang bijak ketika berusaha menyamai sosok "tuan" yang dipilihnya ini, seseorang yang bertindak secara meyakinkan dalam penggunaan berbagai sumber pendapatan yang dimilikinya untuk memaksimalkan peluangnya di masa depan.
Ada kisah tentang seorang yang mengalami kapal karam di pulau terpencil tak dikenal. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa ia tidak sendirian. Sebuah suku yang terdiri dari cukup banyak orang mendiami pulau itu bersamanya. Betapa senangnya ia karena mereka memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Mereka menempatkannya di singgasana dan menyediakan segala keinginannya. Ia amat senang, tetapi juga bingung. Mengapa ia diperlakukan bak seorang raja? Setelah kemampuannya berkomunikasi semakin meningkat, ia pun tahu bahwa ternyata suku itu mempunyai kebiasaan memilih raja setahun sekali. Kemudian, setelah masa kekuasaannya berakhir, raja itu akan dibuang ke sebuah pulau.
Kegembiraannya segera berganti dengan kesedihan. Kemudian, ia memikirkan suatu rencana yang cerdik. Di sepanjang bulan berikutnya, ia mengirim anggota-anggota suku itu untuk membuka dan mengolah tanah di pulau lain. Ia memerintahkan mereka untuk membangun sebuah rumah yang indah, memperlengkapinya dengan perabot rumah, dan menanam tumbuhan. Ia mengirim beberapa sahabat yang dipilihnya untuk tinggal di sana dan menunggunya. Lalu, saat hari pengasingan itu tiba, ia ditempatkan di sebuah tempat yang telah dipersiapkan dengan sangat cermat dan telah dipenuhi dengan sahabat-sahabat yang dengan senang hati menerimanya.
Murid-murid Tuhan tidak sedang menuju pulau yang sunyi. Tujuan kita adalah Rumah Bapa. Namun, persiapan kita di dunia menentukan bagaimana kita di sana kelak. Jika kita bijak, akan ada sahabat dan ganjaran kekal yang menanti. Orang bodoh yang menjadi hamba uang akan kehilangan semua harta. Orang percaya yang cerdik melayani Allah dan memiliki investasi dalam kekekalan.
Posted by
tikituka
at
7:32 PM
0
comments
Labels: masalah hidup